Most Viewed Poata

November 22, 2016

Secret #4 (Based On True Story Fanfiction)

Untuk me-refresh part sebelumnya, silahkan baca Secret #3-nya dulu yes~ klik ini :)

***

Secret #4 

Shanghao Ge,
apa kau tahu, aku sempat menyesali kenapa waktu itu aku nggak melanjutkan percakapan kita lewat sosial media itu? Kalau dulu aku melakukannya—memanjangkan obrolan diluar urusan tugas akhirku, hmm, mungkin saat ini ceritanya akan berbeda. Kau tahu, rasa sesal itu hanya muncul sesaat. Jika aku tak berusaha keras mengikhlaskan bayanganmu pergi, cerita ini tidak mungkin pernah terlintas dikepalaku.
Ini ceritaku mengenang tentangmu. Terjadi sekitar Bulan musim semi 2014.
Sore itu aku meminta teman kuliahku selepas kelas terakhir kita pada hari itu. Dia memiliki nama sama dengan Qiu Zixie, tapi berbeda namanya Qiu Caiqin. Biar kuceritakan sedikit tentang dia. Qiu Caiqin merupakan teman satu perjuangan denganku. Aku dan dia sudah sering berada dikelas yang sama. Kemana saja kita usahakan bersama. Caiqin paling tahu perjuanganku demi mendapatkan materi tugas akhirku namun dia masih bukan orang pertama tahu cerita tentangmu.
*                                                                                                                        
“Yanxi, setelah urusanmu di Kampus NTU selesai, selanjutnya jadi menemaniku ke butik dekat sana ya? Aku perlu rok untuk acara graduation.” Caiqin mengulangi rencana kita usai keluar dari area kampus. Rencananya kita akan transit sebentar dirumahnya. Aku menitipkan sepeda dirumah Cai Qin dan nanti kita akan pergi dengan bus.
“Iya pasti jadi dong. Sekalian jalan, kan.” Ujarku mengiyakan. “Buruan jalannya yuk. Nanti keburu hujan.”
Cuaca sore itu sedikit kurang bersahabat. Langit berubah gelap. Semoga hujan belum turun hingga urusan kita selesai sempurna. Kita yang berjalan santai menuju halte bus akan merubah rencana jika tiba-tiba kita berlari dalam rintik hujan yang mulai turun karena ini bukan proses pengambilan gambar drama romantis, mungkin bisa menjadi demikian jika pemeran itu adalah kau dan aku.
Benar saja. Hujan langsung turun dari mulai rintik gerimis hingga deras melanda saat kita sudah berada dalam bus menuju Kampus NTU. Aku dan Caiqin mengamati setiap bulir air jatuh mengenai kaca bus sembati mengobrol, entah apa, aku lupa apa yang kita perbincangkan saat itu. Dan bukan tentangmu. Jangan gede rasa dulu.
Aku membuka ponsel sejenak. Melihat kiriman denah Kampus NTU yang sempat kau kirimkan padaku beberapa hari lalu. Sebagai ganti dirimu yang tidak bisa menemaniku memasuki perpustakaan kampus itu, katamu. Kalau kau tidak ingat, saat musim semi 2014 kau masih mengikuti exchange student program dengan universitas di Singapura.

Ge, apa rasanya bisa mencicipi belajar dinegara orang? Apa rasanya berjalan-jalan menikmati setiap pengalaman dinegara orang?  Membayangkan aku dan kau berjalan-jalan menyusuri setiap objek wisata negara destinasi liburan bersama merupakan lamunan paling gila yang kubayangkan. Bagaimana mungkin kau yang pasti lupa denganku bisa mengajakku mendatangi Negara-Negara Skandinavia—kawasan negara di Benua Eropa? Mustahil dan menggelikan.

Oh iya. Hujan sempat berhenti sebentar ketika aku dan Caiqin turun dihalte terdekat dengan Kampus NTU. Langit Taipei masih bergemuruh meskipun hujan sudah berhenti. Kita mempercepat langkah kita agar segera sampai area kampus sebelum hujan turun kembali nantinya. Salah kita sama-sama melupakan benda bernama payung dan raincoat sebelum berangkat tadi.
*
Seperti yang kulaporkan padamu malam harinya, jika kau mengingatnya, lewat message di facebook, materi yang kucari dalam sebuah buku atas saranmu belum seluruhnya terpenuhi. Pasalnya, eksemplar judul buku yang dimaksud sedang dipinjam orang lain, begitu kata petugas perpustakaan. Rasa sedikit kecewa karena aku menempuh perjalanan cukup panjang namun akhirnya yang menjadi tujuanku belum kudapatkan. Aku berpikir mungkin aku harus kembali suatu hari nanti. Materi yang kudapatkan pada hari itu sungguh belum lengkap. Dalam hati aku ingin kembali kesana saat kamu sudah kembali ke Taiwan, tetapi sangat tidak mungkin menunggu saat itu mengingat waktu kepulanganmu dari Singapore adalah akhir musim panas nanti.
*
“Caiqin, xiexie. Sudah menemani ke Kampus NTU hingga terperangkap hujan dibutik kemarin, tapi malah kamu nggak dapat rok yang kamu mau.” Ujarku berterima kasih sekaligus meminta maaf sudah merepotkannya pada hari berikutnya dikelas sebelum dosen pengajar selanjutnya tiba.
“Ah, iya. Santai saja... aku juga senang bisa jalan-jalan kekampus orang. Kalau soal rok itu, biasalah… aku memang sedikit pemilih barang yang kumau mungkin karena masih pengen mencoba lihat-lihat sana-sini dulu.” Ujar Caiqin seraya tertawa kecil. Tawa kecil yang seolah menandakan sama sekali tidak keberatan meskipun begitu tetap saja aku merasa tidak enak hati. Caiqin  bisa menenangkanku kala sedang tidak enak hati seperti biasanya.
Shanghao Ge, aku rasa persahabatanku dengan Qiu Caiqin sama seperti persahabatan dengan anggota Super Girls yang pernah kuceritakan sebelumnya. Pertemanan intim yang tidak berlandaskan apapun kecuali rasa saling melindungi dan saling melengkapi sama lain. Kalau sudah begitu boleh aku menyebutnya teman sejati?
*

Dimusim panas 2016, Caiqin sudah menikah setelah merasakan dunia kantoran selama hampir lima belas bulan terhitung sejak saat wisudanya. Kabar terakhir yang kudengar, dia sedang mengandung. 

To be continued to Secret #5

Other post from this blog

Kepoin Figur Publik #4: Pebulutangkis Nasional Taiwan Part 2)

Haii, masih ingatkah dengan postinganku sebelumnya yang membahas para pria jago dilapangan bulutangkis ini? Tian Chen-Ge Zi Weii-...