Most Viewed Poata

November 1, 2016

[FANFICTION] Secret #1 (Based On True Story)

Secret #1

Hari itu tanggal 29 Mei 2012. Kalau aku tidak salah mengingat, hari itu adalah Selasa. Hari itu aku memulai hari pertamaku mengikuti kursus bahasa asing diinstitusi itu. Ya, di institusi itu yang telah mempertemukan aku dan kau—orang yang selama ini kusebut “kakak imajiner-ku”. Sejak saat itu entah kenapa bayangmu masih selalu hidup dalam benakku meskipun aku berulang kali mencoba membunuhnya.
Oh iya, kalau kau tidak bisa mengingat saat itu, kini biarlah aku yang kembali membuka memori itu. Aku tidak berharap setelah ini kamu kembali untukku. Bukan itu. Aku hanya ingin bilang, waktu itu aku bertemu seseorang yang telah membelokkan pikiranku sehingga aku bisa melihat dunia ini lebih luas lagi. Tapi, kalau setelah kau baca ini, kamu ingin menemuiku, aku masih bisa kamu temui disana. Ditempat kita pertama kali bertemu untuk belajar bareng.

Hari itu jam enam sore, sudah lewat sepuluh menit—jarum panjang diangka dua lebih sedikit, pintu kelas diketuk dari luar. Beberapa saat pengajar kelas waktu itu menyuruh orang yang masih diluar pintu untuk masuk.
Ni zhidao ma?
Saat kau pertama melangkahkan kaki kananmu memasuki kusen pintu terbuka, sejak saat itulah aku mulai terhipnotis. Hingga kini kalau memikirkan alasanmu itu bisa selalu membuatku terpukau bahkan bayang-bayangmu tidak mudah dilupakan, aku sendiri tidak tahu jawabannya namun satu yang pasti, sejak langkahmu dari pintu kelas hingga kamu memilih satu kursi kosong disebelahku—tepat disebelahku, aku menyukai dirimu. Mungkin juga karena waktu itu ada dua kursi tersisa dan kau datang bersamaan dengan temanmu, jika kalian sudah berteman tingkat sebelum ini, mungkin.
Seperti kelas-kelas pertemuan pertama lainnya. Selalu diawali dengan perkenalan. Sebelum kamu datang, beberapa teman sudah melakukan perkenalan, termasuk aku. Jadi, aku tidak akan heran jika kamu tidak semudah itu mengingatku. Karena kamu sempat terlewatkan momen perkenalanku.
Aku, Chen Yanxi, gadis yang ditahun itu mengambil posisi disebelah kiri kursimu, Wang Shanghao. Begitulah kamu memperkenalkan dirimu. Namamu Wang Shanghao. Saat itu kau berada ditingkat tiga perkuliahan, sedangkan aku masih satu tingkat dibawahmu. Bedanya kau belajar di universitas negeri terfavorit, sementara aku berada di universitas swasta yang katanya masih terbaik dan terfavorit juga versi kampus-kampus PTS. It was really nice to meet you, Shanghao Ge.
Ni bu zhidao?
Hari-hari kebersamaan kita—aku senang menyebutnya dengan kata kebersamaan, membuat aku ingat kembali memiliki semangat mengejar apa yang kumau. Aku menikmati setiap permainan kecil yang dirancang oleh dua tutor kita dikelas. Hanya saat itu aku bisa puas melihatmu meskipun kita berdua berada pada arah berseberangan. Terkadang aku melakukan hal bodoh dan aku tidak bisa memikirkan lagi hal itu sekarang karena terlalu konyol kalau diingat hari ini. Aku tidak bisa menahan rasa grogiku dan mengacaukan segalanya ketika kita berdua dijadikan dalam satu grup kecil pada suatu hari. Dan, apa yang kamu lakukan? Kau hanya tertawa kecil atau mungkin kamu sebenarnya menahan tawa gelak melihat tingkah bodohku kala itu. Entahlah. Aku sudah tidak memperhatikan diri sendiri, aku sibuk menahan malu didepanmu pada waktu itu.
Ah, Shanghao Ge. Seandainya kamu tahu, saat aku menuliskan ini, wajahku sedikit memerah lagi. Aku teringat dirimu kembali.
Kamu ingat? Seharusnya kita bisa bersama dikelas itu selama satu bulan penuh, kan? Kalau bukan karena kamu memutuskan meninggalkan kursus itu karena alasan yang aku belum mengerti. Yang aku tahu saat itu, perasaanku hilang seperti aku kehilangan semangat belajarku ditempat itu.
*
Jiejiemen, hari ini apa ada yang izin ya?” Dulu aku pernah secara tidak langsung menanyakan tentang keberadaanmu kepada hampir seluruh teman-teman kita. Aku hanya ingin tahu saja apa yang kamu lakukan diluar sana, melalui teman-teman kita usai aku menghitung jumlah peserta yang hadir saat menjelang ujian akhir.
“Hmm…” mereka berpikir sejenak sembari saling memperhatikan teman-teman lainnya. Ada aku disitu dan aku ikut mengawasi pandangan mereka—tiga teman perempuan sekelas kita. Ingat Wang Xinling, Yang Chenglin, dan Wang Leiyan? Terserah kalau kamu nggak ingat.
“Wang Shanghao. Tapi sepertinya ada lagi yang lain, cuma memang dari kelas tidak aktif hadir. Cuma Shang Hao yang aktif sampai kehadiran terakhirnya kemarin.” Ujar Xinling Jie menjawab.
“Kehadiran terakhir? Berarti dia nggak ikut ujian ini atau mungkin susulan nanti ya?” Tanyaku dengan nada yang sengaja kubuat ringan seolah aku tidak ingin teman-teman tahu kalau sangat ingin tahu lebih tentangmu.
Wo bu zhidao.” Itu yang terucap dari Leiyan Jie seraya melanjutkan membaca modul pembelajaran. Aku tidak mau menganggu konsentrasi ujianku dengan hal-hal tentangmu. Aku takut semua itu akan menghancurkan mood ujianku. Aku mencoba melalaikan yang kuingin ketahui tentang kemanakah gerangan dirimu.
Hao la, suan le ba.
*
Kupikir sejak pertemuan pertama kita diwaktu musim panas itu. Aku tidak bisa berhenti membayangkanmu. Aku masih sangat ingin tahu kemanakah dirimu berlalu. Kenapa kau bisa secepat itu menghilang dari sekitarku? Aku ingin tahu kenapa Tuhan benar menjadikan pepatah “dipertemukan untuk dipisahkan” sungguh nyata buatku? Aku bukannya merindu. Aku hanya ingin tahu saja.
“Chen Yanxi.. kamu mikir apa?” Tanya Qiu Zixie, teman baikku semasa kuliah. Kita dekat sejak awal masa perkuliahan dan hingga kini—kita sudah lulus kuliah pun masih tetap berhubungan baik. “Wah, kamu segitu terpesona-nya dengan dia ya..” Qiu Zixie menyenggolku ditangga kampus.
Oh, aku baru tersadar. Ketika Wu Dongyan—orang yang sempat kutaksir lewat dihadapan kita.

Shanghao Ge, biar kuceritakan sedikit tentang Wu Dongyan yang bayangannya langsung lenyap seketika aku memikirkanmu. Dahulu sekali, bermula dia mirip dengan seseorang yang kukenal baik ketika disekolah menengah karena itu aku mulai memperhatikan Dongyan dan mencari tahu tentang dia. Hingga kutahu dia bukanlah orang lama itu, aku masih tidak bisa melepaskan pandanganku dari dia. Hanya dari dan untuk dia. Dan hanya Zixie mengetahui isi hatiku pada Dongyan. Tentu saja aku tidak berbohong pada Zixie saat itu. Aku bilang kalau aku tidak melihat Dongyan lewat depanku. Kau tahu? Terhitung sejak musim panas 2012, seluruh perhatianku sudah tidak lagi pada Wu Dongyan. Memori kepalaku lebih sering terisi oleh bayanganmu.

Shanghao Ge, seandainya kamu baca tulisan ini, aku hanya ingin bilang: ini adalah awal, pembuka dari semua ceritaku tentang kamu. Tidak ada lagi Wu Dongyan maupun Zhao Zhiwei—siapa-lah nama terakhir yang kusebut itu. 


To Be Continued to Secret #2

Other post from this blog

[FANFICTION] Secret #9 (Based On True Story)

>> Click here to read what I tell on #Secret 8 << Secret #9 (The last open love letter of the unspoken story) Hai Shanghao...