Most Viewed Poata

January 3, 2017

Secret #5 (Based on True Story Fanfiction)

Cerita sebelumnya- #Secret 4 

Secret #5

Awal musim panas 2014
My graduation was almost coming at that time.
Ge, tahu apa yang paling aku inginkan saat itu? Setelah aku tahu kau sekitar bulan lalu sudah tiba di Taiwan, aku banyak berharap kalau dia akan mencariku—kekampusku, mungkin. Tetapi, yah, aku tahu kalau berharap dengan kata terlalu itu juga tidak bagus. Dan aku merasa dobel kecewa karenanya.
Shanghao Ge, ni zhidao? Sesungguhnya aku mengharapkan kau datang memberiku kejutan ketika aku usai ujian akhir thesisku karena aku tahu kau sudah dikota yang sama denganku. Aku tahu darimana informasi itu? Ada, dari informan yang bisa kupercaya. Wo buyao gaosu ni.
*
Aku tidak jera berkhayal. Aku masih membayangkan dirimu hadir ketika prosesi wisudaku selesai terselenggara. Kemudian kau mencari dan menyelamatiku, hmm, kalau aku masih boleh menceritakan khayalanku, kau datang padaku dan mengatakan sederet kalimat sulit kuterima: wo xiangnian ni. Ya, begitulah kira-kira khayalanku tentangmu dulu. Dulu sekali. Dua tahun yang lalu.
Teman-teman satu jurusanku mengatakan kalau waktu wisudaku dan “orang itu” tidak jauh berbeda. Berbeda satu bulan saja. Ada satu alasan hingga akhirnya waktu wisuda Qiu Caiqin dan “orang itu” diundur. Secretly, ini tidak mengenakkan buatku. Karena Lin Xinlei dan Wang Yiting selalu mengaitkan hal itu kepadaku. Kau tahu sungguh aku malas mendengar tentang “orang itu” lagi. Apalagi aku harus menyebutnya. Karena sewaktu summer camp, XInlei dan Yiting juga berada dilokasi yang sama, maka kedua orang itu tahu tentang Zhao Zhiwei. Dan aku malas membicarakannya sekali lagi.
Shanghao Ge, aku mau cerita sebentar kekesalanku pada Xinlei dan Yiting pada waktu itu. Aku kesal karena mereka pasti memiliki topik pembicaraan tentang Zhao Zhiwei. Sejujurnya aku lebih semangat untuk menceritakan seseorang bernama Wang Shangbao daripada harus menceritakan siapa Zhao Zhiwei.
Zhiwei and I……... we are over. We are done since Winter 2013.

Kembali pada saat wisudaku.
Aku cukup senang pasalnya pada hari itu meskipun tanpa kehadiranmu yang jauh dari khayalanku, tetapi aku masih memiliki teman-teman terdekat yang hadir dan menyelamatiku. Disana ada: Qiu Zixie dan Lin Muyan—pacarnya dan sekaligus temanku juga saat di Summer Camp, salah seorang anggota Super Girls, Hong Yuqing pun turut terlihat oleh sepasang mataku. Aku juga berhasil meluluskan diri bersama teman karibku yang lain: Chen Kuangyi, dan Qiu Caiqin. Sejak awal kita mengerjakan thesis, kita berjanji akan menjalani masa ujian akhir bersama dan lulus pun bersama. Dan kita berhasil mewujudkannya!
Ta zai nali?” Tanya Yuqing sembari memberiku sebungkus kotak kado.
Ni yishi shui?” Lagi-lagi karena pertanyaan ini jantungku tak keruan berdegup. Aku tidak siap kalau mereka terlanjur mengetahui identitasmu yang belum pernah kubicarakan selama ini. Maksudku aku tidak tahu akan mulai darimana.
“Ah, siapa itu namanya…. dulu Hongshih sering mengungkitnya..” Yuqing mencoba memancingku agar bercerita. Hanya ada satu nama orang yang sering ditanyakan oleh Hongshih ketika kita bertemu. Aku yakin Yuqing ingin tahu tentang Zhao Zhiwei.
“If he had died, then it is good.” Ujarku tidak lagi memperdulikan. Ya, seperti yang selalu kutegaskan aku sama sekali tidak ingin lagi membuka album lama yang sudah usang dan rusak berat itu. Sekarang aku lebih ingin kembali memfokuskan diri mempersembahkan sebuah cerita untuk seorang bernama Wang Shanghao yang aku belum tahu ia dimana.
*
Dui le, Shanghao Ge, apa kabar wisudamu? Kembali kudengar setibamu di Taipei, kamu sibuk mengurusi persyaratan administratif yang belum dilengkapi untuk wisuda. Aku tahu kau  menargetkan untuk lulus dan wisuda pada akhir musim gugur 2014. Am I right?
Khayalanku menggila lagi. Aku ingin turut menghadiri hari paling membahagiakanmu saat itu. Ide gila semakin melebih batas normal ketika membaca balasan komentarmu kepada kenalanmu distatus facebook-mu. Iya, semakin gila. Kau tahu saat itu aku sedang menjalani program latihan bekerja pada sebuah kantor manajemen dan seharusnya aku tidak bisa seenaknya keluar kantor sana-sini, tetapi ide tidak masuk akal menguat setiap kuingat tentangmu.
Bisa kubilang, mengambil internship itu alternatif melupakanmu merupakan usahaku yang paling gagal. Bukannya aku berhasil lupa akan dirimu, justru aku membayangkan hal lain. Aku membayangkan jika suatu saat kamu akan menjemputku dari tempat itu, mengajakku berlalu dan memulai hidup baru kita—hanya kita berdua, mungkin diluar negeri. Sungguh hanya kamu yang bisa memainkan khayalanku seenaknya.
Aku tidak tahu apa saat itu kamu sudah punya gadis lain. Hanya informasi itu yang tidak kuketahui dari informanku selama ini. Apa mungkin karena kamu tidak menyebarkan kepada siapapun? Tidak masalah. Aku juga tidak ingin berdosa karena selalu memikirkan orang yang sudah mempunyai orang baru. Karena mulai dari tahap ini aku ingin merubah diriku sepenuhnya. Aku tidak ingin mengingatmu lagi bersama kenangan lalu yang kamu tinggalkan. Jika suatu saat kita bertemu kembali, aku hanya ingin menjadi teman baikmu—menjadi sahabatmu saja sudah cukup bagiku.
*
Aku pun menyibukkan diri dengan aktif dalam kelompok teman yang suka membaca buku. Aku dan sebagian teman writing class, ada Lai Dongxuan, Lai Huiru, dan Ting Jianrui kini membentuk reading community—yang pada tahun 2016 ini kita mengalami perkembangan pesat. Shanghao Ge, aku harus hadir sesekali pada kelompok ini. Lihatlah bagaimana kelompok ini bekerja keras hingga aku mampu melupakanmu sepenuhnya. Karena aku melihat, aku memiliki kesempatan berkenalan dengan orang hebat seperti mereka. 
*
Tahun masehi 2014 hingga 2016, aku bangga pernah menjadi bagian dari mereka. Shang Hao Ge, sama seperti waktu aku menceritakan Super Girls-ku, aku rasa kamu wajib tahu teman-teman penyemangat yang ini. Ge, diantara mereka tidak perlu ada yang kau cemburui berlebihan karena kita semua sungguh menjunjung tinggi rasa pertemanan. Percayalah.
Lai Dongxuan. Kau perlu tahu, teman yang satu ini merupakan orang yang paling percaya diri mencicipi berbagai profesi. Aku tak perlu menyebutkan satu per satu karena terlalu sering ia beralih profesi dan berpindah kantor. Satu yang kupikir tidak mungkin ditinggalkannya adalah kegiatan menulis. Hingga 2016, Dongxuan Ge sudah melahirkan satu judul buku. Aku akan merekomendasikan buku itu untuk kau baca.
Lai Huiru. Kedua teman ini mempunyai nama yang sama. Tetapi mereka dua orang yang berbeda. Dan yang menyatukan kita semua disini adalah kesamaan kita yang sama-sama mencintai buku dan memiliki cita-cita yang sama. Huiru Jie merupakan ahli menelisik sejarah yang kupikir dia terkadang salah alamat dengan menuliskan sebuah novel untuk remaja.
Zheng Nanzhong. Kukenal sejak tahun awal 2013 dalam forum seperti Dongxuan Ge dan Huiru Jie. Kini Nanzhong Ge dan istrinya tinggal di Kota Kaohsiung membuka sebuah bookstore diarea mereka.
Wei Man. Kakak yang satu ini sama seperti Zheng Nanzhong, kembali keasal—di Kota Tainan dan memulai bisnis juga mengembangkan komunitas kita di Tainan. Wei Man sewaktu dikelas menulis itu merupakan kakak tertua dan paling dewasa. Karya Wei Man Jie semasa kelas menulis lebih dulu rilis baru disusul karya Huiru Jie dan Dongxuan Ge. Karyaku? It is still on process.
Ting Jianrui. Junior yang hampir menyerupai Dongxuan Ge. Kelihatannya dia juga mudah mencicipi berbagai hal sebelum menjatuhkan pilihan pada hal yang benar-benar diinginkannya. Justru karena aku sempat berteman dengan para pemberani inilah, aura bersaing positif menjadi yang terbaik dan berani melepas zona nyaman yang kita miliki.
Ini bukan orang terakhir yang akan kuceritakan, tapi memang sementara hanya orang-orang yang bisa kurangkum menjadi sebuah cerita diawal. Ini adalah tentang Xu Mingjie. Huiru Jie membawa temannya pada suatu kali pertemuan kita. Dua-tiga kali Mingjie berbaur dengan kita dan menjadikan kita semua ini adalah satu keluarga besar yang penuh dukungan satu sama lain. Dalam dunia perbukuan Mingjie memiliki wawasan paling luas tentang judul-judul buku ter-harus-dibacanya, serta aku belajar darinya.
*

Oh iya, Shanghao Ge, aku hampir lupa memberi tahumu suatu hal. Selain teman-teman kelompok itu, ada satu orang lagi yang berhasil mengaburkan ingatanku tentangmu. Seorang yang sama sekali tidak kukenal. Sepertinya Tuhan sengaja mengirimkan malaikat-Nya menyamar sebagai seorang pria rupawan dan hadir didepanku saat aku menumpang busway pagi hari menuju kantorku. Aku tidak tahu namanya. Aku tidak sempat berkenalan dengannya namun Na Shuai Gege mampu membuatku penasaran terhadapnya dan pada akhirnya aku bisa tak lagi bergantung pada bayanganmu.

To Be Continued to Secret #6 















Other post from this blog

Kepoin Figur Publik #4: Pebulutangkis Nasional Taiwan Part 2)

Haii, masih ingatkah dengan postinganku sebelumnya yang membahas para pria jago dilapangan bulutangkis ini? Tian Chen-Ge Zi Weii-...