December 31, 2018

A Letter Has Been Replied


Taipei City, December 2018

Dear  Chen Yanxi,

Hai, apa kabarmu? Jangan kaget ya kalau tiba-tiba kau membaca namaku didalam kotak masuk email-mu. Jangan kaget juga bagaimana aku bisa mendapatkan alamat email ini dan mengirimkan pesan ini untukmu. Pasti kau tidak lupa, kan, kalau email-mu sudah tersebar diberbagai media online-mu.

Chen-Meimei, aku sudah membaca seluruh tulisan diblogmu. Aku tidak menyangka kau masih mengingat jelas setiap waktu pertemuan kita, bahkan kau menganggapku sebagai inspirasimu, Sungguh aku tak menyangka ada seseorang menganggapku sangat penting seperti kau yang anggap aku begitu padahal aku sendiri tidak bisa mengingat siapa saja yang ada dikelas pada waktu itu. Aku tidak bisa mengingat: Wang Xinling, Wang Leiyan, dan Yang Chenling; namun berkat tulisanmu aku jadi bisa mengingatmu, Chen Yanxi.

Chen-Meimei, aku cukup terkejut dengan pengakuan perasaanmu terhadapku setelah kita tidak lagi saling lihat secara langsung. Aku terharu membaca ceritamu bagaimana kamu ingin melupakan perasaan itu karena aku yang tidak pernah kunjung kembali lagi ketempat itu dan mencarimu, mungkin? Maafkan aku, Yanxi.

Disisi lain, aku senang kamu masih memiliki tempat—komunitas untuk mengalihkan segala macam pemikiranmu akan hal itu. Yanxi, kamu beruntung memiliki teman-teman yang selalu bisa menginspirasimu. Lain kali, jika masih ada waktu kita bertemu, kenalkan dengan teman-temanmu itu? Berada dilingkup itu rasanya menyenangkan, bukan?

Juga, kenalkanku pada teman-temanmu yang kalian beri nama “Super Girls” ketika kita bertemu nanti. Aku janji, suatu saat aku akan menemuimu agar rasa penasaranmu itu terbayarkan dan menebus kesalahanku yang tidak peka pada saat itu. Kalau kau masih mengharapkannya.

Yanxi, terima kasih kuucapkan juga sudah menjadikanku inspirasi terbesarmu untuk menulis. Sekali lagi sungguh aku tak percaya, diluar sana ada yang menganggapku saat  penting sepertimu yang mengabadikan momen pertemuan kita begitu detail hingga aku jadi terbayang bagaimana situasi saat dikelas itu,

Kamu menjadikanku inspirasi selagi kamu memiliki lingkungan bercerita yang sebenarnya cukup menarik untuk kamu angkat menjadi sebuah cerita. Tetapi, kamu selalu bilang fokus ceritamu adalah aku. Sekarang, aku jadi sangat ingin membaca tulisan yang kamu tuliskan itu. Apakah sudah selesai? Apa boleh aku membacanya? Aku ingin mengenal tokoh lain yang kau bilang kau terinpirasi dari dua mantan orang spesial bagimu. Oh, maaf, apa boleh aku hanya menyebut yang menginspirasimu sebelum aku adalah Wu Dongyan? Yanxi, tidak akan kusebut nama yang satu itu, karena aku tahu kau tidak mau membahasnya, kan? Mungkin sebelum kalian memutuskan pisah, ada kesalahan dia yang membuatmu tidak bisa memaafkan dan menerimanya? Baiklah, aku tidak akan mengatakan apapun lagi tentang itu.

Yanxi, kau berada dimana sekarang? Kau bekerja dimana? Masihkah kau berada di  Distrik Xinyi? Masihkah kau mendatangi tempat itu—tempat pertemuan pertama kita? Apa kau mau kita membuat janji lagi dan sedikit mengulang cerita yang kau bilang belum selesai itu?

Hao la, kusudahi saja surat elektronik ya? Aku menunggu balasan darimu dan memastikan kapan kita bisa bertemu, duduk bersama, dan saling mengulang cerita. Aku ingin mendengar cerita lain yang belum kau ungkap disetiap tulisan blogmu.


Warmest Regrads,


Wang Shanghao



**

Hyaaa.. ini merupakan balasan dari Wang Shang Hao atas surat-surat terbuka yang ditulis Chen Yanxi. Terima kasih, Shang Hao-Ge, sudah merespon baik perasaan dalam surat ni de Yanxi-Meimei. Biar setelah ini Yanxi bisa tidur nyenyak,

No comments:

Post a Comment

Terima kasih sudah meninggalkan komentar/saran/kritik untuk memberiku ide menulis lagi :)

Other post from this blog

Taiwanese Drama: Campus Heroes (2018)

Dajia hao! Yeay! Awalnya kutonton ini karena tokoh lead male -nya cukup luamaa kunantikan kembali dilayar. He was come back! Unfortun...