February 19, 2019

Kenalan Lebih Dalam Sisi Dunia Lain | Book Review: Gerbang Dialog Danur? (Risa Saraswati)


Judul buku: Gerbang Dialog Danur? 
Penulis: Risa Saraswati 
Tahun terbit: 2015 
~cetakan kedua: 2018
Editor: Syafial Rustama 
Penerbit: Bukune 
ISBN: 602-220-150-0


Melepas semua ingatan tentang film layar Danur maupun Maddah, dan juga mencoba tidak bayangin video-video penelusuran maupun tanya jawab si Penulis dengan teman-teman yang berasal dari dunia tak terlihat, itulah yang kulakukan ketika membaca buku seri pertama dari Gerbang Dialog Danur ini. Bisa dibilang terlambat memiliki (duileh, apaan sih ini??), maksudnya terlambat membaca dan mereview novel ini. But, it is okay, karena aku nggak mau memendamnya sendirian, siapa tau kaan ada mau saling share (boleh komen dibawah postingan ini yaa..)

~Baiklah, mari kita lihat apa yang ada dinovel Danur ini..

Pertama sekali, Penulis mengajak kita—pembaca, berkenalan dengan lima sahabat dirinya yang gak bisa dilihat dengan mata normal. Sebut saja, Peter, Hendrick, Hans, William dan Janshen diceritakan oleh Penulis lengkap dengan bagaimana kelima anak Belanda itu meninggal (dengan tragis ditangan pasukan penjajah Nippon) hingga bagaimana kelimanya menjadi sahabat masing-masing hantu cilik dan menjadi teman bagi si Penulis. Haru, kasihan, kesal dengan kekejaman Nippon pada masa itu—karena berani menghabisi anak-anak yang masih super duper polos, semua perasaan itu kurasakan dengan sungguhan seolah mengerti bagaimana perasaan mereka yang masih mengangkut didunia yang tak seharusnya. Ini kukasih cuplikan masing-masing cerita ‘mereka’ yaah..

Check this out..

Disini Penulis, baiklah kita menyebut Teh Risa saja ya?! Teh Risa membagikan pengalamannya sebagai anak yang memiliki kemampuan khusus—berinteraksi dengan mahluk tak kasat mata sedari masa kecilnya. Sebagai anak kecil yang tinggal terpisah dari kedua orang tua dan adiknya pada waktu itu, kala sedang merasa sendiri, sedih, Teh Risa menyendiri di loteng yang ada dirumah neneknya dan darisana ia menjalin persahabatan dengan lima hantu kecil itu—yang tidak mau disebut hantu: Peter, si pemberani; William—yang kataku dia ini si kalem penyuka musik klasik dan biola; Hans dan Hendrick—kelihatannya serupa? ; serta, si kecil Janshen dengan gigi ompongnya. Kelima teman kecil Teh Risa inilah yang selalu melindungi Teh Risa dari gangguan lain, termasuk ketika Teh Risa didatangi oleh hantu kuntilanak bernama Asih.

Namanya sahabat tak melulu berjalan tanpa konflik. Itu juga yang dialami oleh Teh Risa dan kelima teman kecilnya. Ketika Teh Risa tidak bisa menepati janjinya untuk menjadi sama seperti Peter, William, Hans, Hendrick, dan Janshen, kelima teman kecil itu pun meninggalkan Teh Risa sendiri menghadapi serangan-serangan mahluk astral yang menyeramkan, namun ada juga beberapa yang menjadi teman baik seperti hal Peter cs.

Samantha, hantu perempuan kecil yang ditemukan ketika Teh Risa bersama ayah dan keluarganya sedang berkemah ditengah hutan gunung. Samantha sama juga halnya seperti Peter cs yang menunggu kedatangan—pertemuan kembali dengan orang tua dan keluarganya. Samantha bercerita kalau orang tuanya pergi ke Belanda untuk menjenguk opanya sekaligus untuk membawakan obat untuk Samantha. Lalu, mereka tak kembali hingga Samantha meninggal dunia karena penyakit yang dideritanya. Risa tak heran jika ketika bertemu Samantha dengan kondisi bibir yang sudah membiru, layaknya orang habis sakit. Namun disaat itu Samantha justru berpikir kalau orang tuanya sudah meninggalkannya hanya dengan pengasuhnya karena mungkin kondisi penyakitnya yang tak mungkin disembuhkan. Samantha boleh jadi membenci kedua orang tuanya karena hal itu—meninggalkan ia sendiri hingga nafas terakhir terhembus disamping Rumi, pengasuhnya, namun Samantha tetap menunggu orang tuanya hingga mereka menemuinya meskipun Samantha tau kalau mereka bertemu kembali dalam wujud yang sama dengan dirinya kini. Cerita Samantha pun membuat Risa berpikir kalau hidupnya masih lebih beruntung: memiliki keluarga yang lengkap, teman-teman yang melimpah, juga hidup yang penuh dinamika. Kehidupannya sempurna dengan bonus kemampuan yang tak dimiliki oleh kebanyakan orang.

Asih. Sebenarnya namanya bagus lho. Kasih. Seperti namanya, Asih ini diceritakan sebagai cewe—gadis desa yang cantik, yang mencoba peruntungan dengan merantau di Kota Bandung. Asih bekerja sebagai PRT. Pekerjaan itu yang akhirnya membawa Asih pada takdirnya, direbut kesuciaannya dengan seorang yang mengaku akan menikahi Asih, lalu melarikan diri hingga Asih tersadar kalau ia sedang mengandung. Merasa tak ingin membuat malu keluarganya didesa, Asih mengakhiri hidupnya sendiri bersama calon bayi dalam kandungannya. Bertahun-tahun Asih bergentayangan hingga melihat Risa bermain dibawah pohon dekat rumahnya, penyesalan Asih menyeruak. Dulu seharusnya ia bisa memberi kesempatan calon anaknya untuk hidup dan tumbuh. Setelah itu Asih mengikuti Risa hingga kerumahnya. Malam hari ketika ingin mengajak bicara Risa, lima teman Risa seperti Asih datang dan mengusirnya dengan keras. Sebelumnya Risa tersadar kalau Asih sudah pernah dilihat sebelumnya ketika masih bersama Peter CS, dan mereka menggoda Asih dengan melemparinya batu karena lima hantu Belanda menyebutnya: wanita jelek.

Pelajaran lain yang didapat dan boleh diambil sari kebaikannya adalah cerita persahabatan sehidup semati Sarah dan Jane. Yang satu keturunan Asia dan yang lain merupakan keturunan Netherland. Perbedaan itu yang membuat persahabatan Sarah dan Jane ditentang keluarga mereka. Baik Sarah dan Jane tahu kalau keluarga mereka menentangnya, dan bangsa Jane selalu dikatakan buruk, namun Sarah tetap tak bermasalah bersahabat dengan Jane, karena keyakinan dirinya mengatakan demikian. Kobaran api dikamar Sarah ketika Jane sedang bermain bersama melahap seluruh isi kamar beserta dua anak perempuan didalamnya. Didatangi Sarah dan Jane dalam mimpi dan diperdengarkan cerita masa lalu keduanya, membuat RIsa kembali teringat akan kelima teman kecilnya dan berharap persabahatan mereka bisa abadi seperti Sarah dan Jane.

Gangguan mahluk dunia lain tidak hanya dirasakan oleh Risa, melainkan juga anggota keluarga nenek yang lain. Seperti kedatangan Elizabeth yang ternyata menyukai paman Risa. Teddy juga sama, menyukai seorang laki-laki diluar dunia dan hampir mencelakai orang itu. Rumah nenek Risa seperti merasakan terror dari Elizabeth karena merasa dihalangi untuk berhubungan dengan laki-laki yang dicintainya. Pada akhirnya keluarga laki-laki yang diikuti oleh mereka memutuskan untuk pindah, namun tak membawa Elizabeth, Teddy, maupun Sarah yang tetap tinggal dirumah itu. Diceritakan miris mengenai Elizabeth, Teddy, dan Sarah—yang menjadi primadona hantu diareanya, tidak pernah merasakan cinta dengan seorang laki-laki hingga ajal menjemputnya. Dan mereka baru merasakan cinta itu justru setelah kematiannya dan kepada anak manusia.

Cerita dari dua orang yang sudah tak lagi nyata didunia ini yang membuatku tersadar akan pesan Al-Qur’an bahwa: “Manusia boleh berencana, bagaimanapun yang menentukannya adalah Allah S.W.T.”.
Iyes, kurang lebih yang diceritakan kembali oleh sejoli Edwin dan Lidya pada masa itu hanya sebatas merencanakan, beberapa jam menyelenggarakan hari bahagia keduanya, lantas semua berubah tidak indah lagi—cenderung duka. Namun yang menarik adalah bisa dilihat dari tulisan Edwin dalam suratnya bagaimana ia menjaga perasaan tulusnya kepada (hanya untuk) Lidya meskipun disekitar gadis itu banyak sekali lelaki yang juga mendekati Lidya.

Cerita-cerita hanya sebagian kecil (maybe) dari cerita yang sebenarnya dialami oleh penulis buku ini diluar sana. Dengan kemampuannya yang tak biasa itu, penulis tidak hanya mendapat teman dari dunia lain, melainkan juga mendapat terror dari kemampuan yang dimilikinya itu. Dalam bukunya diceritakan, Teh Risa, masih ketika ditinggal oleh Peter cs,  seringkali didatangi—bukan, bertemu dengan hantu-hantu yang menampakkan dirinya seperti bagaimana ia meninggal pada waktu itu. Menyeramkan. Sudah tentu membuat siapapun, termasuk Teh Risa merasa takut. Dan ketika ini terjadi, tidak jarang Teh Risa berharap para sahabatnya itu datang kembali, atau ia bahkan meminta Tuhan untuk menutup matanya agar ia menjadi buta untuk melihat dunia yang berbeda itu, tentu dengan resiko ia tidak lagi akan melihat dan bertemu dengan lima sahabat kecilnya.

Oh, ada satu lagi cerita yang menarik bagiku. Yaitu cerita tentang sosok Ardiah. Kenapa ini menarik buatku? Karena Ardiah ini ditemukan Teh Risa ketika ia sedang melakukan sebuah pekerjaan di Yogyakarta. Yes, di Jogja lho! Dikotaku ini ada cerita menjalin perkenalana bagi Teh Risa dan hantu Jawa, bernama Ardiah.
Bagi orang Jogja pasti sudah tahu, kan pernah bioskop besar dan terkenal pada masanya dulu yang setelahnya habis terbakar? Dan, ternyata Ardiah merupakan korban dari musibah itu. Ardiah berada didalam bioskop itu bersama pacarnya ketika kejadian mengerikan itu terjadi. Dalam cerita itu, Ardiah meminta Teh Risa untuk membantunya untuk menemukan pacarnya dimanapun itu.


By the way, aku menulis review ini sampai jam sebelas malam. Kebayang dong, menulis tentang sesuatu yang sudah nggak ada sendirian. Perlahan aku menoleh kanan. kiri, depan, belakang, takut-takut ada yang ngantol. Hiii.. So, review novel ini kusudahi sampai disini. Semoga nanti akan ada review-review novel lain yang selesai kubaca.

Terima kasih bagi kalian, teman-teman yang menyempatkan mampir ke Social Diary dan membaca review ini.
Zai jian! J

Other post from this blog

#IGrewUpWiThese - Part 1

Dajia hao! Aku kembali! Hehehe… Aku kembali membawa sebuah tema yang akan kubagi menjadi beberapa bagian. Karena tema ini luas bange...