June 16, 2019

Taiwanese Drama: Campus Heroes (2018)


Dajia hao!
Yeay! Awalnya kutonton ini karena tokoh lead male-nya cukup luamaa kunantikan kembali dilayar.
He was come back! Unfortunately without his group-mates. But, it is okay. Let’s see his role once.

Oh iya, aku sempat punya high expectation terhadap drama yang memiliki tema atlet ini, ya boleh kubilang semoga bisa menyaingi Swimming Battle (2017)-yang buatku masih menjadi drama terbaik sepanjang tahun dengan tema atlet. Well, nyatanya… baiklah, kita lihat saja yuk…
Oh iya, Campus Heroes sudah bisa ditonton lewat Viki ya, dengan seratus persen subtitle Indonesia (thanks, subbers!).





Jadi, ceritanya Campus Heroes/Gao Xiao Ying Xiong Chuan/高校英雄膞 ini tentang seorang professional bisboll player, Lu Daxiang, yang gampang emosian,-tidak bisa mengontrol emosinya ketika dalam keadaan terdesak. Maka dari itu, Lu Daxiang dikeluarkan dari tim. Kata Ofisial Tim, sangat fatal jika seorang pemain tidak dapat mengontrol emosinya. Nah, dari situ masalah demi masalah datang menghampiri Lu Daxiang. Dia mencoba mencari pekerjaan lain, tapi begitu sulit baginya karena hampir semua pihak tahu track record kenapa Daxiang dipecat dari tim.

Ditengah kesulitan mencari pekerjaan demi bisa menyambung hidup, Daxiang mendapat informasi lowongan sebagai guru di SMA Feichuan. Awalnya Daxiang ragu karena ia merasa bukan orang yang tepat untuk menjadi guru Kelas 3-8, yang baru ditinggal dinas keluar negeri guru sebelumnya. Selain itu, kondisi sekolah yang kurang meyakinkan juga, banyak murid Kelas 3-8 yang memilih pindah sekolah hingga hanya menyisakan enam orang murid disana: Guo Jiaxin, Xu Liya, Wang Donghai, Cai Qiansheng, Zhao Yinqing, dan Wu Fangdi-yang diawal cerita katanya begitu misterius dan banyak gosip tentangnya.



Photo source: Website TTV


Oh iya, balik ke cerita Lu Daxiang dulu deh. Daxiang yang sempat ragu untuk melamar sebagai guru di SMA Fei Chuan, bertemu dengan kepala sekolah itu. Kepala Sekolah yang sudah renta ini sebenarnya sudah tahu cerita terdahulu Daxiang sebagai pemain bisboll karena dia merupakan cucu pelatih tim Daxiang sebelumnya. Kata Kepala Sekolah, kakeknya dulu sempat mengatakan kalau pemain seperti Lu Daxiang merupakan aset terbaik tim. Yes, Lu Daxiang adalah pitcher terbaik Tim. Ada keyakinan apa yang akhirnya membuat Kepala Sekolah pun merekomendasikan Daxiang untuk menjadi guru Kelas 3-8. Daxiang pun akhirnya menjadi mendaftarkan diri sebagai Guru SMA Feichuan, khususnya untuk Kelas 3-8. 
Dengan anjuran dari Kepala Sekolah, Daxiang mengikuti kuliah Manajemen Emosi dari Guru BK mereka, Tang Kexin. Ia sebenarnya pernah bertemu dengan Daxiang sebelum ia masuk sekolah Feichuan, dan dari sana juga Kexin pun tahu sifat asli Daxiang yang temperamental. Selanjutnya, begitu Kepala Sekolah memberinya tugas untuk memberi pelajaran manajemen emosi kepada Daxiang, dengan pesimis ia menyanggupi perkataan Kepala Sekolah, karena menurutnya merubah sikap seseorang itu sangat sulit dan dibutuhkan extra efforts, tentunya juga dengan kemauan dari orang yang dimaksud. Apalagi sebenarnya Kexin sempat mengalami masa patah hati karena pengkhianatan dari pacar yang sempat menjalani long distance relationship dengannya. Disitulah kemudian Daxiang hadir memberinya penghiburan. Siapa sangka Daxiang justru akhirnya menyukai Kexin.



Photo source: Website TTV (Junio Liu, as Tang Kexin)

Sementara dengan pekerjaan baru Daxiang sebagai guru kelas 3-8, sangat dikejutkan dengan semangat belajar anak-anak kelas yang hanya tinggal enam orang setelah siswa yang lain memutuskan pindah sekolah berdalih tidak ada harapan untuk mendapatkan nilai bagus dan masuk ke universitas pilihan (orang tua) mereka. Namun, masih ada Guo Jiaxin, Xu Liya, Wang Donghai, Cai Qiansheng, Zhao Yinqing, dan Wu Fangdi, yang tetap bertahan bersama dikelas mereka. Ditambah tekanan persaingan juga dari datang Kelas 3-7 bersama guru kelasnya, Lin Kangbao-seorang guru perfeksionis yang mengampu pelajaran Bahasa Inggris. Boleh dibilang, dibawah didikan Guru Lin Kangbao, Kelas 3-7 terlihat lebih tertata baik dibandingkan Kelas 3-8 yang ditinggal oleh guru kelas terdahulu.

Daxiang berpikir keras untuk mengembalikan semangat belajar murid Kelas 3-8 ditengah penolakan metode pengajarannya oleh Kexin, Kangbao, dan Direktur Hai. Ketiganya meragukan Daxiang tidak akan tidak menggunakan kekerasan untuk mengisi Kelas 3-8. Bahkan Daxiang diberikan ruangan terpisah, yakni disebuah gudang olahraga terpisah dari ruang guru lainnya.

Waktu berjalan terus untuk memberikan masa Daxiang buktikan kalau anak-anak Kelas 3-8 bisa mendapatkan nilai sempurna secara perlahan namun pasti. Daxiang membentuk simulasi tim bisboll yang melibatkan keenam siswanya beserta kemampuan yang sebenarnya dimiliki mereka. Menjadikan mereka dalam sebuah tim, cukup membuat keenam orang itu mulai merasa sebagai kesatuan dan saling membutuhkan satu sama lain. Terbukti, menjelang kompetisi Bahasa Inggris, dengan metode belajar yang diterapkan Daxiang mampu membuat kemampuan Bahasa Inggris anak-anak Kelas 3-8 meningkat baik. Meskipun, akhirnya mereka tetap harus kalah dari Kelas 3-7. Wajar saja, Lin Kangbao selalu mengajarkan Bahasa Inggris dengan baik kepada kelasnya karena ia merupakan lulusan dari luar negeri yang tentu fasih berbahasa Inggris.

Peran Daxiang sebagai guru kembali diuji, ketika akan diadakan pemilihan wakil sekolah untuk mengikuti kompetisi matematika. Sebagai pemain bisboll, tentu sebenarnya Daxiang tidak memiliki kemampuan untuk mengajarkan pelajaran matematika kepada murid-muridnya. Di Kelas 3-8 hanya Donghai-murid yang katanya paling pintar matematika inipun sebenarnya juga masih membutuhkan seorang tutor agar ia juga memaksimalkan kemampuannya. Metode yang digunakan untuk membantu menghafal Bahasa Inggris lalu itu tidak bisa diterapkan untuk pengajaran Matematika. Daxiang mengatur rencana agar kelas 3-7 dan 3-8 bisa belajar bersama dan mengurangi persaingan terbuka diantara mereka. Tentu juga mau tidak mau Daxiang harus berdamai dengan Guru Kelas 3-7, Lin Kangbao. Guru yang satu ini juga suka tidak suka harus mengakui metode mengajar Daxiang yang bisa memotivasi semangat anak-anak. Intinya, Lu Daxiang dan Lin Kangbao berdamai karena hal ini. Hingga Guru Kangbao pun terus membantu Daxiang dalam segala hal, termasuk gimana cara mendapat restu dari ibunya Tang Kexin.


Photo source from Web TTV (Wes Luo as Lu Daxiang)


Tentang para guru SMA Feichuan.
Kenapa aku pisah pembahasan tentang permasalahan dilingkup orang dewasa (dalam hal ini para guru dan sekitarnya) dengan konfik diantara para siswa? Karena menurutku, ini menjadi nilai minus serial ini, yang tidak memiliki atau sedikit sekali keterkaitan benang merah antara sekolah, guru, dan siswanya. Kepergian satu guru keluar negeri (entah karena dinas atau resign) meninggalkan Kelas 3-8 hingga kelas itu terombang-ambing dalam semangat belajarnya, disini kurang dijelaskan sih alasan dibalik itu. Eh, ujung-ujungnya Guru George datang dari Korea Selatan dan mengisi Kelas 3-8 yang tinggal enam orang, mensubstitusi peran Lu Daxiang sebagai guru kelas yang baru; hingga mencoba dapatkan kembali Guru Kexin. Kemunculan George pun nggak lama, sekitar tiga episode (itupun nggak penuh), setelah itu script-writer seenaknya masuk-keluarin tokoh itu. Habis munculin orang ketiga yang kesekian diantara Daxiang dan Kexin, Sheng Yalun, yang punya motif tersendiri ketika memasuki SMA Feichuan, dan menjadi wakil direksi yang baru.
Poin plus-nya adalah peran dan motif menghadirkan tokoh Sheng Yalun itu kuat dan bagus, meskipun cara si aktor meranin Sheng Yalun masih terlihat kagok.

Oh iya, yang juga menjadi inti permasalahan adalah pertentangan Ibunya Kexin terhadap anaknya dan Daxiang yang seorang atlet tidak jelas masa depannya, tidak punya materi, disini memang Ibunya Kexin terlalu membandingkan dan cenderung menjodohkan Kexin dengan Yalun. Daxiang mati-matian membuktikan diri kepada Ibu Kexin kalau dia bisa menjadi seperti yang diinginkannya, dan membahagiakan Kexin.

Dasar orang jatuh cinta ya, Kexin tentu sangat percaya dengan Daxiang, itulah kenapa Kexin menolak perjodohan dengan dari sang Ibu dengan Yalun. Meskipun ngeselin, harus diakui, peran Ibunya Kexin sangat berhasil menjadi seorang ibu yang sedikit egois berdalih demi kebahagian dan masa depan anaknya, padahal Ibunya Kexin ini juga cerai dari ayah kandung Kexin. Diserial jelas disebutkan ayahnya yang ada adalah ayah tiri Kexin.

Sebelum membahas jauh tokoh lain, aku review juga tokoh utama wanita, Tang Kexin. Sejujurnya aku kurang nyaman sih dengan karakter yang diperanin Junio Liu ini. Tang Kexin memiliki cita-cita bagus sebenarnya, menjadi seorang kepala sekolah. Tetapi, seolah dia tidak memiliki hasrat ataupun dialog apapun kalau dia benar-benar ingin mencapainya, kecuali dengan Daxiang membicarakan masa depan mereka berdua. Sampai disitu saja, hingga Sheng Yalun datang dan menawarkan sebuah sekolah dipedalaman untuk dia kelola serta menjadi kepala sekolah, asalkan Kexin mau menikah dengan Yalun. Tokoh Tang Kexin digambarkan sebagai wanita mandiri yang kuat, namun terlihat sangat realistis dan menerima apa adanya yang terjadi didepan matanya.

Terus, Lu Daxiang… Chemistery Wes Luo kataku sudah bisa masuk sebagai Lu Daxiang. Mungkin karena aktor ini pernah mendapatkan peran sebagai seorang atlet professional diserial sebelumnya, High 5, jadi ketika Wes Luo memerankan seorang pemain bisbol professional disini, dia tidak terlalu menemui kesulitan. Hanya yang kulihat ketika scene berantem diawal dengan Tang Kexin sedikit belum natural saja, eh, adegan romantis keduanya kurang menggigit (memang ada? Nggak banyak sih…). Namun, bromance Lu Daxiang dan Lin Kangbao itu keren sekali. Lucu, kocak, dan sebangsanya lah...



Photo source from Web TTV (Jie Nanjie as Guo Jiaxin, Ketua Kelas 3-8)

Photo source from Web TTV (Song Wei En as Cai Qiansheng)

Photo source from Web TTV (Xu Wei as Wang Donghai)

Photo source from Web TTV (Xi Weilun as Wu Fangdi)

Photo source from Web TTV (He Mei as Xu Liya)



Photo source from Web TTV (Xiao Zhiwei as Zhao Yinqing)


Tentang para murid-murid SMA Feichuan.
Ini nih, yang menurutku bikin serial yang seharusnya apik ini jadi terlihat minusnya. Karena konflik yang ada diantara anak-anak Kelas 3-8 seolah nggak bisa dibuat lebih sederhana. Dengan banyaknya dan kompleks konflik diantara para murid sedikit mengurangi jatah slot yang seharusnya bisa dipakai menjelaskan cerita tersembunyi dari tokoh-tokoh dewasa (para guru). Seperti, tokoh Wang Donghai terlalu diperlihatkan ia merasakan kesulitan dengan memikirkan penyembuhan ibunya. Kalau dilogika, memang bagus seorang anak berbakti kepada orang tuanya, apalagi diceritakan Wang Donghai tidak memiliki siapa-siapa selain ibuny yang sedang sakit tua.

Dua murid anak orang kaya di SMA Feichuan, Li Jinkuan (Kelas 3-7) dan Guo Jiaxin (Kelas 3-8) termasuk yang mengganggu. Anak orang kaya itu sangat manja, oke, Guo Jiaxin dan Li Jinkuan dapat banget feel-nya disini. Tapi ketika mereka mempunyai orang yang disukai, cara mereka menunjukkan ketidaksukaan terhadap pihak lain didekat gebetannya itu kurang mencerminkan kalau sebenarnya mereka masih dibangku sekolah SMA. Banyak adegan yang rasanya kurang perlu, dan sebenarnya bisa digantikan dengan adegan lain, contohnya menambahkan adegan saat Tang Kexin dan Lu Daxiang berusaha mewujudkan mimpi mereka berdua. Setidaknya biar Tang Kexin tidak terkesan pasrah dengan keputusan ibunya.

Disamping itu, kepolosan Xu Liya, Cai Qiansheng, dan Zhao Yinqing, membuat serial ini menjadi cocok disebut drama school-life. Ada segitiga yang terjadi diantara enam orang Kelas 3-8 tepat sasaran (apa ini? :D). Guo Jiaxin menyukai Wang Donghai, sementara Donghai dari dulu cuma anggap Jiaxin sebagai teman masa kecil saja; sementara Donghai jelas perlihatkan kalau dia suka sama Wu Fangdi—yang katanya aneh (aneh bener sih, masa anak sekolah nggak diceritakan asal usul keluarganya). Tapi Fangdi tahu kalau Donghai disukai teman sekelasnya, makanya Fangdi menjaga jarak dengan Donghai. Ada Li Jinkuan masuk dalam pusaran itu karena Jinkuan ternyata menyukai Jiaxin. Namun, karena Jinkuan bukan termasuk Kelas 3-8, perannya pun terbatas, jadi tetap seperti ada yang hilang. Cerita segitiga ini masih masuk akal dan relevan dengan cerita anak-anak sekolahan.


Tentang cita-cita.
Benar hidup ini harus memiliki cita-cita sehingga kita tahu kemana arah tujuan kita dengan jelas. Semua orang punya cita-cita. Lu Daxiang yang ingin menjadi pemain bisbol professional namun ditengah jalan ia menemui sedikit jalan buntu sehingga passion bisbol itu sedikit harus berputar arah terlebih dahulu. Lu Daxiang justru berhasil membantu anak-anak Kelas 3-8 SMA Feichuan menemukan passion dalam dirinya sehingga mereka bisa menentukan jurusan kuliah mereka nantinya.

Cita-cita Tang Kexin diawal cerita dibicarakan secara implisuit lewat dialog Kexin dan Daxiang, jadi penonton yang kurang menyimak dibagian ini bisa jadi miss info ini. Barulah disebut jelas ketika SMA Feichuan kedatang CEO baru, Sheng Yalun, yang ingin mengambil alih sekolah dan Kexin lewat sang ibu yang menawarkan materi yang tidak bisa diberikan secara langsung oleh Daxiang. Perang terbuka Lu Daxiang versus Sheng Yalun pun terjadi. Oh iya, Tang Kexin ingin menjadi kepala sekolah disebuah sekolah pedalaman. Dan ini yang dijanjikan Sheng Yalun kepadanya. Bangunan sekolah di pinggir kota gitu, sudah siap diadakan kegiatan pembelajaran kapanpun Kexin mau. Tentu Yalun membuatnya tidak tanpa syarat dong. Asalkan Kexin bersedia menikah dengan Yalun. Hal ini didukung seribu persen oleh ibu Kexin.


Poin plus lagi dari inti cerita ini menurutku adalah bromance Lu Daxiang dan Lin Kangbao yang sudah menjadi buddy, dan Lin Kangbao justru membantu Daxiang mengambil hati ibunya Kexin. Lin Kangbao juga membantu Daxiang ketika berkeinginan menjadi pemain bisbol professional kembali, bersama Gao Aini yang setia mendukung Daxiang-Gege-nya.

Drama ini memiliki jumlah episode 16. Seperti drama-drama Taiwan lain, biasanya anti-klimaks ceritanya saat mencapai tiga episode terakhir. Tapi, Campus Heroes ini menampilkan keseluruhan inti konflik di-3-episode terakhir, dan penyelesaian hanya butuh 1,5 episode terakhir. Bisa dibayangkan ditengah-tengah episode itu diisi apa? Surprise!


Alika’s Social Diary Blog’s rating for Campus Heroes: 7,8 of 10.


Photo source from Web TTV (Jack Li as Lin Kangbao, Class Teacher of 3-7, and my favorite character)


Nah, itu tadi semua pandangan dan komentarku buat Taiwanese Drama berjudul Campus Heroes. Drama ini tayang di Taiwan pada 2018, disaluran TTV. Pandangan setiap orang bisa berbeda-beda, jadi bagi yang belum nonton silakan langsung nonton saja, dan yang sudah nonton boleh bagikan komentar kalian dikolom komen dibawah ya. Aku akan senang kalau ada teman berbagi.
Dan, buat teman-teman yang mau tau pandanganku tentang drama-drama Taiwan maupun Mainland, bisa scroll laman blog Social Diary ini.


Ganxie nimen.


***
Alika would says thank you to: 
Viki.com
Drama Wiki 
Website TTV Taiwan
Google

May 17, 2019

Kepoin Pemain Bulutangkis: Ruselli Hartawan


Dajia hao!


Kali ini aku datang kembali dengan membawa hasil kepo setelah menjelajahi dunia maya, karena sudah lama aku nggak membukakan jati diri para pemain bulutangkis, kan? Terakhir aku posting tentang Tim Sudirman Cup tahun 2017 dari Taiwan. Buka link ini  dan ini.
Berhenti sesaat kepon pemain-pemain luar Indonesia, ternyata pemain Indonesia pun masih banyak yang sangat layak untuk dibahas sembari kita lihat setiap performa mereka dipelbagai turnamen. Keep supporting Indonesian Team!


Laman kali ini memilih seorang pemain putri Indonesia dari sektor tunggal.


Photo source: Tempo Online


Tahun 2018 lalu, doi masuk dalam daftar skuad Tim Uber Indonesia yang diselenggarakan di Bangkok, Thailand. Dia juga turut menyumbang satu angka untuk Tim Indonesia ketika dipercaya turun kontra Tim China. Mukzijat? No! Cewek ini memang pemain yang sementara ini punya mental tanding paling bagus dibandingkan deretan tunggal putri Indonesia lain. (eh? :p) Buktinya, digelaran Piala Uber 2018, Ruselli sukses menggiling pemain se-kelas Olimpiade Rio 2016, Li Xuerui, dengan bermain tiga gim: 15-21, 21-19, 21-18.

Hayuk ah, kita lihat perjalanan bulutangkis Ruselli lainnya.


Check this out~

Tahun 2019 ini Ruselli Hartawan belum berhasil mencatatkan prestasi gemilangnya di BWF World Tour. Kebanyakan langkah Ruselli terhenti dibabak 16 besar alias Round 2. Sampai dengan rilis update informasi untuk artikel ini ditulis, turnamen terakhir yang diikuti Ruselli adalah New Zealand Open Serie 300, dimana sebenarnya turnamen ini merupakan turnamen pertama sebagai bahan perhitungan poin menuju Olimpiade Tokyo 2020. 
Di New Zealand, Ce Li Xuerui berhasil revans dari Ruselli dengan mengalahkannya dua set dibabak kedua, 21-16, 21-13. 
Sebelumnya, di kejuaraan bulutangkis kontinental, Badminton Asia Championship 2019, Ruselli juga harus pulang lebih cepat. Dia hanya mampu bertahan sampai babak 16 besar, setelah pemain Korea Selatan, Kim Ga Eun mengalahkannya: 12-21, 19-21. Sementara, Kakak Senior Ga Eun, Sung Ji Hyun sebelumnya juga memupuskan harapan Ruselli untuk melaju ke babak 8 besar di Singapura.

Kendatipun masih sering kalah dibabak awal, Ruselli juga tak memberi kemenangan mudah sang lawan. Seperti yang terlihat ketika Tur Eropa. Di Spain Master 2019, Ruselli memberikan perlawanan pada Han Yue meskipun akhirnya juga harus mengakui keunggulan pemain China itu: 23-21, 18-21, 15-21. Kemudian, di German Open babak kedua sempat memberikan perlawanan sengit atas wakil Singapura, Yeo Jia Min, meskipun diset kedua pun jauh tertinggal: 20-22, 10-21.

Sebenarnya performa Ruselli dari awal tahun 2019 ini bisa dibilang cukup menjanjikan jika menilik perolehan skor didapat dari tiga turnamen mengawali BWF World Tour 2019: Ketika Thailand Master mencapai babak kedua kontra pemain tuan rumah, Busanan Ongbamruphan: 14-21, 19-21. Kemudian di Malaysia Master terhenti dibabak pertama oleh pemain Hong Kong, Yip Pui Yin: 21-19, 18-21, 17-21. Sementara dirumah sendiri, Indonesia Master pencapaian Ruselli lebih baik dibandingkan pekan sebelumnya di Malaysia, yakni bisa mencapai babak 16 besar setelah pemain muda Tiongkok, Chen Xiaoxin menjegal dipertarungan memasuki babak 8 besar.

Apabila melihat torehan prestasi Ruselli kebelakang, sebelum tahun 2019, sebenarnya ia tak melulu terhenti dibabak awal. Mungkin saja dia memang belum in seratus persen memasuki turnamen level dewasa. Prestasi Ruselli kala junior termasuk gemilang dengan beberapa kali lolos hingga babak semifinal dan menjuarai turnamen level international challenge.
Di Finlandia, Finnish Open 2018, Ruselli sukses mendapat medali perak; dan menjadi semifinalist Syed Modi Badminton International Championship, di India.
Tahun kejayaan Ruselli sebagai junior mungkin bisa dibilang tahun 2017. Sederet gelar level junior berhasil dia dapatkan, seperti: Malaysia Internasional Challenge, Singapore International Series, dan Smiling Fish International Series.

Ruselli pernah bermain secara rangkap, bahkan selain main sebagai tunggal putri, ketika Turnamen Australian U-19 Junior Badminton Championship, dia main juga sebagai ganda campuran bersama Hafiz Faisal dan berakhir sebagai juara pertama, kemudian juga bermain ganda putri bersama Lya Ersalita-yang juga bermain rangkap saat itu. Bersama Lya pun, meraih posisi juara pertama ganda putri. Sementara Lya Ersalita sebagai pemain ganda campuran harus puas hanya mencapai runner-up.


Photo source: BWF Fansite


Oh iya, Ruselli Hartawan yang kelahiran Jakarta 21 tahun lalu, tepatnya ditanggal 27 Desember, berasal dari Klub Jaya Raya Jakarta, dan menjadi pemain Pelatnas PBSI tahun 2013. Sayangnya, karena ada suatu hal, Ruselli sempat dikembalikan keklub dipertengahan tahun 2014. Semasa diklub itu digunakan Ruselli sebagai pembuktian pemain yang dapat berkembang dan selalu belajar. Sekalipun saat Smiling Fish 2016, Ruselli gagal menapaki partai puncak setelah dihentikan rekan senegara sendiri sekaligus seniornya, Dinar Dyah Ayustine, PBSI kembali mempertimbangkan Ruselli untuk masuk tim nasional karena dinilai Ruselli memiliki daya juang tinggi ketika dilapangan. Alhasil, Ruselli mengikuti Seleksi Tunggal Putri PBSI 2016. Dan masih bertahan di Pelatnas PBSI hingga kini.

Berikut kutunjukkan head to head Ruselli kontra beberapa pemain tunggal putri elit dunia:
- Vs  Akane Yamaguchi (Jepang): 0 – 3, terakhir ketemu Turnamen Youth Olympic Games 2014 dimenangkan oleh Akane: 6-21, 21-18, 11-21
- Vs He Bingjao (China): 0 -3 , terakhir ketemu Turnamen Indonesia Master 2015 dimenangkan oleh He Bingjiao: 21-14, 12-21, 17-21
- Vs Li Xuerui (China): 1 – 2, terakhir ketemu Turnamen New Zealand Open Serie 300 dimenangkan oleh Li Xuerui: 16-21, 13-21
- Vs Saina Nehwal (India): 0 -1, terakhir ketemu Turnamen Syed Modi International Badminton Championship 2018 dimenangkan oleh wakil tuan rumah, Saina: 21-12, 7-21, 6-21

Sebagai penutup diakhir postingan ini, sampai dengan update ranking BWF per 1 Mei 2019, Ruselli Hartawan menduduki peringkat ke-40 sector woman single, dan menjadi tunggal putri ketiga secara ranking nasional, dibawah Gregoria Mariska Tunjung dan Fitriani. 

Banyak Badminton Lovers meyakini dengan semangat main Ruselli yang bagus ini, bukan berarti kelak dia bakal naik menjadi tunggal putri kedua bahkan pertama-nya Indonesia, jika kedua rekan diatas tidak menunjukkan progres meningkat. Karena rasanya Ruselli dianggap lebih siap menghadapi peta persaingan sektor tunggal putri dunia masa sekarang. Tapi, siapapun pemainnya tentu BL Indonesia yang solid itu tetap mendukung pemainnya dong ya. (Tolong dicatat, berlaku untuk BL sejati ya, bukan BL karbitan *ups* :p)


Photo source: BWF Fansite

Akhirnya, sudah tuntas keingintahuanku mencari tahu Ruselli lebih dalam. Karena, secara pribadi dari zaman doi junior dulu, memang sudah jadi jagoan WS-ku. Sayang saja, kalau potensi yang Ruselli punya salah poles. Keep it up, Indonesia National Team!


Ganxie nimen. J


***
Thanks for the informations




April 5, 2019

Top 7 The Most Beautiful Badminton-Female Players


Dajia hao!

Sekian lama nggak bikin topik badminton, kali ini tangan sudah bergetar untuk menambahkan tulisan ini dan melengkapi tulisan yang pada waktu itu sempat diposting, “The Most Handsome Badminton-Male Players”. Pemain muda dari Taiwan, Wang Tzu Wei berhasil mencuri pandangan dan perhatian secara berlebih, akhirnya doi menjadi pemilik nomor satu!

Nah, itu adalah “Prince”-nya, sekarang aku mau mencari siapa yang menjadi “Princess”-nya. Apakah si Putri akan berasal dari negara yang sama dengan sang Pangeran? Okay, simak yukk..


Aku mulai dengan memilih nominasi dari masing-masing sektor dulu deh ya? Mulai dari Women Singles, Women Doubles, dan pastinya cewek-cewek dari Mixed Double juga diperhitungkan dong...

*DISCLAIMER: Pilihan nominasi ini kuambil berdasarkan 25 ranking BWF masing-masing sektor WS, WD, XD tanggal 1 April 2019 (BWF last update: 28 Maret 2019).

TOP 5 beautiful player badminton Women Singles:
1. Nitchaon Jindapol [Thailand]
2.  Aya Ohori [Jepang
3. Saina Nehwal [India]
4. Tai Tzu Ying [Taiwan]
5. Busanan Ongbamruphan [Thailand]
*dari nominasi Top 10 of 25 rank-BWF Women Singles:
1. Tai Tzu Ying (Taiwan)
2. Nozomi Okuhara (Jepang)
3. Saina Nehwal (India)
4. Nitchaon Jindapol (Thailand)
5. Busanan Ongbamrungphan (Thailand)
6. Aya Ohori (Jepang)
7. Han Yue (China)
8. Ratchanok Inthanon (Thailand)
9. Gregoria Mariska Tunjung (Indonesia)
10. Sung Ji Hyun (Korea Selatan)

Top 3 beautiful badminton player Women Doubles:
1. Rawinda Prajongjai [Thailand]
2. Greysia Polii [Indonesia]
3.  Sayaka Takahashi [Jepang]
*dari nominasi Top 5 of 15 rank-BWF Women Doubles:
1.Greysia Polii (Indonesia)
2.Rawinda Prajongjai (Thailand)
3.Jongkolphan Kittharakul (Thailand)
4.Rizki Amelia Pradipta (Indonesia)
5.Sayaka Takahashi (Jepang)

Top 5 beautiful female badminton player Mixed Doubles:
1. Huang Yaqiong [China]
2. Goh Liu Ying [Malaysia]
3. Tse Ying Suet (Hong Kong)
4. Arisa Higashino [Jepang]
5. Gloria Emanuelle Widjaja [Indonesia]
*dari nominasi Top 10 of 25 female player of Mixed Doubles:
1. Huang Yaqiong (China)
2. Arisa Higashino (Jepang)
3. Goh Liu Ying (Malaysia)
4. Arisa Higashino (Jepang)
5. Lee Chia Hsin (Taiwan)
6. Winny Oktavina Kandow (Indonesia)
7. Tse Ying Suet (Hong Kong)
8. Gloria Emanuelle Widjaja (Indonesia)
9. Isabel Herttrich (Jerman)
10. Christina Pedersen (Denmark)
                 

Okay. Yang daftar nominasi yang diatas itu adalah para wanita yang tidak hanya memiliki wajah cantik, namun juga memiliki kemampuan bermain super baik ketika dilapangan bulutangkis. Dari 13 pemain terpilih masing-masing sektor, aku akan memilih lagi (final ranking) untuk keseluruhan: 7 Wanita Super dari WS-WD-Female XD.

Inilah mereka itu…



NOMOR 7

Image from: bwf-badwminton.com

Posisi ini ditempati oleh pemain tunggal putri dari Negeri Matahari Terbit alias Jepang. Mari, kenalan yuk dengan Jeung Aya Ohori.

Jeung-sist Ohori kelahiran Prefektur Fukushima, Jepang pada 2 Oktober 1996. Pertama kali terjun pada turnamen internasional sejak Singapore Internasional Series 2012. Satu tahun kemudian, Aya Ohori menjuarai Asia Junior Championship 2013 setelah pada laga final mengalahkan wakil Thailand, Busanan Ongbamrungphan: 21-11, 16-21, 21-13.
Berjaya di Kejuaraan Junior setingkat Asia, nyatanya Aya Ohori belum berhasil membawa medali emas dari BWF World Junior Championship. Dari laga itu podium tertingginya mencapai tempat runner-up ditahun 2013 setelah di-final ditaklukkan pemain Jepang lainnya, Akane Yamaguchi: 11-21, 13-21.

Per 28 Maret 2019 ini, Aya Ohori menduduki peringkat BWF dinomor 20. Dilevel dewasa—waktu itu masih menggunakan Grandprix, Grandprix Gold, dll, Aya Ohori pernah mencapai podium tertinggi:  U.S. Open 2017 setelah mengalahkan Michelle Li dari Kanada; kemudian menjadi juara di China Master 2017 setelah mengalahkan rekan negaranya sendiri, Saena Kawakami. Sayangnya, ditahun 2018, belum ada prestasi terbaik Aya lagi yang tampil naik podium juara. Prestasi terbaiknya adalah menjadi babak semifinal di Japan Open Super 750 meskipun akhirnya dikalahkan oleh pemain dari Jepang juga, Nozomi Okuhara. Dan juga mencapai babak semifinal di U.S Open Super 300, akhirnya pun harus menyerah dari wakil tuan rumah, Zhang Beiwen dalam pertarungan tiga set: 22-20, 21-23, 13-21.



those two images are from bwf-badminton.com


NOMOR 6

Image from: bwf-badwminton.com

Pemain berikutnya masih dari Negeri Matahari Terbit. Pemain tunggal puteri ini kelahiran Nara, Jepang, 29 Juli 1992. Per 28 Maret 2018, Jeung-sist Sayaka Takahashi harus turun  satu peringkat BWF kenomor 12, setelah pemain U.S., Zhang Beiwen menyalipnya.
Rasanya tahun keemasan buat Sayaka Takahashi adalah tahun 2012, dimana ia mulai menjuarai berbagai International Challenge tours. Oke, sebut saja menang di Austria, Osaka, Maldives, dan Skotlandia. Kemudian merebut kemengan kembali di Osaka Open International Challenge ditahun 2015 dan 2017.

Menginjak kelevel Grandprix dan Super Series—pada waktu itu namanya. Berhasil menjuarai Australian Open 2013 setelah mengalahkan Nitchaon Jindapol (Thailand): 21-22, 21-10; menjuarai German Open 2014 setelah mengalahkan Sung Ji Hyun (Korea Selatan): 21-17, 8-21, 21-12; ditahun 2017 menjadi juara di Vietnam Open setelah mengalahkan wakil tuan rumah, Vu Thi Thrang: 21-9, 21-14.

Menginjak BWF World Tour Series ditahun 2018, Sayaka lumayan bisa mendongkrak peringkatnya dan menjadi pemain tunggal putri Jepang cukup menjanjikan dikancah internasional. Tertinggi, ia menjuarai Singapore Open Super 500 yang saat difinal ia berhadapan dengan Gao Fangjie (China) dengan skor akhir cukup dramatis: 25-23, 21-14. Sisanya ia menjuarai Swiss Open Super 100, New Zealand Open Super 300, dan Akita Master Super 100.
Tahun 2019, penampilan terbaiknya sejauh ini mencapai babak perdelapan final (Quartel Final) German Open. Saat itu ia dikalahkan oleh rekan senegaranya sendiri, Akane Yamaguchi: 19-21, 20-22.


those two images are from bwf-badminton.com


NOMOR 5

Image from: bwf-badwminton.com

Oh no! Ternyata diposisi kelima ini masih dihuni oleh teman-teman se-negara Aya dan Sayaka. Sungguh pemilihan tidak disengaja!

Baiklah, hal ini membuktikan gadis-gadis Jepang selain punya wajah yang kawaii pun mempunyai skill yang boleh diadu juga. Kalau Aya Ohori dan Sayaka Takahashi merupakan pemain tunggal putri, yang satu ini merupakan pemain dari sektor ganda campuran.

Hmm, kalau aku kasih klu: Finalis All England 2018, pasti sudah ketahuan dong ya siapa dia..

Yes! Dia adalah pasangan main Yuta Wanabe disektor ganda campuran, Arisa Higashino.
Kelahiran Imawamizawa, Hokkaido, Jepang, 1 Agustus 1996, pemain muda Jepang dari Klub Unysis—btw, pemain-pemain Jepang berasal dari klub-klub karena seolah tidak ada pelatnas resmi disana, dan kebanyakan yang jago itu dari Unysis :D. Peraih medali perunggu Asian Junior Championship 2013 dan 2014 (bersama Yuta Wanabe—memang belum bisa diceraikan nih orang :p).

Prestasi tertinggi Arisa bersama Yuta hingga kini adalah menduduki peringkat BWF ketiga dibawah dua wakil China: Siwei-Yaqiong, dan Yilyu-Dongping. Tidak lupa hasil turnamen yang membawa nama Arisa dan Yuta melambung dan meroketkan poin mereka ketika mereka berhasil mengalahkan Zheng Siwei-Huang Yaqiong difinal turnamen Super 1000 dan turnamen bulutangkis tertua, All England dengan pertarungan tuga gim: 15-21, 22-20, 21-16. Meskipun di-All England 2019, Siwei-Yaqiong menggagalkan kembali harapan Yuta-Arisa pertahankan gelar kedua kalinya.


those two images are from bwf-badminton.com


NOMOR 4


Image from: bwf-badwminton.com

Ah! Akhirnya selesai membahas wanita-wanita super-nya Jepang. Mari terbang ke Asia Tenggara dan mendarat di Negeri Gajah Putih, Thailand.

Kita akan membahas salah satu pemain ganda putri Thailand—yang masih menjadi pemain andalan Thailand. So, she is Rawinda Prajongjai.

Rawinda merupakan kelahiran Bangkok, 29 Juni 1993. Saat ini bermain disektor ganda putri dengan partner Jongkolphan Kittharakul. Rawinda pertama bergabung dengan Tim Nasional Thailand sejak 2015, namun turnamen internasional pertamanya adalah Singapore International Series 2013, berpasangan dengan Chongchuwu Pornpawee, dan telah bermain bulutangkis secara professional sejak 2008.

Kelihatannya mulai dipasangankan dengan Jongkolphan Kittharakul sejak tahun 2015 dan menjadi juara pertama di Vietnam Open (Grandprix) 2015 setelah mengalahkan Suci Rizky Andini-Maretha Dea Giovani (Indonesia) dengan skor akhir 21-14, 21-12. Setahun kebelakang, ditahun 2018, Rawinda bersama Jongkolphan berhasil naik podium tertinggi dirumah sendiri, Thailand Master Super 300 berhadapan dengan wakil Indonesia, Anggia Shitta Awanda-Ni Ketut Mahadewi Istarani dengan skor akhir 21-19, 21-17.



those two images are from bwf-badminton.com




NOMOR 3

Image from okezone/sports

Tanpa sengaja lagi memilih dari negara yang sama dengan atasnya. Oke, masih dari Thailand—hanya saja yang membuka tiga besar ini bermain disektor tunggal putri. Kenalkan Nitchaon Jindapol.

Hayoo, siapa yang bisa bantah Nitchaon punya paras yang biasa sajaa? Hehehe.

Jeung-sist Nitchaon bergabung pertama kali dengan Tim Nasional Thailan sejak 2009 dan turnamen internasional pertamanya adalah Vietnam International Challenge 2009. Kemudian menjuarai Canada Open 2013 setelah mengalahkan Yip Pui Yin (Hong Kong): 21-18, 21-16. Dua kali menjadi juara di Bitburger Open, yakni tahun 2013 setelah mengalahkan Linda Zechiri, wakil Bulgaria dengan skor 21-13, 21-13; kemudian ditahun 2017 mengalahkan Zhang Beiwen (U.S.A) dengan skor akhir 21-17, 15-21, 21-19. Namun harus puas menjadi runner-up Bitburger Open 2016 setelah kalah dari He Bingjiao (China) difinal.

Ditahun 2018 lalu menjadi juara Thailand Master Super 300 setelah mengalahkan rekan satu negaranya, Pornpawee Chochuwung dengan skor akhir 21-18, 21-11.  Nitchaon merupakan kelahiran Bangkok, 31 Maret 1991 mempunyai ambisi untuk membela negaranya di Multievent Olimpiade. Let’s see!



those two images are from bwf-badminton.com



NOMOR 2

Image from: bwf-badwminton.com

Masih dari Kawasan Asia Tenggara, nggak jauh-jauh dari Thailand. Yak, kita menuju Malaysia. Klu-nya adalah Peraih Perak Bulutangkis Olimpiade Rio 2016.

Siapa sih yang nggak tahu nama Goh Liu Ying—partner ganda campuran Babang Chan Peng Soon,  yang suka bikin baper para badminton lovers dengan chemistry keduanya baik on-court maupun off-court. Itulah kenapa aku bingung apa yang harus kutulis dulu tentang Liu Ying-Jie ini. Dari awal Liu Ying berpasangan sama Babang Peng Soon memang sudah langsung dapat klik-nya, karena hasilnya bagus sih—kalau bukan juara pertama, ya runner-up gitu.
Raihan gelar Liu Ying/Peng Soon bisa dilihat disini: silakan buka ini

Yang kukagumi dari Liu Ying, meskipun baru turun dari meja operasi akibat cedera lutut sebelum Olimpiade Rio 2016, di-event itu Liu Ying dan Peng Soon bisa main maksimal sampai babak final dan menghadiahi Malaysia medali perak—yang kata sumber tertulis ganda campuran bulutangkis Malaysia bukanlah nomor andalan di-multi-event itu. Dan yang bikin terharu lagi adalah ada satu-dua pertandingan setelah momen Olimpiade Rio—sebelum Liu Ying fokus penyembuhan cederanya di Jerman, chemistry dua pemain itu teruji ketika Liu Ying menahan cedera ditengan pertandingan berlangsung dan Peng Soon meng-cover permainannya baik sekali meskipun setelah itu mereka harus kalah juga. Kebetulan ini ditayangkan di-tv ya, jadi kayanya semua yang nonton pun terenyuh. So sweet.

By the way, Liu Ying kelahiran Malaka, 30 Mei 1989. Usia yang sudah mapan, tapi belum terdengar seperti akan menikah dengan sang kekasih padahal Peng Soon saja sudah punya tiga anak yang lucu-lucu.

Liu Ying kan sempat hampir sepuluh bulan-an ditahun 2007 menjalani treatment di Jerman, disaat itu Peng Soon sementara bermain dengan Cheah Yee See, hasilnya juga nggak jelek sekali sih. Mash bisa menembus Top 25 rank world BWF. Nah, sekembalinya Liu Ying ke Malaysia dan BAM setelah selesai menjalani treatment, Peng Soon dirujukkan kembali dengan Liu Ying, dan Yee See dicarikan partner baru. Memang butuh waktu sihuntuk mengembalikan kejayaan mereka menembus Top 10 lagi. Nyatanya, kerja keras mereka ditahun 2018 berbuah manis, mereka berhasil melaju hingga BWF World Tour Final, dengan bekal juara di Thailand dan U.S.A, dan dua kali runner-up di Australia dan Indonesia.

Awal 2019 ini Liu Ying dan Peng Soon memilih keluar dari BAM, dan menjadi pemain profesional. Thailand Master 2019 menjadi kemenangan pertama mereka setelah menyandang pemain profesional. Semoga saja Malaysia masih memanggil pasangan ganda ini buat perkuat Tim Sudirman Cup Malaysia. 


these two images are from Google Images


those two images are from bwf-badminton.com




NOMOR 1

Image from: bwf-badwminton.com


Hello, The Most Beautiful Female Badminton Player from China!

Yak! Sekarang sudah sampai diujung, dari Malaysia kita terbang lagi ke Asia Timur, mendarat di China.
Ini nih pemain ganda campuran yang punya tangan ajaib, mau dipasangkan dengan siapapun pasti cepet berjaya. Sayangnya teori itu tidak berlaku buatnya disektor ganda putri. Meskipun baik, tapi tidak sebaik di-Mixed Doubles.

Jadi, Tim China punya pemain yang memiliki tanggal ulang tahun sama tanggal 28 Februari lho. Ada Shi Yuqi (tunggal putra), dan Huang Yaqiong (spesialis ganda campuran). Bedanya hanya tahun lahir saja. Huang Yaqiong kelahiran 28 Februari 1994 di Zhejiang, China.

Pemain ganda yang masih betah duduk di Top 1 BWF-rank sektor ganda campuran bersama Zheng Siwei. Eh, tapi sebelumnya dengan mantan-nya yang dulu, Lu Kai, Yaqiong juga pernah sampai Top 3 sih. Makanya kubilang ajaib, kan? Soalnya dia juga pernah bermain di-ganda putri bersama Tang Jinhua dan Yu Xiaohan, hasllnya juga not bad-lah, masih dapat diperhitungkan dipeta persaingan ganda putri dunia bersama Cheng Qingchen-Jia Yifan, teman se-negeranya.
Bersama Lu Kai juga pernah menyabet juara All England 2017 yang saat itu mengalahkan pasangan wakil Malaysia, Chan Peng Soon-Goh Liu Ying. Setahun kemudian, diturnamen yang sama, bersama partner barunya, Zheng Siwei justru digagalkan oleh Yuta Watanabe-Arisa Higashino. Namun membalasnya ditahun 2019 ini.

Bisa dibilang sejak 2018 lalu hingga tahun 2019 ini (pasca pensiunnya Liliyana Natsir), yang menjadi saingan terberat Yaqiong di-ganda campuran bersama Siwei adalah teman negaranya sendiri yang kini duduk ditahta nomor dua, Wang Yilyu-Huang Dongping. Pertandingan kedua pasangan ini selalu jadi menarik meskipun terkadang hanya memerlukan dua set saja, Siwei-Yaqiong menang. Tetapi perjuangan demi satu poin yang bikin jantung pun ikut berpacu.


Image from Google Images




those images are from bwf-badminton.com



Yes! Akhirnya selesai merangkum prestasi cewek-cewek cantik diatas. Meskipun tidak ada pemain Indonesia dalam Top 7-nya, tapi tetap bisa menunjukkan emansipasi wanita kan ya? Sekaligus menunjukkan disamping pria hebat ada wanita hebat juga. Terbukti nomor satu dan dua-nya adalah pemain putri ganda campuran.

So, para Wanita Hebat tetaplah jadi wanita kuat dan dapat diandalkan dalam segala keadaan. Ingat kata Teh Rosa dalam lagu “Hey Ladies”: kalau wanita sudah beraksi, dunia hancur. Itu artinya, kita sebagai wanita punya kemampuan nggak kalah dengan laki-laki.



Terima kasih untuk kalian yang sudah menyempatkan mampir diblog sederhana ini ya. Setelah ini aku akan kepoin pemain bulutangkis. Tungguin ya.

Ganxie nimen! J


**
Credits:
Thanks to:
tournamentsoftware.com
badminton-bwf.com
wikipedia.com
google.com
Google Images
okezone.com

Other post from this blog

Taiwanese Drama: Campus Heroes (2018)

Dajia hao! Yeay! Awalnya kutonton ini karena tokoh lead male -nya cukup luamaa kunantikan kembali dilayar. He was come back! Unfortun...