Most Viewed Poata

March 17, 2010

Di Rumah Tua

Cerpen ini dapet pujian postif banget dari gw intra sastra gw ..

Suara kicauan burung menyambut datangnya pagi hari. Suaranya menenangkan hati siapa saja yang mendengarkan. Di cottage yang dikelilingi oleh hutan yang sangat tidak menyeramkan, empat orang pejantan sedang mengecek dua mobil, yang akan mereka gunakan untuk kembali ke Jakarta. Saat itu, mereka telah menikmati akhir pekan mereka. Di salah satu kamar, empat orang gadis, sedang membereskan barang-barang mereka. Tentunya sambil mengobrol. Obrolannya mereka tak jelas, dari mana berawal dan kapan berakhirnya, Tidak lama setelah Lyra, Poppy, Carol, dan Celia selesai dengan pembenahan masing-masing, Kevin, Sandy, Nico, dan Soni memanggil mereka untuk segera balik ke Jakarta untuk menjalani rutinitas seperti biasa.

Setelah lumayan jauh dari cottage tempat mereka menginap. Mobil yang ditumpangi Lyra, Poppy, Carol, dan Celia mulai bermasalah. Tiba-tiba, mobil itu langsung berhenti dipinggir hutan. Poppy yang memegang kendali, langsung panik ketika mencoba menyalakan kembali mobilnya. Hasilnya nihil.

” Ada apa? ” Tanya Lyra yang ada di kursi sebelah sopir.
” Nggak tau nih.. Tiba-tiba aja mati.. ” Ucap Poppy, sambil terus mengontak mobil
” Kalo gitu,, biar aku telepon Nico dulu. Biar mereka balik lagi. ” Ucap Carol sambil mencari HP di tasnya untuk memberi tahu keadaan mereka pada pihak cowok.

Setelah menunggu sekitar sepuluh menit, para pejantan datang dari arah yang berlawanan. Setalah mereka turun dr mobil, Lyra langsung menghujani dengan protes-protesnya.

” Katanya udah dibenerin.. Tapi, kok jadinya malah kayak gini? Kalian ini serius nggak sih?? ” Semprot Lyra kesal
” Tadi udah bener tau!! Udah dicoba Soni lagi.. ” Kevin mencoba membela diri, ketika ia mulai buka kap mesin mobil dan Soni menyalakan mesin.
” Heemm,, kayaknya ada berniat sesuatu ke kalian. Sini.. ” Pekik Nico seraya memanggil teman-temannya ke ban belakang mobil.
” Ulah siapa lagi ini? Udah ban dikempesin, bensin diambil, eh, yang terakhir rem di-blong-in. ” Omel Kevin heran
” Rem-nya blong?! Kok aku nggak ngerasa ya?! ” Tanya Poppy heran
” Ya iyalah. Wajar aja kalo nggak ngerasa, dari tadi kan jalan nggak ada waktu untuk nge-rem. ” Terang Nico dengan jelas.
” Terus, kita mau apa sekarang? Mana cottage-nya udah jauh lagi.. ” Keluh Celia
” Setidaknya disekitar sini ada rumah atau lebih disebut gubuk ya?! Tuh! ” Nico menunjuk ke arah rumah kecil di arah seberang mereka.
” Nico benar! Kita nggak mungkin bermalam dimobil, lagian paling maksimal mobil jadi besok. Jadi kita harus nginep disana dulu. ” Kevin menyetujui pikiran Nico
” Allright. No problem. Let’s go there. “ Sahut Lyra, Caro, Celia, dan Poppy setuju, sambil mengambil tas masing-masing dari dalam mobil.

Selanjutnya, mereka berjalan menuju ke arah rumah yang berada ditepi danau itu. Ditengah hutan dimana mereka berjalan, mereka mendengar seperti seseorang berteriak meminta tolong. Hanya saja, mereka menganggap itu hanya angin lalu. Tetapi, suara itu makin lama, makin terdengar jelas.

” Tolooong.. Toloong.. ” Seorang anak belari kearah mereka, dan menabrak Sandy sampai jatuh. Carol membantunya bangun dan Soni membantu Sandy bangun.
” Kak, tolong sembunyiin aku. ” Pinta anak itu. Ia sangat gemetaran karena ketakutan.
” Kamu kenapa? Ada yang ngejar? ” Tanya Celia. Kirana – gadis kecil itu, hanya mengangguk takut. Dua orang berpenampilan seperti preman, mendekati mereka, dan bicara baik-baik pada Kirana. Kemudian seorang diantara mereka, yang bernama Bima, berbisik pada temannya yang bernama Gobir. Gobir mengangguk seperti menyetujui sesuatu.

” Kalian mau kemana? ” Tanya Gobir raman kepada Kevin dkk
” ngg,, gini.. Mobil kita mogok, kita bermaksud numpang bermalam disini. Soalnya nggak mungin hanya dalam hitungan menit, ” Terang Kevin
” Oh, begitu. Tentu saja boleh. Kalau kalian tak keberatan menginap di rumah sekecil itu. ” Bima merendah.
” Tidak masalah. Terima kasih. ” Ucap Nico sopan.
” Mari. ” Ajak kedua orang itu. Mereka mulai jalan. Dengan Kirana masih bersama Carol. Lyra merasa aneh dengan kedua orang itu, sehingga ia masih tetap tak bergerak dari tempat semula. Kevin menghampiri dan menasihatinya.

” Udah, ikut aja. Nggak ada jalan lain lagi. Ayo. ” Paksa Kevin.
” Tapi, .. Aku merasa ada yang aneh dengan mereka. Tapi, aku nggak ngerti.” Ujar Lyra tak yakin
” Mungkin Cuma perasaanmu aja. Udahlah. Nggak apa-apa. ” Sekali lagi Kevin meyakinkan Lyra, kemudian menggandengnya, mau tak mau Lyra mengikutinya dengan lunglai.

Sementara itu perasaan was – was juga dialami oleh Poppy. Setelah ia menyerahkan kembali Kirana ke tangan dua orang itu. Ia mulai berbicara ke Nico tentang firasat buruknya. Tapi, setali tiga uang dengan Kevin, Nico pun hanya meyakinkan Poppy saja kalau itu hanya perasaannya saja.

” Nah, silahkan istirahatlah lebih dahulu, Pilihlah kamar sendiri. ” Ucap Gobir pada 8 remaja itu.
” Kirana, kembali ke kamar. Teman-temanmu udah nunggu kamu. ” Ucapnya pada Kirana. Kirana berjalan menuju pintu rumah, namun ia sempat memberi isyarat ke Carol cs bahwa ia sangat ketakutan,, bahkan sangat.
” Kirana.. ” Ucap Carol lirih, ia merasa kasihan pada gadis kecil itu.
” Kalian liat kan, ada something wrong disini. Kirana udah nagsih isyarat.” Lyra makin yakin dengan apa yang ia rasakan. Tetapi, tetap nggak ada yang percaya, selain Carol.
” Sudah.. Sudah.. Sekarang, kalian masuk sana. Kita mau balik lagi ke mobil. Biar cepet bener.. ” Ucap Soni, menengahi perdebatan perasaan.
” Iya. Kalian masuk aja. Jangan pada gegabah. Apalagi kamu, Ra, kamu kalo udah penasaran, bisa bahayain semuanya. ” Ucap Kevin, diperuntukkan untuk Lyra.
” Kok aku? ” Pekik Lyra heran,
” Ya udah, sana. Biar mobil cepet bener. Cepet-cepet kita pergi dari sini. ” Lanjutnya sedikit kesal.

Sepeninggal, para pejantan. Empat cewek itu, mulai berpencar. Mencari suatu kepastian. Poppy dan Celia memasuki rumah, mencari tahu apa yang terjadi di dalam. Sementara Lyra dan Carol mengitari halaman rumah, dari depan hingga belakang. Di belakang rumah itu, Lyra dan Carol mendengar Gobir sedang berbicara di telepon. Ia memanggilnya dengan sebutan ”Bos”. Lyra pikir, mungkin orang itu yang menyebabkan keanehan yang ada disini.

” Baik, Bos. Besok malam, akan kami berangkatkan. Plus, dua orang tambahan dari kami. Ini yang nggak diduga-duga, ada yang datang dengan sendirinya. ” Ucap Gobir pada seseorang yang ada diseberang sana.
” Bagus itu. Kenapa harus menunggu sampai besok? Malam ini saja. ” Tanya bos mereka
” Sedikit ada penganggu. Maka, harus kami bereskan dulu. ”

” Ra, denger itu?! Mereka itu penculik. ” Bisik Carol pelan
” Bukan Cuma penculik, tapi germo juga. Balik yuk, kita bebasin anak-anak itu. Mereka pasti udah lama banget disini. ” Ajak Lyra. Ketika Carol akan berbalik badan, ia tak sengaja menginjak kaleng cat kosong, sehingga menimbulkan bunyi gaduh. Gobir langsung menoleh ke arah suara, dan mengawasi setiap pandangan. Kemudian, ia melihat ada bayangan yang berlari, ia mengejarnya. Lyra dan Carol terus berlari saking takutnya. Mereka lari hingga lupa arah, Di tengah hutan, Gobir berhenti mengejar, dan hanya tertawa, melihat kedua gadis itu lari lupa arah.

Jam sudah menunjuk pukul 6 sore. Mobil telah selesai diperbaiki dari sejam yang lalu. Rencananya mereka akan langsung pergi. Tapi, mereka masih menunggu Lyra dan Carol yang juga belum keliatan. Mereka sudah mencari kemana-mana, tetap tidak ada. Mereka mencari ke keluar rumah, kecuali Celia, yang memang lagi nggak fit. Kemudian. Poppy pamit kembali kerumah itu duluan, ketika sedang mencari Lyra dan Carol. Ia khawatir pada Celia yang sendirian. Akhirnya ia kembali lagi.

” Hmm,, mau aku temenin baliknya. ” Tawar Nico sebelum Poppy menjauh dari mereka
” Nggak usah deh.. Kamu bantuin mereka aja. Aku berani kok. Lagian kan, belom jauh. ” Elak Poppy. Lalu, ia berjalan ke arah rumah.

Terdengar suara langkah mendekati kamar, tempat Celia beristirahat. Ia membuka pintu kamar perlahan, kemudian membawa Celia pergi. Poppy yang baru datang, kebingungan mencari Celia. Ia mencari ke kamar tidur, nggak ada,, kemudian ke kamar mandi, juga nggak ada. Terakhir, ia mencari ke seluruh pelosok rumah, hasilnya nihil.

” Heraann.. Baru ditinggal beberapa menit,, masa udah nggak ada?? Kemana anak itu?? ” Gumam Poppy. Tiba-tiba dari arah belakang, ada yang membius Poppy hingga pingsan, kemudian membawa tubuh Poppy pergi.

Kevin, Soni, Sandy, dan Nico tampak udah mulai kelelahan, dan akhirnya memutuskan untuk menyudahi pencarian. Dan berpositive thinking, kalo mereka pasti udah balik dengan sendirinya.

” Udahlah. Kita sudahi aja, Siapa tau Lyra sama Carol udah balik ke rumah. ” Ajak Soni
” ... ”
” Vin, aku tau perasaan dan kekhawatiranmu. Tapi, jangan lupain yang lain dong.. Kita masih punya temen lain yang masih selamat. ” Nico menenangkan.
” Iya, ya udah balik yuk.. ” Ajak Kevin lesu.

Setelah mereka, balik ke rumah itu, mereka kaget, Poppy dan Celia juga udah raib dari sana. Mereka jadi tambah bingung, apa yang terjadi dengan para cewek.

Sementara itu, Lyra mulai kelelahan berjalan. Mana udah malam. Akhirnya, Lyra dan Carol mutusin istirahat dulu. Mereka tertidur di bawah pohon yang rindang. Pulas sekali. Pagi harinya, mereka melanjutkan perjalanan. Mereka menyusuri jalan yang berpalang ke arah sisi danau. Sesampainya di danau, mereka melihat ada jalan turun. Seperti ke sebuah lorong. Mereka memberanikan diri masuk. Disana banyak juga lorong-lorong kecil, yang diujung ada sebuah ruangan!! Rasa penasaran membuat mereka ingin membuka pintu kamar itu, yang sepertinya pintu otomatis.

” Carol, itu dibelakangmu ada tombol. Coba tekan. ” Suruh Lyra.
Carol menekan tombol itu, dan pintu terbuka. Disana banyak sekali anak-anak. Kemudian, mereka mendengarkan cerita dari salah satu anak. Sekarang mereka mengerti apa yang terjadi di sekitar situ.

” Kalian tunggu disini ya. Kita akan cari temen-temen kita dulu. Nanti kita balik lagi. ” Ucap Carol
” Lyra. Carol. ” Sapa seseorang dari belakang mereka.
” Celia?! ” Pekik Lyra dan Carol bebarengan
” Kalian sedang apa disini? ” Tanya Celia pada keduanya
” Justru kita yang mau tanya, kamu sedang apa disini? ” Lyra membalikkan pertanyaan.
” Aku sama seperti mereka. ” Jawab Celia
” Ya udah, kita balik yuk.. Aku tau, jalan keluar dari sini. ” Ajak Celia
” Ayoo. Kita bongkar kedok ,mereka. ” Balas Carol

D seberang danau, dekat rumah yang kecil itu, Kevin termenung sendirian. Membayangkan seorang sahabat, yang sangat ia sayangi, Lyra. Tiba-tiba, ia melihat diujung danau seberang, ada beberapa orang yang sepertinya sednag mencari sesuatu. Lama ia memandangi, akhirnya ia sadar, kalau itu teman-temannya. Kevin dengan cepat menaiki boat yang terparkir disebelahnya. Sesamapainya di ujung danau sana, ia menghampiri tiga gadis itu. Dan langsung kembali ke seberang. Diperjalanan mereka mencoba menganalisis setiap kejadian yang bermunculan.

” Jadi, ini smuanya dalangnya adalah Tante Mira, yang punya cottage itu?” Celia mencoba meyakinkan sekali
” Awalnya aku juga nggak percaya. Tapi, setelah Sandy tau, yang sebenarnya juga, aku jadi percaya. ” Ucap Kevin
” Tante Mira kan baik banget, Eh, tapi ternyata, baiknya karena ada maunya. ” Sahut Lyra sedikit kecewa
” Nggak usah kecewa gitu.. Orang yang terlalu baik, juga harus dicurigai pula kan?! ” Ujar Kevin.

Sesampainya di depan rumah, mereka langsung merembuk, untuk mencari jalan keluarnya, Lama-lama mereka menyadari ada yang kurang. Apa itu? Oh iya, Poppy!! Mereka hampir lupa kemana Poppy.

” Jangan-jangan Poppy masih disana. ” Tebak Celia
” Iya. Pasti. ” Lyra mengiyakan
” Baiklah, kita balik kesana lagi. Tapi, yang kesana, Carol, Nico, dan Sandy. Yang lainnya, ikut aku ke mobil, Jadi, kita ketemu dimobil aja, ” Ujar Kevin memberi komando. Semua langsung bubar, menjalankan tugas masing-masing. Lyra, Kevin, Celia, dan Soni kembali ke mobil bersama Kirana dan 3 orang anak lainnya. Sebagai korban, kalau mereka langsung lapor ke polisi.

Satu jam menunggu, mereka berkumpul di mobil. Dan langsung jalan ke Jakarta. Menempuh perjalanan sekitar 2 jam-an, mereka sampai di Jakarta. Tempat yang pertama mereka datangi adalah Kantor Polisi. Mereka melaporkan apa yang mereka alami. Awalnya polisi tidak percaya, walau mereka udah bawa lima orang anak korban penculikan. Sampai pada akhirnya, Lyra baca tulisan ”WANTED” yang fotonya adalah Tante Mira!!

” Terserah Anda kalau tidak percaya. Tapi, tolong selidikilah dulu. Anak-anak disana, sangat mengharapkan pertolongan. Sebenarnya, saya kecewa dengan kinerja polisi, yang nggak pernah percaya laporan remaja-remaja seperti kami. ” Ucap Celia tegas. Dan polisi pun mau, untuk menyelidiki hal itu. Para polisi, menggali banyak informasi dari Kirana dkk. Dan mengantarkan mereka pulang.

Beberapa minggu kemudian, sekelompok buronan yang dipimpin Almira, tertangkap. Dan para korban penculikan dipulangkan. Semua berterimakasih pada Lyra dkk.

” Akhirnya, mereka selamat. Aku lega dengernyaa.. ” Ucap Celia pada Soni
” Berkat kamu juga. Kamu berani ngomong sama polisinya. Bangga deh, sama kamu. ” Puji Soni
” Nggak juga. Aku juga pernah ngalamin kayak mereka, walaupun cuma sebentar. ” Ucap Celia merendah
” Ehem.. Berduaan muluu.. yang lagi seneng-senengnyaa.. ” Ledek Lyra yang datang bersama Kevin, Carol, Poppy, Sandy dan Nico
” Siapa bilang berdua?! ’Kan kalian dateng, rame-rame dong.. ” Balas Soni santai, yang disambut oleh tawa semuanya
” Tapi, kejadian kemarin bener-bener berkesan. Yang cowok jadi punya waktu buat nunjukin keseriusannya ke inceran masing-masing... ” Ucap Kevin, sesaat setelah tawa mereda
” Curhat nih, ceritanya.. ” Sambung Sandy, sembari melirik ke Kevin dan Lyra. Dan wajah Kevin langsung memerah. Semua dibalas tawa bahagia.

Other post from this blog

Kepoin Figur Publik #4: Pebulutangkis Nasional Taiwan Part 2)

Haii, masih ingatkah dengan postinganku sebelumnya yang membahas para pria jago dilapangan bulutangkis ini? Tian Chen-Ge Zi Weii-...