Most Viewed Poata

October 30, 2016

Ada Hal yang Seperti Jodoh



Beasiswa Itu Seperti Jodoh  

Itulah tertulis dalam artikel “Untuk Teman Pejuang Beasiswa. Semangat berjuang, Kawan!” yang ada (klik disini). Aku rasa motivasi setiap orang yang menginginkan beasiswa bermacam-macam. Mungkin ada yang ingin melanjutkan studi kelevel yang lebih tinggi namun mereka keterbatasan biaya apabila menggunakan jalur swadaya ; ada yang mencari beasiswa karena mencari tantangan ketika sedang berjuang didalamnya ; bahkan ada pula yang mencari beasiswa khususnya diluar negeri karena ada niatan ingin belajar dinegara sana sekaligus mempelajari budayanya, serta jalan-jalan dong pastinya. Yah, macam-macam motivasinya dan hasilnya diperoleh: ada yang cepat mendapatkan hasilnya, tetapi ada pula yang membutuhkan waktu beberapa kali memasukkan aplikasi kepenyedia beasiswa.

Well. Aku menulis tentang beasiswa ini bukan karena aku pernah dan sedang mengusahakan beasiswa untukku sendiri. Sebenarnya sih baru tahap mencari beasiswa yang sesuai buat diperdalami. Dan aku mendapatkan apa yang kumau! Yeay!

Oh iya, entah kenapa setiap mendengar kata “beasiswa” aku teringat akan seseorang yang aku rasa dia sangat lucky mendapat kesempatan belajar di Negeri Matahari Terbit. Hmm. Mungkin bukan sekedar lucky ya, tapi kegigihan dalam mengusahakan kesempatan untukknya. Kesempatan memang tak sembarang datang untuk sembarang orang, hanya mungkin bagi yang tetap membuka peluang datangnya kesempatan itu.

Kegigihan. Satu kata yang terdengar sederhana dan sering diucapkan tapi mungkin sering terabaikan juga. Berdasarkan link artlkel diatas sih, aku nggak bisa membantahnya (memang apa yang harus dibantah ya..). Karena poin-poin diatas justru aku setuju. Jika aku bandingin dengan tulisan orang itu dalam blog (yang kutemukan beberapa justru beberapa minggu terakhir) kegigihan dalam mendapatkan kesempatan beasiswa itu semua berawal dari langkah kita ketika mulai mencari informasi beasiswa itu sendiri. Zaman teknologi yang semakin maju ini pun mendukung. Sudah banyak informasi yang bisa didapat lewat internet. Satu keyword yang kita ketikkan, dapat membawa pada hasil yang beragam. Selanjutnya ya tinggal ketangguhan kita untuk membaca setiap informasi beasiswa yang disajikan tentu dibarengi melihat kapasitas diri masing-masing ya.

Ada yang beranggapan kalo English profiency itu nomer satu kalo mau belajar diluar negeri. Well, memang benar sih.. Tapi sejauh aku mencari informasi beasiswa itu sendiri, rasanya nggak semua kampus diluar yang mensyaratkan. Hanya—khususnya kampus-kampus yang memang berada di negara basically dengan Bahasa Inggris, seperti ke negara-negara Benua Eropa, Australia, Amerika Serikat. Sementara di Asia sendiri, nggak semua mensyaratkan English priofiency yang tinggi. Jadi, seperti aku yang punya englih profiency pas-pasan, sejauh aku belum mengambil tes itu lagi, mungkin masih bisa kita sedikit tutupi kelemahan itu dengan motivation letter kita. Dengan motivation letter minta dikoreksi orang terdekat kita, setidaknya untuk melihat apa kata-kata pilihan kita sudah pas.

Apalah arti usaha tanpa doa, maka yang terpenting andalkan doa kepada Yang Maha Kuasa dalam setiap langkah yang kita ambil. Dengan Kuasa-Nya, kalau Dia sudah berkata: Ya, manusia sehebat apapun tidak bisa tidak memberikan kesempatan untuk kita, kan?
Sepanjang itu posting kali ini, aku cuma mau merangkum: language profiency yang selama ini digadang orang menjadi momok besar dalam mengambil beasiswa sebenarnya bisa menjadi bukan hal yang besar. Kalaupun terkendala bahasa, ada banyak cara untuk menambah pengetahuan dan kemampuan bahasa asing kita, misalnya menonton film, drama series dari luar, musik berbahasa asing. Percaya deh, hal-hal kecil itu besar membantu kita mempelajari tingkat bahasa asing kita (kali ini aku sendiri sudah membuktikan :D). Yaa seenggaknya bisa mengurangi tingkat kecemasan kita ketika mengikuti tes language profiency tadi karena merasa sudah memiliki pandangan familiar, in my honest opinion though.

Buat siapapun yang sedang berusaha mendapatkan beasiswa, coba ambil pulpen atau spidol juga boleh-lah, jangan lupa secarik kertas juga disiapin ya, terus catat ini dulu: sama seperti jodoh yang selalu kita tunggu-tunggu dan tidak akan pernah tertukar antar orang, kesempatan beasiswa pun begitu, semua sudah diatur sesuai waktu dan kapasitas tempatnya saja J
Kalau sudah dicatat, dibaca berulang-ulang dan tempel didinding kamar masing-masing biar menjadi pemicu semangat.

Yuk ah, semangat buat perjalanan menuju cita-cita kita semua! J




By the way, dapat salam manis nih dari Mao Ling Ling banzhang-nya Xiao He Laoshi :D  


Other post from this blog

[FANFICTION] Secret #9 (Based On True Story)

>> Click here to read what I tell on #Secret 8 << Secret #9 (The last open love letter of the unspoken story) Hai Shanghao...