May 29, 2017

[FANFICTION] Secret #8 (Based On True Story)

Part sebelumnya...... Secret #7 semua tentang dia dan semua berawal dari sini :)

***
Secret #8

2952017

Shanghao-Ge, aku sungguh tidak percaya aku masih bisa mengingatmu jelas ditahun kelima sejak perjumpaan kita kala itu. Aku tahu kau tak mungkin mengingatku juga saat ini. Biarlah. Aku juga tidak memaksamu untuk mengingatku. Aku menulis ini hanya untuk membagi perasaanku ketika bayanganmu sekelibat mendatangi pikiranku.

Shanghao-Ge, ada banyak sekali cerita yang sebenarnya aku ingin bagikan kepadamu. Khusus yang ini aku ingin kau mendengarnya langsung—ketika kita bertatap muka langsung, bukan lewat tulisan ini. Cerita-cerita yang tak bisa kubagi dengan orang-orang disekitarku meskipun dengan keluargaku maupun dengan sahabatku sendiri. Tidak. Aku tidak mau mereka tahu tentang khayalanku mengenaimu. Aku ingin mereka mengenalmu dengan cara kau datang sendiri kepada mereka. Keyi ma, Ge? Oke, aku hanya berandai-andai saja.

Kau sudah membaca banyak tulisanku tentang perasaan terdalamku padamu, dari dulu yang begitu kuat hingga kini perlahan aku mulai merelakan bayanganmu pergi dari benakku dan membiarkan Tuhan menuliskan scenario terindah-Nya untuk kita berdua. Aku percaya, jika Dia yang menuliskan maka penyair siapapun tidak akan sanggup menandingi-Nya. Karena milik-nya sangat sempurna.

Shanghao-Ge, kaulah yang membuatku menyerah tidak lagi mengejar perhatian Wu Dongyan padaku. Padahal sebelumnuya aku selalu senang membicarakan mengenai Wu Dongyan jika berdua dengan Qiu Zixie, sahabatku. Kau tahu-lah bagaimana persahabatanku dengan Zixie. Sampai ketika Wu Dongyan melakukan kesalahan dikampus kita, aku masih berusaha mempercayai dirinya namun kau tahu kan, aku tak bisa berbuat apapun. Aku menyesalinya. Sangat menyesal. Kemudian aku bersyukur, dia tidak sampai mendapat hukuman yang berarti. Setelah itu aku mulai lagi memikirkan keberadaanmu yang waktu itu aku belum mengetahuinya.

Shanghao-Ge, kau bahkan tahu bagaimana selepas summer camp tahun 2013 lalu aku sempat merasa tak enak pada seseorang bernama Zhao Zhiwei. Aku mengakui, kalau saat itu aku hanya memanfaatkan perasaannya padaku agar aku bisa melupakanmu meskipun setelah itu usahaku tak berhasil, karena aku tak sungguh-sungguh menyukainya, lebih dari separuh otakku masih menyimpan semua memori tentangmu. Tidak. Aku tidak akan lagi banyak menceritakan orang tak penting itu. Biarkan dia hanya menjadi buih dilaut lepas.

Shanghao-Ge, sungguh hanya kau-lah penyebab aku membohongi teman baikku sendiri. Entah kenapa, aku tidak pernah mempunyai keberanian menceritakan pada siapapun, termasuk pada Zixie maupun Qiu Caiqin—kau masih ingat ceritaku tentang dia? Bukan aku tak bangga menyukai seorang seperti dirimu, melainkan aku hanya tak bisa membuka mulutku mengatakan ada orang yang telah lebih membuatku jatuh cinta lebih dari rasa sukaku kepada Wu Dongyan—dan perlu kau ingat, tidak ada hubungannya dengan Zhiwei.

Zixie dan Caiqin, aku meminta maaf pada kalian berdua. Kalian memang teman terbaikku sejak dikampus hingga saat ini. Aku menghargai kalian, tapi kalian tahu kalau ada sebuah privasi seseorang yang tak bisa dengan mudah dikatakan termasuk pada orang-orang paling dekat sekalipun. Dan, ceritaku inilah yang sempat kurahasiakan dari kalian. Tentang Wang Shanghao. Zixie, mungkin Shanghao-Ge tidak seperti Zhiwei bagimu, tapi itu hanya karena kau belum bertemu dengannya, atau aku hanya belum sempat memperkenalkannya padamu. Doakan saja aku bisa menemukannya kembali dan mengenalkannya langsung kepadamu.

Qiu Caiqin, temanku yang paling mengetahui perjalananku menuju cita-cita. Kau paling tahu jatuh-bangun membangun kepercayaan diri sendiri. Caiqin, kau tak tahu sesungguhnya ada seorang yang membuatku selalu ingin bangkit dari momen jatuh itu. Dia adalah Wang Shanghao, maaf, kau juga belum mengenalnya. Karena saat itu aku berpikir, Shanghao-Ge harus menemukanku kelak, aku harus dalam keadaan baik-baik dan lebih baik dari sebelumnya. Caiqin, hanya Shanghao-Ge yang mampu merubah pikiranku sedemikian rupa. Karena sungguh, pertemuan kita pada tanggal yang sama dengan hari ini di-diua tahun lalu begitu berarti besar untukku.

Shanghao-Ge, aku bersyukur bertemu teman-teman lain yang mempunyai minat sepertiku sehingga aku bisa berbagai kesenagan dengan mereka. Kau belum lupa ceritaku tentang kegiatanku dengan community reading yang kuikuti dengan beberapa teman, kan? Ya, mereka-lah yang berjasa membuatku lupa mengenaimu sepenuhnya. Kesibukanku bersama mereka membesarkan apa yang kita rintis bersama membuatku lupa tentang pencarianku akan dirimu. Aku tidak tidak mengenyajakan bergabung untuk melupakanmu, namun mereka membantuku menghilangkan ingatan tentangmu.

Shanghao-Ge, sekarang asal kau tahu, saat ini aku sengaja berada dikawasan yang sama denganmu karena aku yakin kau berada disini, Xinyi District, kan? Tapi kau digedung mana? Tolong kasih aku petunjuk, setidaknya biar aku tidak bertanya-tanya lagi. Dan, terima kasih telah memberikan inspirasi begitu besar untuk tulisanku. Kau tahu, ini bukanlah satu-satu tulisanku yang memasang kau sebagai imajinasi tokohku. Aku masih mempunyai satu tokoh itu lagi.


To be continued….?

May 24, 2017

Book Review: Badminton Freak (Stephanie Zen)

Haloo!

Sembari aku ngumpulin materi buat ngisi Kepoin Figur Publik #3, aku mau sharing dulu yang satu ini. Sepertinya ini tema baru disini. Jadi aku kan sempat jadi penggiat sebuah klub baca buku di Jogja, gak afdol rasanya sebagai bookworm tapi gak ada postingan tentang review buku (setidaknya ada satu atau dua gitulah ya :D).

Buku yang mau kureview ini merupakan sebuah novel fiksi--aku tertarik karena apa yang ditulis didalamnya. Sebenarnya aku tahu buku ini ada sejak lama (sekitar tahun 2015), pengen beli waktu itu tapi isi dompet lagi banyak bawang merahnya :(, giliran pas mau dibeli, eh stoknya buku udah gak ada ditoko buku kebanyakan. Huhuhu. Alhamdulillah berkat kegigihan tanpa patah arang mencari buku ini, akhirnya aku mendapatkannya. Yeay! Gak pengen menyesal lagi, langsung bungkus aja deh buku itu.





Genre: Teenlit
Judul Buku: Badminton Freak
Penulis: Stephanie Zen
Penerbit: Gramedia Pustaka Utama
Tahun: (1) 2010 ; (2) 2016

Cobalah tanya pada Fraya Aloysa Iskandar siapakah cinta pertama dalam hidupnya? Jawabannya gak akan menempatkan Albert, pacarnya sendiri diurutan pertama. Karena Fraya sudah terlanjur jatuh cinta dengan BULUTANGKIS sejak ia kecil karena para tantenya yang menularkan virus itu padanya. Saking cintanya Fraya terhadap bulutangkis, Fraya pernah bercita-cita menjadi pemain bulutangkis profesional yang main diklub kemudian dilirik oleh pelatnas. Siapa sih gak mau yang terakhir itu? Hehehe. Semua itu gagal diwujudkan karena ada kesalahan komunikasi dengan sang mama yang sebelumnya Fraya gak pernah berani secara langsung menanyakan kepada mamanya alasan ia tidak boleh main bulutangkis secara profesional.

Demi menuntaskan hutang mimpinya menjadi atlet bulutangkis nasional yang memiliki kesempatan mengibarkan merah putih dan mendendangkan lagu kebangsaan Indonesia Raya diluar negeri, Fraya akhirnya hanya bisa bergabung dengan ekskul bulutangkis disekolahnya. Sayangnya, pacarnya gak pernah suka Fraya main bulutangkis. Albert lebih suka melihat Fraya dilapangan memegang pompom dipinggir lapangan dan menyemangati ketika Albert tengah bertanding basket. Iya. Cowo basket dan cewe cheerleader tentu akan jadi pasangan yang cocok kan? Begitupun pikiran Albert, namun Fraya merasa menjadi anggota cheerleader bukanlah menjadi dirinya sendiri. Fraya dan Albert gak pernah cocok karena hal ini.

Puncaknya ketika ada gelaran Thomas dan Uber Cup 2008 dan Indonesia terpilih sebagai tuan rumah. BL mana sih, gak niat bener nonton langsung di Istora setiap ada turnamen internasional bergengsi, seperti TUC ini contohnya... Fraya pun. Ia sampai rela-relain bohongin Albert, bilang sakit kek, demi bolos menonton Albert tanding basket dan mlipir ke Istora (orang mah kalau udah cinta, segala cara oke aja ya..). Albert pun akhirnya tahu karena kesalahan Fraya sendiri. Sepandai-pandai menyembunyikan bangkai, akhirnya tercium juga. Yah, itu peribahasa paling tepat buat Fraya. Albert menghukum Fraya tidak boleh lagi nonton langsung di Istora selama gelaran TUC, padahal sudah memasuki babak perempat final Thomas Cup, semifinal Uber Cup, hingga puncaknya final Uber dan Thomas Cup. Coba bayangin gimana Fraya gak sedih? Albert sudah seperti satpam selama beberapa hari dirumah Fraya agar ia tidak melarikan diri diam-diam pergi ke Istora.

Lama-lama Fraya nggak tahan dengan sikap Albert yang dikira sama sekali ngga mendukung kecintaannya. Fraya dan Albert putus. Bukan hanya menjadi masalah bagi Fraya seorang bahkan adiknya yang terlanjur dekat dengan Albert, Lio selalu menanyakan Albert ketika lama gak main kerumah mereka. Anak kecil seperti Lio memang harus dikasih pengertian yang paling sederhana untuk dijelaskan apa itu "putus cinta" hingga akhirnya mungkin Lio mengerti setelah datang pengganti Albert kerumah dan membawakan virus bulutangkis padanya, bahkan Lio langsung ingin terjun dalam dunia bulutangkis. Siapakah orang itu?

Orang itu adalah Edgar Satria, seorang pemain ganda putera andalan Indonesia (sewaktu membacanya, aku langsung membayangkan Edgar Satria seperti Kevin Sanjaya Sukamuljo :D). Perkenalan kedua Edgar dan Fraya lucu banget deh.. waktu itu Fraya salah mengira yang mengirimi SMS padanya adalah orang usil, ternyata itu Edgar. Malu bangetlah Fraya pada saat itu. Itu merupakan saat awal Edgar menunjukkan ketertarikannya pada Fraya yang memiliki pengetahuan bulutangkis diatas rata-rata, sangat berbeda dari gadis-gadis yang pernah ditemui Edgar.

Fraya Aloysa Iskandar, mungkin kamu sudah tidak bisa lagi mewujudkan cita-citamu untuk menjadi atlet bulutangkis , tapi punya pacar atlet bulutangkis bukan ide yang buruk, kan? - Edgar Satria (p: 233) 

Quote diatas membuatku berkhayal ketika Jonatan Christie yang bilang padaku--didepan wajahku. Aw! Heehehe

Biar kutebak, mungkin si penulisnya alias Mba Stephanie Zen seorang Badminton Lover atau salah satu penonton setia setiap pertandingan tim bulutangkis Indonesia. Gaya berceritanya enak dibaca. I'm really really enjoy every words in every pages. Seperti ikut merasakan yang dirasakan Fraya (tapi yang ini aku memang seperti berkaca pada seorang Fraya). Meskipun ketika membaca, aku berasa jadi dedengkot fans bulutangkis karena hampir semua atlet nasional maupun luar negeri yang disebut didalam buku ini aku tahu era mereka. Okelah, karena mereka semua adalah pemain top dunia pada waktu itu.

Pokoknya kalau ngaku BL, baca deh "Badminton Freak" ini, aku berani jamin 1000% bahkan lebih, akan semakin freak sama bulutangkis. Karena penulisnya pinter menggiring imajinasi pembaca kearah kegilaan itu. Pas membaca ini, aku benar-benar bisa jungkir balik dikasur atau sofa sakling menikmatinya. Lebay? Tapi memang begitu :D




By the way, postingan book review ini kutulis bersamaan dengan momen Sudirman Cup 2017 dan sebuah sejarah tercipta pada 24 Mei 2017. Untuk pertama kali sepanjang sejarah perhelatan Sudirman Cup sejak 1989, Tim Indonesia harus menyudahi perlawanan mereka dengan tidak sampai babak perdelapan final grup 1 :(

Tetap semangat para pemain bulutangkis Indonesia. Terima kasih atas perjuangan luar biasa-nya, tim! Anggaplah hanya soal waktu saja yang belum mengizinkan kalian menjemput si piala kembali kerumahnya. Dukungan penuh seluruh pecinta bulutangkis selalu untuk para pahlwan olahraga ini :)

Akhirnya aku tutup postingan ini dengan perasaan masih campur aduk (belum move on). Terima kasih pada kalian yang sudah menyempatkan mampir keblog sederhana ini.

Ganxie nimen! :)



May 18, 2017

[FANFICTION] Secret #7 (Based On True Story)

Kalian bisa skimming dulu untuk part sebelumnya: klik ini 


Secret #7

Kabar bahagia juga mengejutkan dari Zhang Li Ang beberapa hari lalu, sekaligus membuatku sedikit saja merindukan kembali salah seorang teman yang lain. Dia yang bernama Wu Dongyan. Shao Ge, mungkin kau harus sedikit mengenalnya lebih dulu lewat ceritaku ini. Jangan cemburu, karena ia tak se-istimewa dirimu.

*Musim gugur 2011

Waktu itu merupakan hari baru aku memulai semester kedua perkuliahanku. Disemester ini cukup banyak mata kuliah yang bisa kubarengi bersama QIu Zixie. Oh, satu lagi. Wu Dongyan ada dikelas yang sama denganku.
Merupakan musim yang menyenangkan. Terlewat menyenangkan ketika di Kelas Business Management, dia melangkah memasuki pintu kelas bersama sekelompok temannya. Aku sudah duduk didalam kelas itu. Aku memperhatikannya terus hingga ia dan teman-temannya memilih tempat duduk terpisah. Ia dan satu temannya memilih duduk didepan meja dosen. Tak bisa kupungkiri saat itu kedua mataku pun tak bisa berhenti  melihatnya. Sebenarnya, aku tidak tahu apa yang membuat seorang Wu Dongyan terlihat begitu mempesona dimataku ini padahal Zixie turut berkomentar,
“Yanxi, please! Dulu apa yang kau lihat dari Wu Dongyan? Kurasa dibandingkan dengannya, Zhao Zhiwei  terlihat lebih tampan. Kusayangkan saja, Zhao Zhiwei hanya terlambat datang padamu.”
Shanghao Ge, itu menurut Zixie ketika aku masih menjalin hubungan dengan Zhao Zhiwei. Pun aku tidak merasa demikian.  Ya, kupikir kau masih ingat apa alasannya. Aku pernah ceritakan pada chapter sebelum ini, jadi aku tidak akan mengulang cerita tentangnya.
“Dulu ya dulu. Tetapi aku tetap penasaran dengan Wu Dongyan hingga sekarang. Seperti kau juga, kan, apa kau sudah tidak ada perasaan apapun lagi pada Zhang Li Ang?” Aku menjawab pertanyaan dari Zixie sekaligus membalikkan pertanyaan itu. Kupikir dengan ini, Zixie tidak akan berani mempertanyakan hal lain padaku.
“Tian a! Kau masih memikirkan masa lalumu bahkan saat kau sudah bersama orang yang baru? Bukankah kau meragukan Zhao Zhiwei? Kasihan dia..” ucap Zixie meskipun kupikir tidak ada yang perlu dikasihani dari orang itu.
Karena Wu Dongyan dan Wang Shanghao mirip dan tidak ada lagi orang lain seperti mereka.” Aku menjawabnya dalam hati saja seraya menatap wajah teman baikku.
“Nah, kebetulan yang indah..” seru Zixie tiba-tiba mengaburkan bayanganku tentang Wu Dongyan dan bergantian Shanghao Ge. Aku melihat Zixie menatap jauh kearah belakangku, dan aku mengikuti arah pandangannya. Wu Dongyan disana. Ia membaca sesuatu tertempel dibuletin kampus.
Shanghao Ge, sebenarnya dia bukanlah tipe orang yang istimewa, ia tidak rupawan—bisa kubilang Zhang Li Ang lebih tampan darinya, dan Zhang Li Ang dan Zhao Zhiwei masih lebih pintar darinya, serta pola pikirannya pun berbeda sekali dari seorang bernama Wang Shanghao, kecuali untuk alasan Wu Dongyan mengingatkanku pada seorang teman semasa high school. Intensitas memperhatikannya terus-menerus, dapat merubah perasaanku padanya meskipun tak lama dan kau datang menemuiku, mengaburkan segalanya.
“Chen Yanxi, pokoknya kau tidak boleh lagi memikirkan Wu Dongyan sekarang. Jangan lupa kau sudah punya Zhao Zhiwei. Kau cobalah pikirkan perasaannya juga.” Nasihat Zixie waktu itu terdengar memaksaku melupakan Wu Dongyan dan menerima Zhao Zhiwei sepenuhnya. Aku tidak bisa menyanggupinya maupun menyanggahnya. Saat itu aku sedang tidak terpikirkan apapun, sepertinya.  “Dan, jangan lupakan juga kekacauan apa yang sudah diciptakannya menjelang Summer Camp?”  Zixie kembali mengingatkan mengenai kejadian sesaat sebelum kegiatan summer camp resmi dibuka pada tahun 2013 lalu.

Ceritanya. Wu  Dongyan dan beberapa temannya kedapatan panita yang bertugas hari itu melakukan transaksi illegal—mereka bertaruh uang, meskipun aku tidak tahu pasti apa yang mendasari taruhan mereka. Aku punya keyakinan, Wu Dongyan hanya salah memasuki lingkungan teman-temannya, namun ia tidak benar-benar terlibat didalamnya. Tapi, aku bisa apa. Aku tidak memiliki bukti apapun untuk membelanya. Kalau saja, aku bisa membela kalau ia benar saat itu, mungkin ceritanya akan berbeda sekarang. Ah, sudahlah.. suan le ba..

*
Suatu hari aku tidak sengaja mendengar, kebetulan, ketika aku sedang berkumpul dengan temanku yang lain, salah duanya ada Lin Xinlei dan Wang Yiting. Ini cerita sebelum aku bertemu dengan Zhao Zhiwei . Saat itu mereka sedang membicarakan Wu Dongyan. Satu informasi yang tidak ingin kudengar namun harus kudengar. Oh, Shanghao Ge, betapa malasnya aku mengingat cerita yang satu ini.. Wu Dongyan sudah memiliki pacar. Meskipun aku menyukainya saat itu, tetapi aku tak mencemburuinya sama sekali bahkan hatiku juga tak sakit ketika mengetahuinya. Kenapa? Entah, aku pun tidak paham alasannya. Aku… bisa saja merasakannya. Karena kemudian aku tahu rasanya patah hati yang terparah seumur hidupku ketika seorang bernama Wang Shanghao bisa menghilang dalam satu kedipan mata. Ya, itu saat kau yang terburu pergi entah kemana. 
Setelah masa summer camp berakhir, kudapati kabar kembali Wu Dongyan sudah putus dengan pacarnya. Sayangnya, saat itu tiga perempat hatiku sudah terbelokkan olehmu, Shanghao Ge, dan seperempat bagian lagi tercuri oleh orang itu. Kupikir, memang sudah seharusnya aku menyerah dengan perasaanku dulu terhadap Wu Dongyan. Zixie tahu itu, hanya ia masih belum mengenal tiga perempat dan seperempat bagian itu.
Qiu Zixie, suatu saat kau pun membaca surat terbukaku ini (yang kutunjukkan untuk Wang Shanghao), maafkan aku karena harus menyimpan rahasia ini darimu, teman terbaikku.  

To be continued............ 

Other post from this blog

M-Novel VS Film VS Drama Series [Review]: Love O2O(微微一笑很倾城)

Halo, Para Pembaca. Kembali lagi Blog Social Diary ini akan mengulas tentang sebuah serial drama Mandarin. Berbeda dari drama review se...