Most Viewed Poata

October 25, 2011

FFS - Akhir Cerita Cinta (Chapter 3)


- CHAPTER 3 : U J I A N -

Keesokan paginya. Alarm dikamar Widy sudah berulang kali berbunyi. Namun, pemiliknya masih berkompromi dengan guling dan selimutnya. Justru yang mendengar alarm itu orang yang kamarnya disebelah kamar Widy, Ifan. Ifan mengetuk-ngetuk kamar adik bungsunya itu, namun belum ada jawaban. Ifan berjalan memasuki ruang makan untuk sarapan bersama. Disana sudah ada Raka dan Kevin, serta kedua orang tuanya. Mereka sudah balik dari Sulawesi.

“ Papa.. Mama.. Kapan kalian datang? Kok nggak bilang aku, biar aku yang jemput “ ujar Ifan menyambut mereka

“ Papa sama mama datang, tapi kalian semua udah tidur. Kecuali, Widy. Memang kemana dia, kenapa jam 11 malam baru pulang? “ tanya mama

“ Kemarin seharian aku nggak liat Widy, Ma.. Jadi nggak tau apa-apa. Raka mungkin tau? “ ucap Ifan sambil duduk dikursi meja makan

“ Kalian kan udah mama kasih kepercayaan. Jaga dan awasi selalu adik kalian itu. Jangan dibiarin terlalu bebas “ nasihat mama

“ Ma, udahlah. Jangan terlalu ketat sama anak-anak, terutama sama Widy. Nanti dia malah bisa berontak sama mama “ tambah papa sambil membaca koran harian pagi

“ Mama tenang aja.. Aku sama Kevin lagi menjalankan aksi untuk mendewasakan Widy. Iya kan, Vin?! “ ucap Raka sembari melirik Kevin yang sedang meneguk susu cokelatnya

“ Kalian punya rencana apa? Kenapa gue nggak dilibatin? “ protes Ifan

“ Lo sih, setiap hari diluar mulu.. Jadi ketinggalan berita kan.. “ ceplos Raka,

“ Aku udah selese sarapan. Aku berangkat duluan ya.. “ pamit Raka

“ Kamu nggak bareng Widy? “ tanya mama

“ Kan sekarang ada Kevin. Jadi dia aja yang jadi ‘sopir’nya Widy. “ sahut Raka

“ Gue?! Sejak kapan? Gue juga mau berangkat sekarang. Ada kuliah pagi. Widy dianter Ifan aja ya.. “ Kevin ikutan pamit.

Selepas Raka dan Kevin berangkat kuliah. Widy masih berada ditempat tidurnya. Matanya masih sangat begitu sulit dibuka. Memang semalam ia sampai rumah jam 11 malam. Namun, ia baru terlelap saat jam di dinding kamarnya menunjukkan jam 1 dini hari. Beberapa menit kemudian, tepatnya jam 8. Widy baru membuka matanya. Tak lama kemudian, ia keluar kamar. Ia mencari-cari Kevin, namun yang ia temukan hanya kakak pertamanya yang lagi sibuk dengan laptop-nya.

“ Kak Ifan, liat Kevin? “ tanya Widy. Ifan memperhatikan Widy dari atas sampe bawah secara detail. Widy heran dengan pandangan Ifan.

“ Kenapa sih? Ada yang salah sama aku?! “ tanyanya lagi sambil ngaca dicermin ruang keluarga

“ Kamu nggak kuliah? “ tanya Ifan

“ Ada. Makanya aku nyari Kevin, soalnya mau berangkat bareng “ ucap Widy santai. Mendengar jawaban Widy yang polos, Ifan justru menertawakannya. Membuat Widy bingung.

“ Bukannya jawab, malah ngetawain.. “ gerutu Widy sambil cemberut. Disela-sela kebingungannya, sang mama datang dari arah pintu.

“ Kevin udah berangkat dari tadi bareng Raka, Wid. “ sahut mama

“ Mamaa!! “ pekik Widy sambil berlari ke arah sang mama dan memeluk sang mama manja

“ Kapan datang, Ma? “ tanya Widy masih bergelayut manja

“ Tadi malam. Semalam kemana kamu? Kenapa jam sebelas baru pulang? Jangan kira, nggak ada mama sama papa, kamu bisa seenaknya ya.. Seenggaknya kamu izin dulu ke kakak-kakak kamu.. “ omel mama. Widy hanya cengengesan saat diomel seketika.

Bel rumah berbunyi. Ifan beranjak membukakan pintu. Bani datang menghampiri Ifan. Sebelum berangkat ke kampus, mereka akan rapat dulu mengenai acara pentas seni dikampusnya. Keduanya terlibat dalam kepanitiaan tersebut. Tak lama setelah Bani datang, Rangga datang. Saat berpapasan dengan Rangga dipintu masuk, Bani meliriknya dengan tatapan penasaran. Rangga yang sadar akan lirikan itu, hanya membalasnya dengan senyum. Widy muncul dipintu dan mempersilahkan Rangga masuk. Hati kecil Rangga masih sangat penasaran dengan tatapan Bani ke dirinya. Karena selama ia ada disana, Bani terus-menerus melihat dengan rasa penasaran yang tinggi. 20 menit kemudian, Widy dan Rangga berangkat. Sebenarnya kuliah Widy hanya pagi tadi. Kini ia keluar hanya ingin jalan dengan cowo yang telah resmi menjadi kekasihnya itu. Hatinya begitu bahagia hari itu. Sementara itu, Bani masih berusaha mengorek informasi tentang Rangga melalui Ifan. Barangkali Ifan tau sesuatu. Ia lakukan itu bukan semata-mata karena ingin memuaskan rasa ingin tahunya. Tapi juga ingin, memastikan kalo Rangga bukanlah orang yang pernah mengisi hari-hari Angel dahulu.

“ Fan, lo tau orang yang barusan keluar bareng Widy? “ tanya Bani disela-sela diskusi mereka

“ Hmm.. Yang gue tau sih, mereka temenan deket banget. Oh iya, mereka juga pernah ketemu dibandara waktu pertama kali Widy sampe Jakarta ini “ terang Ifan,

“ Memang kenapa? Lo nggak jealous kan? “ tanya Ifan heran dengan pertanyaan Bani

“ Nggak lah “ sahut Bani,

“ Tapi, apa lo nggak curiga ada yang terjadi diantara mereka? “ tanya Bani. Ifan berpikir sesaat.

“ Maksud lo mereka pacaran? “ Ifan memastikan maksud Bani

“ Lo nggak ngerasa sikap mereka yang nggak canggung-canggungan tadi? “

Well, iya sih.. Tapi, ya udahlah, biar gue tanya ke orangnya nanti. Udah yuk, ke kampus sekarang. Gue ada janji dikampus “ ajak Ifan menyudahi pembicaraan itu

“ Iya deh.. Tau gue, janji sama Natly kan.. “ ledek Bani sembari membereskan kertas-kertas yang berceceran. Sesaat setelah itu, mereka berangkat dengan dua sepeda motor.

***

“ Apaa?? Mereka udah jadian? “ pekik Kevin dan Raka berbarengan saat mendapat laporan dari Morgan tentang Rangga dan Widy

“ Berarti yang gue pikirin semalem bener-bener kejadian. Tapi, masa secepat ini.. “ ucap Raka tak menyangka

“ Gue juga awalnya nggak percaya. Soalnya gue cuma denger dari Dicky, nggak langsung dari yang bersangkutan “ jawab Morgan, “ Kita telat bertindak “ sahutnya lagi setelah menghela nafas sejenak

“ Nggak “ ucap Kevin serius, “ Kita nggak telat. Rencana ini belum sepenuhnya gagal “ lanjutnya yakin

“ Gimana caranya? “ tanya Morgan ragu

“ Kita kembali ke rencana awal. Mendekatkan Reza ke Widy. Sekarang kita cari PJ dan Linzy “ ujar Kevin

Kemudian Kevin, Morgan, dan Raka mencari PJ dan Linzy untuk meminta bantuan dalam ide yang akan mereka laksanakan. Linzy yang sudah mendengar cerita permintaan mereka dari PJ merasa tak keberatan. Ia juga ingin tahu, masih adakah rasa Widy untuk Reza? Hanya saja, kendala datang dari Reza. Reza yang sudah menganggap Widy sebagai temen baiknya merasa nggak enak, walaupun tujuannya baik, untu mendewasakan Widy. Karena cuma ini cara untuk membuat Widy berubah. Dengan berbagai bujukan, akhirnya Reza bersedia. Rencana awalnya adalah Reza mendekati Widy dan membuat Rangga cemburu. Menurut Morgan, Rangga termasuk tipe pencemburu kalo cewe yang ia suka dekat dengan cowo lain. Reza bisa mulai kapanpun dia siap dan mau, sampai ada rambu-rambu rencana berikutnya.

Kencan pertama Rangga dan Widy ada di toko buku. Keduanya memang senang buku. Widy senang novel-novel terjemahan, sedangkan Rangga senang dengan buku tentang sejarah. Saat Rangga akan mengambil suatu buku dari rak yang diatas, ada seorang cewe juga akan mengambil buku itu. Secara tak sengaja, tangan mereka saling bersentuhan. Kedua kanget. Rangga menyadari kalo cewe itu nggak asing dimatanya. Namun ia tak ingat siapa cewe itu. Cewe itu adalah Angel. Angel yang kaget secara reflek, memanggilnya dengan nama Dewa. Rangga heran bagaimana cewe itu tau dengan nama kecilnya. Kemudian, Widy menghampiri mereka. Dan mengenali Angel. Setelah berbicara beberapa kata dengan Angel, Widy mengajak Rangga pergi, karena novel yang ia cari sudah didapatkannya. Dalam hatinya, ia merasa kalo Rangga adalah Dewa-nya yang dulu. Setali tiga uang dengan Angel, Rangga pun penasaran dengan cewe itu.

“ Angel.. “ panggil Bani dari belakang

“ Hah?! Iya? Kenapa? “ tanya Angel canggung

“ Kamu itu yang kenapa, sayang? Kenapa tiba-tiba jadi diem? Buku yang kamu cari udah dapat? “ tanya Bani. Mata Angel berair. Menahan airmatanya yang hampir jatuh. Tapi, ia tak mau menangis didepan Bani, karena Bani akan merasa curiga padanya.

“ Kita pulang yuk. Aku udah selese “ ajak Angel menggandeng Bani hendak pergi

“ Kamu kenapa? “ tanya Bani penasaran

“ Nggak apa-apa. Tiba-tiba aja aku inget ada janji sama GC “ bohong Angel. Kemudian mereka menuju parkiran dan pulang.

***

“ Widy! “ ucap mama saat Widy membuka pintu rumahnya. Mama udah berdiri didepannya

“ Mama?! Ada apa, Ma? “ tanya Widy sedikit merasa takut dengan wajah sang mama yang mungkin akan memarahinya

“ Kamu darimana? Kamu nggak kuliah? “ tanya mama. Widy kaget ketika sang mama menanyakan hal itu. Bagaimana mungkin sang mama bisa tau kalo dirinya memang nggak kuliah ato tepatnya bolos hari itu. Kecuali ada yang memberitahunya. Pikirannya pun langsung menuduh Kevin sebagai biang keladi ini semua.

“ Kenapa nggak jawab? Bingung mau kasih alasan bohong apa? “ omel mama

“ Ngg.. Hari ini aku nggak ada dosennya, Ma.. Terus nggak ke kampus deh “ ujar Widy

“ Oh begitu.. Kalo gitu, ngapain tadi Linzy nanyai kamu ke Raka? Apa kamu juga nggak ketemu sama Linzy atau PJ? “ tanya mama. Widy menunduk bingung akan menjawab apa. Ia memikirkan apakah ini saatnya menceritakan soal Rangga kepada keluarganya, terutama sang mama.

“ Tadi mama liat, kamu dianter cowo ya.. Siapa dia? Kenapa nggak diajak masuk dulu? “ tanya mama seolah mengintogerasi anaknya.

“ Ngg... Ituu.. “ ucap Widy gugup bercampur takut harus mengatakan apa

“ Tante, itu temen deket aku waktu masih di Jogja dulu. Kebetulan, sekarang juga deket sama Widy “ sahut Kevin muncul dari dalam

“ Bener, Vin? Apa bukan pacarnya Widy? Kamu jangan belain Widy!! “ celoteh mama – Tante Risa kepada Kevin

“ Bener kok, Tante. Aku kan nggak berani bohong “ jawab Kevin. Mendengar itu, Tante Risa berpaling pada Widy sebentar lalu masuk kerumah. Widy terlihat lega selepas intogerasi mamanya. Dan sangat berterimakasih pada Kevin telah membelanya didepan sang mama. Saat sedang merayu sepupunya untuk selalu membantunya, HP-nya berdering. Ia tak mengenali nomor yang meneleponnya. Tapi, tetap diangkatnya. Orang yang berada diseberang sana baru mengucapkan satu kata, namun Widy sudah tau siapa orangnya. Reza. Kevin tersenyum penuh arti, lalu meninggalkan Widy sendiri didepan pintu menuju kebelakang rumah.

“ Lo kemana tadi, Wid? Kenapa nggak ke kampus? “ tanya Reza

“ Hmm.. Tadi gue bangun kesiangan. Terus ditinggal deh. Hehehe “ cerita Widy

“ Oh iya, kenapa lo bisa telepon gue? “ tanya Widy

“ Bukan apa-apa sih.. Gue disuruh PJ hubungi lo. Katanya, lo susah sekali dia hubungi. Lo nggak ada apa-apa kan?! “ terang Reza

“ Gue nggak ada apa-apa kok “ jawab Widy, “ PJ mana? Lagi bareng nggak? “

“ PJ lagi dilapangan. Kan tim lagi latihan “ jawab Reza

“ Lo nggak latihan? “ tanya Widy

“ Gue udah pulang. Kaki gue terkilir pas latihan kemarin “ ucap Reza

“ Hah?! Yang bener? Sekarang gimana keadaan lo? “ suara Widy kedengaran panik

“ Udah mendingan sih, tapi masih sedikit terasa sakit. Udahlah, jangan panik gitu. Ini udah biasa kok “ ucap Reza menenangkan

“ Mana mungkin gue nggak panik.. Lo kan orang yang pernah gue suka, sekarangpun gue masih sedikit punya rasa sama lo. Lo masih spesial buat gue “ ucap Widy dalam hati,

“ Kalo gitu, gue jenguk lo sekarang juga!! Lo jangan kemana-mana!! “ ujar Widy mantap

“ Eh, nggak usah ... “ Reza tak sempat mencegahnya, pembicaraannya sudah diputus Widy begitu saja. Reza memandangi HP-nya, sambil tersenyum. Rencana pertama yang diamanatkan padanya sudah hampir berjalan lancar. Kevin mengintip dari balik korden jendela. Ia melihat Widy secara terburu-buru mengambil sepeda motornya di garasi samping, dan pergi secara tergesa-gesa juga. Ia sudah mengira rencana awalnya pasti akan berhasil.

“ Kevin “ panggil Tante Risa dari arah belakang Kevin. Kontan Kevin merasa terkejut.

“ Tante?! Panggil aku? Ada apa? “ tanya Kevin

“ Tadi sewaktu sarapan, Raka bilang kalian sedang merencanakan sesuatu untuk Widy. Boleh Tante tau apa rencana kalian? “ tanya Tante Risa.

“ Maaf, Tante. Bukan aku nggak mau kasih tau. Tapi, Tante bisa tanya ke Raka aja “ usul Kevin. Kevin permisi masuk kamarnya.

***

“ Ehem “ dehem Morgan ketika Rangga baru pulang sambil membaca buku diruang tamu,

“ Katanya hari ini giliranmu yang antar-jemput Dicky. Tapi, kenapa justru keduanya jadi aku yang ngelakuin “ sambung Morgan. Mendengar tuntutan Morgan, Rangga mematung di dekat pintu

“ Kalo kamu keberatan, aku akan meminta uang ke papa buat beliin Dicky motor. Biar Dicky bisa pergi sendiri “ jawab Rangga enteng

“ Bukan masalah itu. Tapi masalah, tanggung jawab dan janji “ ucap Morgan

“ Hmm,, well.. I’m so sorry “ ujar Rangga sedikit merasa bersalah pada Morgan

“ Biarinlah. Namanya juga orang baru kasmaran. Kan maunya berduaan mulu “ ledek Dicky ketika baru keluar dari kamar mandi

“ Dicky!! Ssstt.. “ ucap Rangga malu-malu mengakuinya

“ Kenapa masih pake malu segala.. Dicky udah cerita kok ke aku. Jadi aku udah tau “ ujar Morgan

“ Jadi kamu udah tau soal itu? “ tanya Rangga. Morgan mengangguk.

“ Tapi, aku dukung kok. Aku bakal bantu biar kalian selalu bersama “ lanjut Morgan berjanji. Rangga tersenyum mendengar kata-kata Morgan.

Raka menceritakan semua rencananya bersama Kevin ke sang mama. Tante Risa meminta mereka agar memberitahunya. Raka pun berpikir, tak ada salahnya menceritakan semua ke sang mama. Tante Risa mengerti maksud baik mereka, sehingga mengizinkan keduanya melakukan aksi itu. Dan dari situlah Tante Risa mengetahui bahwa putrinya sedang menjalani hubungan asmara dengan seorang cowo. Tante Risa meminta Raka agar bisa membawa Rangga untuk menemuinya. Walaupun hal itu masih jauh dari rencananya, ia tetap berjanji akan membawa Rangga kepada sang mama,

Angel pulang ke rumah dengan perasaan kacau. Sebenarnya, ia terbiasa terbuka untuk menceritakan semua yang ia alami ke Bani, tapi entah kenapa untuk perasaan yang kali ini, Angel tak bisa menceritakannya kepada Bani. Ia sangat takut Bani merasa cemburu dan tersaingi. Karena ia sudah terlanjur sayang sama Bani.

“ Kamu kenapa? “ tanya kakaknya – Vanilla, saat melihat adiknya nangis sesenggukan dikamar ketika pulang. Angel tak menjawab langsung, ia memeluk Vanilla masih sambil menangis.

“ Kalo kamu nangis, nangislah dulu. Kalo udah tenang, kamu bisa cerita ke kakak kapan aja “ ucap Vanilla menenangkan adiknya. Angel mengusap airmatanya, kemudian mencoba bicara ke kakaknya

“ Aku ketemu Dewa, Kak.. “ ucap Angel sambil terisak-isak. Ia berhanti sejenak menenangkan dirinya. Ia menarik nafas panjang, sebelum ia melanjutkan ceritanya.

“ Tapi, dia sepertinya nggak ngenalin aku. Tapi, aku yakin kalo dia itu Dewa.. “ lanjut Angel

“ Kamu ketemu dimana? Darimana kamu yakin kalo itu dia? “ tanya Vanilla

“ Pertamanya, aku liat dia di rumah temen Bani, Kak.. Waktu itu aku merasa, bukan dia. Tapi, dia punya kesukaan buku yang persis sama seperti aku. Cuma satu orang yang punya kesamaan minat kayak aku, dan orang itu Dewa “ terang Angel dengan yakin. Vanilla membelai rambut adiknya.

“ Ngel, jangan terlalu yakin dulu hanya dengan hal sepele seperti itu. Di dunia ini, mungkin ada banyak orang yang punya kesukaan seperti kalian. “ nasihat Vanilla. Angel tak menjawab lagi. Namun, ia yakin kalo Rangga dan Dewa adalah orang yang sama. Ia pun juga yakin, kalo Rangga juga masih mengingatnya dan kenangan mereka dahulu.

Rangga sedang menonton TV di rumahnya. Namun, pikirannya tak ada di program TV yang ditontonnya. Dengan kata lain, pikiran dan saluran TV itu, tak menyatu. Pikirannya melayang ke seorang cewe yang ditemuinya di toko buku siang tadi. Ia seperti pernah mengenal cewe itu, tapi dia tak dapat mengingat Angel. Lama-lama ia mulai mengingat semua kenangan bersama seorang cewe, tapi wajah gadis itu dalam pikirannya tak begitu jelas, hanya samar-samar. Telepon rumah yang ada didekatnya berbunyi. Ketika ia mengangkatnya, ia mengenali suara dari seberang sana. Dialah sang ayahanda – Om Romi. Om Romi kini berada di Bali. Sudah sangat lama Rangga, Morgan, dan Dicky tak berjumpa dengan sang ayah. Terakhir mereka bertemu saat mereka masih tinggal bersama di Bali, sebelum memutuskan untuk menimba ilmu di Sydney. Om Romi menelpon untuk memberitahu bahwa Beliau akan ke Jakarta, karena urusan pekerjaan dan melihat anak-anaknya. Semenjak ibu mereka meninggal, Rangga dan Morgan memilih untuk tinggal bersama tante mereka yang ada di Australia. Karena Dicky masih terlalu kecil untuk hidup sendiri, maka diputuskan untuk sementara waktu Dicky dalam pengawasan kedua kakaknya.

“ Jadi, papa kapan akan ke Jakarta? “ tanya Rangga setelah berbasa-basi sejenak

“ Besok siang “ jawab Om Romi

“ Maaf, pa. Besok aku nggak bisa jemput dibandara, aku ada kuliah. Tapi, nanti diusahain Morgan yang jemput “ ujar Rangga sambil melihat Morgan yang baru masuk ruang tengah

“ Nggak apa-apa. Kalo kalian nggak bisa, nggak apa-apa. Papa bisa naik taksi aja. Jalanan Jakarta belum berubah kan?! “ canda Om Romi

“ Hmm.. Papa sebentar lagi ada meeting, udah dulu ya “ tutup Om Romi.

***

“ Papa? “ tanya Morgan setelah Rangga menaruh gagang telepon ditempatnya

“ Iya. Besok siang papa kesini. Kamu bisa jemput dibandara? Besok aku ada kuliah siang “ ucap Rangga

“ Bisa. Kebetulan besok setelah jemput Dicky aku nggak ada kegiatan, nanti biar langsung ke bandara “ jawab Morgan. Ia mendengar Rangga bersenandung bahagia. Rasa penasaran melingkupi relung hatinya.

“ Kenapa? “ tanyanya pada Rangga sambil mengerutkan alisnya

“ Kalo papa kesini, berarti bisa semakin cepet ngenalin Widy ke papa “ ujar Rangga seneng

“ Secepat ini? Kalian kan baru jadian? “ tanya Morgan

“ Nggak masalah kan?! Yang penting, kita sama-sama yakin jalani yang lebih serius “ ujar Rangga. Morgan terkejut dengan jawaban Rangga.

“ Tapi, bisa kan nunggu sampe beberapa bulan berlalu “ ujar Morgan

“ Memang kenapa? Katamu, mau dukung aku terus. Tapi, kenapa sekarang nentang.. “ ucap Rangga sedikit kecewa

“ Aku memang dukung yang terbaik buat kalian. Tapi buat yang ini, aku rasa masih terlalu cepet “ ucap Morgan

“ Terserah kamu mau bilang apa. Yang jelas, aku akan segera ngenalin Widy ke papa “ ujar Rangga keras kepala sambil bangkit dari sofa yang didudukinya

“ Morgan, kamu harus inget, kita disini cowo semua. Kita butuh sosok perempuan sebagai ganti mama. Dan aku yakin, Widy-lah orangnya“ ujar Rangga. Setelah berkata demikian, Rangga berlalu pergi entah kemana.

Sementara itu Widy sedang ada dirumah Reza. Menjenguk Reza yang sebenarnya hanya berpura-pura untuk menjalankan misi bersama. Reza bener-bener bisa diandalkan dalam hal berpura-pura. Ia pandai sekali membuat Widy salting saat lagi bersamanya. Beberapa kali Widy mencoba menatapnya diam-diam, namun, Reza tiba-tiba berbalik memandangnya, akibatnya Widy terburu-buru mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Reza membaca gelagat aneh itu. Beberapa kali juga, Reza menangkap wajah Widy yang memerah.

Beberapa jam kemudian Widy pamit pulang, karena sudah larut malam. Reza mengantar Widy kedepan rumahnya, untuk mencari taksi. Sebenarnya, Reza menawarkan diri mengantar Widy pulang. Tapi, Widy menolak dengan alasan cedera pada diri Reza. Taksi yang ditunggu-tunggu lama. Saat sedang menunggu, mobil Bani lewat dan melihat Widy dipinggir jalan. Ia berhenti dan menawari Widy pulang bareng. Widy tak menolak. Karena memang ia sudah lelah seharian belum dirumah. Tak ada rasa canggung dalam dirinya, karena Bani merupakan teman baik kakaknya. Selepas Widy pulang bersama Bani, Reza menelepon Raka dan memberitahunya bahwa Widy dalam perjalanan pulang bersama Bani. Raka tak menduga, bagaimana cara Widy bisa bertemu dengan Bani.

***

“ Wid, kalo boleh tau, cowo yang waktu itu kerumah kamu, apa pacar kamu? “ tanya Bani membuka obrolan sepanjang perjalanan

“ Hmm.. Maksudnya Rangga? “ Widy memastikan terlebih dahulu,

“ Ngg.. Cuma temen aja kok.. “ jawab Widy malu-malu

“ Kok jawabnya nggak meyakinkan sih.. Temen ato temen.. “ sindir Bani yang mengetahui kalo Widy berbohong soal statusnya

“ Iihh.. Temen kok.. “ ucap Widy memaksa dengan wajah merah padam

“ Kalo temen, kenapa muka kamu merah gitu? “ tanya Bani mneyindir lagi. Lama-lama Widy nggak bisa menutupinya lagi, akhirnya ia terbuka pada Bani. Sebenarnya ia merasa takut untuk bercerita pada Bani, karena takut kalo Bani akan membukanya semua ke Ifan. Padahal, ia belum mau memperkenalkan Rangga sebagai pacarnya kepada keluarganya. Selama ini kedua orangtuanya terlalu selektif dalam hal mencari pasangan hidup untuk anak-anaknya. Raka dan Mezty yang sudah berpacaran selama kurang lebih setahun, belum bener-bener mendapat lampu hijau dari orangtuanya. Berbeda dengan Natly, yang lagi deket sama Ifan, justru udah diterima sama keluarga. Widy pun lebih deket kepada Natly dibandingkan sama Ifan, kakaknya sendiri. Tapi, ia juga takut. Kalo Rangga nggak bisa diterima keluarganya.

“ Jadi, karena ketakutan itu kamu belum bilang semua? “ tanya Bani pada Widy yang tiba-tiba diam melamun

“ Aku pasti akan bilang ke semua, kalo saatnya udah tepat. Mungkin kalo uda berjalan sebulanan “ ucap Widy

“ Sebelum sebulan, cepat ato lama semua pasti akan tau. Entah dari kamu atau siapapun “ ujar Bani

“ Tapi, Kak Bani jangan cerita dulu ya sama Kak Ifan. Biar aku yang cerita “ pinta Widy

“ Baik. Aku nggak akan bilang-bilang.. Tapi, bisa kamu ceritain ke aku soal cowo itu “ ucap Bani ingin tahu mengenai Rangga

“ Rangga?! Memang kenapa? “ tanya Widy juga penasaran dengan maksud pertanyaan permintaan Bani. Bani berpikir sejenak. Berpikir untuk memberitahu Widy atau tidak mengenai kemungkinan Rangga adalah Dewa, orang yang sempat spesial bagi Angel. Tetapi, Bani tidak mengatakan yang sebenarnya pada Widy. Namun, biarpun status sudah berpacaran dengan Rangga, Widy masih belum terlalu mengenal masa lalu Rangga. Sehingga belum banyak infomarsi yang didapat Bani saat itu. Sesampainya dirumah, Widy mengucapkan terima kasih ke Bani dan segera masuk ke rumah. Widy pulang bersamaan dengan mobil Ifan sampai dirumah juga.

“ Widy “ panggil Ifan menyetop langkah Widy yang mau masuk rumah

“ Tadi kamu pulang bareng Bani? Dimana kamu ketemu dia? “ tanya Ifan sambil mengunci mobilnya

“ Tadi pas aku lagi nunggu taksi, kebetulan Kak Bani lewat, terus aku diajak bareng “ jawab Widy. Widy mencium hal yang tidak biasa dari sang kakak. Penampilan Ifan yang tiba-tiba rapi dan beraroma parfum. Widy curiga.

“ Kak Ifan abis darimana? Kok tumben masih rapi dan wangi gini?! “ tanya Widy sambil berjalan disamping Ifan

“ Maksud pertanyaan kamu apa? Berarti selama ini aku nggak rapi dan wangi ya?! “ ucap Ifan melirik Widy dengan pandangan tersindir

“ Bukan gitu.. Aneh aja.. Oh, aku tau.. Pasti abis nembak Natly.. “ tebak Widy menggoda Ifan. Tebakan Widy memang benar, namun Ifan tak mau mengakuinya, walaupun wajahnya memerah. Ia berkelit mencari jawaban lain. Tapi, Widy tetap saja menyindir-nyindir. Akhirnya Ifan mempercepat langkahnya masuk kerumah. Tante Risa mengira Ifan dan Widy pergi bersama, hasilnya Tante Risa memarahi Ifan karena membawa Widy pulang terlalu malam. Melihat itu Widy menjulurkan lidahnya mengejek Ifan dan berlalu masuk kamar. Widy merasa sangat kelelahan hari ini, maka dari itu ia ingin cepat-cepat bertemu dengan bantalnya. Namun, saat ia keluar dari kamar mandi, Kevin sudah ada dipintu kamarnya yang nggak ditutup dengan memasang wajah penuh taktik. Kevin ingin memastikan soal Widy dan Rangga, walaupun ia sudah tau soal itu. Tapi dibalik itu semua, Kevin lebih ingin bilang kalo Tante Risa sudah mengetahui semua. Widy kaget mendengar ucapan Kevin itu.

“ Mana mungkin mama bisa tau, aku kan belum cerita kesiapa-siapa “ elak Widy tak percaya

“ Kamu belum cerita aja, udah banyak yang tau.. “ ujar Kevin santai

“ Heh, pasti lo juga kan yang nyebarin.. Embeerr!! “ umpat Widy kesal

“ Jangan asal nuduh dulu.. Harusnya kamu liat-liat orang yang ada disekitar dia “ ucap Kevin sambil berlalu meninggalkan kamar Widy. Widy menutup pintu kamarnya dengan kesal. Ia memikirkan siapa orang yang sudah membeberkan semua. Ia teringat kata-kata Kevin yang terakhir, dan ia tau siapa yang pertama kali mengawali persoalan yang masih ingin ia rahasiakan ini. Pikiran Widy tentang siapa yang pertama kali mengabari dunia tentang asmaranya. Dugaannya tak jauh dari kekasih hatinya sendiri, Rangga, yang mungkin berbagi cerita ke adiknya, Morgan.

- To Be Continued -

Other post from this blog

My Another Fan-Fiction Is Released!

Haaaiiii.... wuiihhh.. apa kabar blog aku ini?? lamaa bangeet gak nulis disini yaaa.... rindu berat sama nulis :) Kali ini aku membawa se...