Most Viewed Poata

July 17, 2013

Beda Dunia



Suasanya sepi. Sepi sekali – tanpa mendengar obrolannya. Masih tidak percaya, kalau aku harus berdiri disini. Saat ini. Membawa sebuket bunga. Berjalan pelan sembari menyeka airmata yang jatuh dipipi. Tidak ada yang memperhatikanku menangis. Hanya dedaunan kering yang berjatuhan dari pohonnya dan seekor kucing liar yang mungkin menjadi saksi tangisku yang kembali tumpah ditempat ini.
          Beberapa bulan yang lalu, mobil yang kunaiki bersama sahabat baikku, Putri, mendapat kecelakaan. Kami mengalami kecelakaan beruntun gara-gara sebuah truk yang tiba-tiba mati dijalan tol Jakarta – Bandung. Ada dua mobil didepan kami ikut berhenti mendadak. Dalam posisi mengebut, mobil-mobil dibelakang pun ikut mengerem mendadak. Kecelakaan – menabrak mobil didepannya pun tidak terhindarkan. Benturan keras dikepala Putri, membuatnya tidak mampu lagi bertahan hidup. Didalam mobilnya – sebelum sempat dikeluarkan dan dibawa kerumah sakit, Putri sudah dipanggil menghadap-Nya.
Aku yang mengetahui cerita ini saat sudah dirumah sakit karena ternyata Putri sempat membawaku keluar mobilnya dan menggotong tubuhku ke pembatas jalur. Barulah Putri pergi untuk selamanya tepat disampingku yang sedang tidak sadarkan diri ditengah jalan. Begitulah yang aku dengar dari keluarga Putri, yang mendapat cerita dari saksi mata dilokasi.
 Mendengar cerita Putri yang menolongku disaat terakhirnya, aku tidak bisa menahan airmataku. Tangisku menjadi-jadi. Mungkin seisi rumah sakit dapat mendengar suara tangisanku yang memecah keheningan rumah sakit. Tangis kehilangan seorang sahabat yang mempertaruhkan nyawa untuk seorang sahabatnya seperti aku.
Baru kali ini aku sempat mengunjungi makam Putri. Karena dokter mengizinkanku pulang kemarin. Aku menjongkok disebelah pusaran Putri. Tangisku pecah lagi. Dalam tangis, aku berdoa agar Tuhan mengampuni segala kesalahan Putri, menerima Putri disisi-Nya. Dan aku bersyukur pernah memiliki sahabat sepertimu, Put.
Dari balik bulir-bulir airmata, aku melihat diujung tanah makam ini, Putri memakai baju serba putih dengan rambut pendek yang tertata rapi tersenyum padaku.
“Terimakasih” ucapku pelan hingga tidak ada yang mendengar.
Setelah aku mengucapkan kata itu, Putri berbalik dan pergi entah kemana. Mungkin sudah ke surga.
“Hiduplah dengan tenang disana, Put”

Other post from this blog

[FANFICTION] Secret #9 (Based On True Story)

>> Click here to read what I tell on #Secret 8 << Secret #9 (The last open love letter of the unspoken story) Hai Shanghao...