Most Viewed Poata

June 9, 2017

Kepoin Figur Publik #4: Pebulutangkis Nasional Taiwan Part 2)

Haii, masih ingatkah dengan postinganku sebelumnya yang membahas para pria jago dilapangan bulutangkis ini?

Tian Chen-Ge

Zi Weii-Di

Hong Ling-Ge

Wang Ji-Lin in action

Well, yang belum baca postingan sebelumnya, silahkan klik link ini: Kepoin Figur Publik #3


Aku mau melanjutkan menuliskan hasil pencarian tentang pemain-pemain Taiwan. Kalau kemarin lebih banyak ngomonging pemain pria, sekarang move on, kita ngomongon pemain wanita yang nggak kalah jago :D

Aku akan mulai dari lanjutan sektor XD, karena masih ada dua pasangan lagi yang seharusnya mungkin turun selain Chi Lin/Jia Xin. Mereka adalah Tseng Min Hao/Hu Ling Fang, dan Lee Yang/Hsu Ya Ching. Kemudian lanjut the only one pair WD yang diturunin sepanjang perjalanan Taiwan di Sudirman Cup 2017, Hsu Ya Ching/Wu Ti Jung, dan terakhir WS (Tai Tzu Ying, Hsu Ya Ching, Lee Chia Hsin, dan Chiang Mei Hui).

Simak yukk,,,


Cheng Min Hao / Hu Ling Fang 

Tseng Min Hao (www.tournamentsoftware.com) 

Hung Ling Fang (www.google.com)


Ganda campuran yang satu ini..... aku bingung menuliskannya dari mana. Per 8 Juni 2017, Min Hao-Ge/Hu Ling Fang masih tertahan diperingkat dunia ke-45. Dari segi prestasi, level permainan mereka masih belum menembus level superseries, belum seperti pasangan sebelumnya. Oh iya, diantara keeluruhan pemain Taiwan yang berangkat ke Australia, Min Hao-Ge-lah yang paling senior (dari segi usia). Taeng Min Hao kelahiran Kaohsiung, 27 tahun lalu tepat pada saat pergantian tahun ditanggal 1 Januari 1980, sedangkan pasangannnya, Hu Ling Fang kelahiran 4 Juni 1998.

Tahun 2017 bukan merupakan tahun keberuntungan keduanya, namun cukup untuk pasangan ini, Min-Hao-Ge/Hu Ling Fang berhasil mencapai babak final Orleans Internasional 2017, meskipun harus mengakui pasangan dari Jerman, Mark Lamfuss/Isabel Herttrich: 21-18, 14-21, 10-21. Prestasi lainnya hanya mencapai babak perdelapan final hingga semifinal, seperti menjadi juara di Finnish Open 2017 setelah mengalahkan pasangan Eropa, Mikkel Mikkelsen/Mai Surrow: 24-22, 21-16. Mereka juga menjadi quartel-finalist di China Masters 2017 setelah dikalahkan pasangan tuan rumah, Wang Yilyu/Huang Dongping: 12-21, 15-21.

Now, we move on to another XD's pair.

Lee Yang 李样 / Hsu Ya Ching 许雅清

Lee Yang (www.tournamentsoftware.com)

Hsu Ya Ching (www.tournamentsoftware.com) 

Partner ganda campuran Lee Yang ini merupakan pemain super. Yes! Para BL pasti nggak asing sama pemain puteri Taiwan yang main di-tiga sektor sekaligus: ganda puteri, tunggal puteri, dan ganda campuran. Per 8 Juni 2017, Lee Yang dan Hsu Ya Ching menduduki peringkat 35 dunia. Hampir sama seperti pemain-pemain Taiwan lainnya, meskipun jarang juara namun dengan konsistensi setidaknya mengamankan hingga babak 32 besar, pasangan ini sukses mendobrak 40 besar dunia. Nggak mudah pasti ya, secara Ya Ching-Jie main rangkap di-tiga nomer bahkan dalam satu turnamen doi pernah turun di-semua-nomer itu.

Prestasi tertinggi Lee Yang dan Ya Ching-Jie tahun 2017 ini ketika di Malaysia Masters mereka menjadi quarter-finalist setelah dikalahkan pasangan "saudara tiri" Hong Kong, Tam Chun Hei/Ng Tez Yeu: 19-21, 17-21. Sementara di Singapore Open 2017 dan Badminton Asian Championship 2017, mereka harus puas hanya sampai babak 16 besar, setelah pasangan Hong Kong lain, Lee Chun Hei Reginald/Chau Hoi Wah dan pasangan senior Denmark. Joachim Fiescher/Christinn Pedersen mengalahkannya dengan skor masing-masing: 16-21, 19-21 dan 15-21, 19-21.

Kelihatannya diantara pemain-pemain Taiwan yang sudah kutulis, Ya Ching-Jie satu-satunya yang berasal dari ibukota lama Negara Taiwan, Tainan. Ya Ching-Jie bakal genap berusia 26 tahun pada 30 Juli nanti.


Hsu Ya Ching's another section of play.

Hsu Ya Ching / Wu Ti Jung


Wu Ti Jung (www.tournametsoftware.com)

Padahal Taiwan punya beberapa pemain puteri yang bisa diturunin dinomer ganda puteri sewaktu di Sudirman Cup lalu, tapi sepertinya tim ofisial nggak mau mengambil resiko (secara mereka ketemu mulu sama Korea Selatan), jadilah ganda puteri peringkat ke-18 dunia (update: 8 Juni 2017) ini menjadi andalan mencuri satu poin dari tim lawan.

Pada laga pertama Sudirman Cup 2017, ketika Taiwan berhadapan dengan Rusia, Ya Ching-Jie dan Wu Ti Jung berhasil menyumbang satu poin setelah mengalahkan Ekatrina Bolotova/Alena Davletuva: 21-13, 24-22. Sementara di-dua pertandingan berikutnya melawan Korea Selatan, dua wanita ini dikalahkan oleh ganda terkuat Korea, Chang Ye Na/Lee So Hee dengan straight set 13-21, 18-21, sekaligus mematahkan harapan Taiwan melaju ke babak semifinal :(.

Sepanjang tahun 2017, prestasi Ya Ching/Ti Jung menjadi semifinalis di Malaysia Masters 2017 dikalahkan ditangan pasangan Thailand, Jongkolphon Kittharakul/Rawinda Prajanglai: 24-22, 19-21, 11-21. Teruuss, di Germain Open 2017 mendobrak masuk babak QF dan dikalahkan oleh pasangan tuan rumah, Isabell Hettrich/Caria Helle: 21-14, 19-21, 13-21.

Oh iya, Ya Ching-Jie dan Wu Ti Jung pertama kali dipasangkan ketika China Open 2016, saat itu mereka berhasil merangsek masuk hingga babak enam belas besar. Disana mereka pertama kali juga ketemu pasangan Korea Selatan, Chang Ye Na/Lee So Hee. Pasangan Ye Na/So Hee membantai habis pasangan baru Taiwan ini dengan dua game langsung, 15-21, 12-21.

Sama seperti Ya Ching-Jie, Wu Ti Jung juga sudah berulang-ulang dipasangakan dengan partner WD dan XD lainnya seperti di sektor WD, ia pernah bermain bersama Chen Szu Yu, dan juga Chen Hsieh Pei. Sementara disektor XD, Wu Ti Jung yang kelahiran 23 Februari 1993, pernah main bersama Lee Jhe-Huei dan Lin Chia Yu, hingga saat ini sih, dibandingkan dengan Jhe-Huei, Lin Chia Yu/Wu Ti Jung masih lebih sering terdengar dibeberapa turnamen, meskipun tidak se-cemerlang Lee Yang/Hsu Yan Ching.

ekspresi serius Ti Jung menunggu bola padannya 

Masih ada ganda puteri "asli" lain yang dibawa ke Asutralia, Chang Chung Hui/Yang Ching Tun. Akan tetapi peringkat dunia mereka jauh dibawah Hsu ya Ching/Wu Ti Jung. Per 8 Juni 2017, Chang Chung Hui/Ya Ching Tun berada diperingkat dunia ke-76,

Dua gadis ini masih muda sekali (juga), Chang-Mei kelahiran 17 Mei 1996, sementara Yang-Mei kelahiran 17 November 1995. Dengan banyak pemain muda berbakat di-lebih-dari-satu sektor permainan, rasanya masa depan bulutangkis Taiwan cerah banget cenderung menyilaukan (baguslah, semoga Tpop-nya jadi ikut terangkat :D).

Tahun 2017, prestasi tertinggi keduanya saat di Finlandia Terbuka, mereka sampai dibabak semifinal dan dikalahkan puteri-puteri Nippon, Chisati Hoshi/Naru Shinoya: 11-21, 10-21. Dihari yang sama, Chang Chung Hui bahkan menerima kekalahan disektor ganda campuran bersama partner, Po Li-Wei, yang dikalahkan oleh teman mereka sendiri (scroll keatas), Tseng Min Hao/Hu Ling Fang. Kembali menjadi semifinalis WD di Polandia Terbuka 2017 setelah dikalahkan pemain-pemain muda sekali dari Indonesia, Yulfira Barkah/Meirisa Cindy Sahputri dengan straight game: 15-21, 15-21.


And... the last category of all, Woman Singles.

Taiwan sudah punya tiga cadangan WS sekaligus siap menyusul tekannya yang kini menjadi peringkat satu dunia. Siapa saja?


Masih familiar kan dengan wajah diatas? Ketika dia bermain di XD, dengan partnernya dia menduduki peringkat 35 ; di-WD ia menduduki peringkat ke-18 ; dan terakhir ketika dia bermain sendiri, Ya  Ching-Jie berada diperingkat 24 tunggal puteri dunia (8 Juni 2017).

Ya Ching-Jie pertama kali bergabung dengan tim nasional Taiwan pada tahun 2009 namun memulai debut internasional-nya sejak Chinese Taipei Open 2006. Ya Ching-Jie sejauh ini belum memiliki gelar juara disetiap turnamen karena dia hanya bisa bertahan setidaknya sampai di R2 atau babak kedua alias enam belas besar. Satu kali jiejie berhasil masuk final pada turnamen Ducth Open 2016, namun akhirnya dikalahkan oleh Zhang Beiwen (Amerika Serikat): 11-21, 19-21.

Sewaktu di Hong Kong Open 2016, jiejie bisa menahan kemenangan Sung Ji Hyun (KOR) dengan tiga set: 20-22, 21-14, 21-19. Jiejie melaju ke R2. Sayangnya, di R2, jiejie harus mengakui keunggulan pemain unggulan dari India, Pusarla. V. Sindhu: 10-21, 14-21.

Tahun 2017, Ya Ching-Jie pun belum terlalu menonjol disektor WS. Kala Turnamen Singapore Open 2017, seperti halnya perjuangannya bersama Lee Yang di-XD, jiejie hanya mencapai babak R2 WS setelah ditumbangkan oleh pemain Jepang, Akane Yamaguchi: 19-21, 21-16, 21-23. Lagi-lagi Akane Yamaguchi berhasil mengungguli rekor H2H dengan jiejie setelah mengalahkannya di Badminton Asia Championship 2017 dengan skor 18-21, 20--22.

Hampir serupa seperti Tien Chen-Ge dan Tzu Wei-Didi, Ya Ching-Jie selalu bisa "mengerjai" lawannya terlebih dahulus sebelum benar-benar menyerah. Entah lewat duece maupun hingga set ketiga, atau bahkan set ketiga berakhir dengan duece. Kelihatannya semangat dan kepercayaan diri dilapangan  bisa meningkat drastis karena sudah terbiasa turun di-banyak nomer. Yaa, Aku berharap Fitirani dan kawan-kawan bisa ketularan semangat main-nya para puteri Taiwan ini.

girl on fire~

Here's the strongest woman player from Taiwan....

Tai Tzu Ying (www.tournamentsoftware.com)

Heemm.. aku bingung mau menuliskan tentang Xiao Ying darimana, Bocoran dikit, kalau pemain-pemain sebelumnya aku mencari letak dimana mereka mendapatkan kemenangan setiap turnamen, kalau pemain puteri yang satu ini aku justru mencari dimana-sih Xiao Ying bisa dikalahkan.

Xiao Ying kelahiran Kaohsiung pada 20 Juni 1994 (ciee mau ulang tahun~ :D). Out of topic sebentar deh, mungkin saja pelatnas Taiwan berada di Kaohsiung City, karena rata-rata pemain sebelum ini berdomisili saat ini di Kaohsiung. Bukan satu-dua pemain, hampir seluruh yang sudah kutuliskan disini.

Back to Tzu Ying's.

BL pasti sudah hapal juga kan, kalau Duo Minions-nya Indonesia mendapat hattrick juara superseries awal tahun ini. Yang satu ini sama fantastis-nya. Xiao Ying sejak menjelang akhir tahun lalu hingga sekarang mencapai five-row-tittles: Hong Kong Open Super Series 2016, Dubai World Super Series Final 2016, All England Super Series Premier 2017, Malaysia Open Super Series 2017, dan Singapore Open Super Series 2017. Oh iyaa, tambah satu lagi, Juara WS Badminton Asia Championship 2017.

Sejauh ini Xiao Ying pernah kalah dari pemain Tiongkok, Sun Yu 8-21, 21-23 di China Open 2016 pada babak semifinal ; menjadi runner-up Denmark Open 2016 setelah kalah dari pemain Jepang, Akane Yamaguchi 21-19, 14-21, 12-21 ; bahkan gagal menyumbang emas untuk Chinese Taipei di Olimpiade Rio 2016 setelah menyerah dari pemain India, Pusarla. V. Sindhu: 13-21, 15-21.

Mengutip dari www.tournamentsoftware.com, Tzu Ying resmi bergabung dengan tim nasional Taiwan tahun 2005. Dan menurutnya, Singapore World Super Series 2016 ketika dirinya memasuki babak final saat itu merupakan pengalaman bertanding paling berkesan untuknya karena tepat pada hari itu Xiao Tai sedang berulang tahun dan seluruh penonton yang hadir mengucapkan kata selamat ketika dia memasuki arena pertandingan.

Tiga kali diturunkan diajang Sudirman Cup 2017 lalu, Xiao Ying pasti membantu perolehan poin untuk Tim Chinese Taipei. Pertarungan berat untuknya, sangat terlihat ketika dibabak penyisihan grup, Tzu Ying harus meladeni Sung Ji Hyun sebelum berhasil memenangkan game tersebut.





Another Taiwanese woman singles...

Chiang Mei Hui (www.tournamentsoftware.com)

 dan.... 


Lee Chia Hsin (www.tournamentsoftware.com)

Meskipun Chiang Mei Hui juga bisa diturunkan diposisi WD dan XD seperti pemain lainnya, aku yakin pas diputusin diberangkatin ke Australia, Chiang-Jie dipasang agar WS punya dua wakil yang siap turun sewaktu-waktu bergantian dengan Tzu Ying. Karena dari segi peringkat Chiang-Jie di-WD bersama Ya Ching-Jie dan di-XD bersama Jhe Huei jauh dari peringkat 100 besar, berbeda keadaan melihat peringkat disektor tunggal puteri hanya berbeda satu peringkat dibawah Ya Ching-Jie, peringkat 25 (per 8 Juni 2017).

Prestasi tertinggi jiejie yang lahir pada 13 April 26 tahun lalu ini mencapai babak delapan besar Perancis Open 2016. Kala itu lagi-lagi pemain Korea Selatan, Sung Ji Hyun menghabisi pemain puteri Taiwan lainnya. Kemudian di Vietnam Grand Prix Gold 2016, Chiang-Jie juga mencapai babak delapan besar setelah berjuang tiga set melawan pemain dari "saudara tiri" Hong Kong, Yen Mei Ho.

Seperti halnya, Tzu Wei-Didi yang masih harus mengakui kematangan seniornya, Chiang-Jie pun harus mengakui level permainan profesional dari Tzu Ying di Singapore Open 2017. Saat itu keduanya memperebutkan tiket menuju perdelapan fnal. Chiang-Jie menyerah dua set langsing: 11-21, 8-21. Mendobrak peringkat 30 besar setelah beberapa kali menembus babak R2, termasuk di Swiss Open 2017 dan All England 2017.


Terakhir ada si gadis super Taiwan selain Ya Ching-Jie.

Chia Hsin-Mei yang masih muda sekali, dia baru berusia 20 tahun namun perolehan rangking BWF juga naik perlahan-lahan. Per 8 Juni 2017, Chia Hsin-Mei berada diperingkat 30 dunia. Sama seperti dua jiejie diatas, dari pengamatan seorang BL amateur, Chia Hsin-Mei lambat laun namun pasti bakal segera melonjak keperingkat dua puluh dunia, entah bersama Chi Lin di-XD maupun disektor WS. Kalau WD, hmm.. aku sedikit menyangsikannya sih karena keliatannya prestasinya hingga kini pun tak terlalu baik disana.

Serupa dengan WS Ya Ching-Jie, Chia Hsin belum pernah menjuarai berbagai turnamen. Prestasi terbaiknya sampai dibabak delapan besar, seperti saat Malaysia Masters 2017 dan Korea Masters 2016, namun doi masih termasuk pemain yang tidak menyerah begitu saja seperti Tzu Ying, Tien Chen-Ge, Tzu Wei-Didi, Ya Ching-Jie, Chia Hsin dikalahkan salah satu pemain rangkap Korea, Kim Ga Eun di Korea Masters 2016 lalu: 20-22, 18-21. Bahkan melawan Cheung Ngan Yi (Hong Kong) dengan tiga set: 15-21, 21-19-7-21.

Selanjutnya di Jerman, Swiss, Malaysia Open, hingga Singapore Open 2017, Chia Hsin menembus babak enam belas besar. Meskipun disetiap turnamen dia tidak hanya bermain tunggal, namun dengan pengalaman penguasaan lapangan  dibeberapa sektor, tentu akan membuat kepercayaan dirinya naik, kan? Maka dia bisa bertahan dilapangan.

Lee Chia Hsin in the exercise time (photo source: Lee Chia Hsin's Facebook)

(photo source: Lee Chia Hisn's Facebook)

Baiklah, segala hutangku menuliskan apa yang ingin kutahui tentang pemain-pemain bulutangkis Taiwan sudah selesai sejak KFP #3 dan KFP #4 yang teman-teman baca ini. Bikin sedikit kesimpulan ah.. aku rasa, dengan adanya Tai Tzu Ying yang makin betah bertengger diperingkat wahid dunia sektor WS, Chou Tien Chen memasuki WORLD TOP FIVE MS (update: 8 Juni 2017), dan hasil QF yang diperoleh Tim Taiwan di Sudirman Cup 2017 lalu, akan sangat mungkin Taiwan tumbuh menjadi kekuatan baru dipeta bulutangkis dunia dari Kawasan Asia Timur, menyusul induknya, Tiongkok, Korea Selatan, dan juga Jepang. Kalau diperhatikan dari perolehan skor pemain-pemain Taiwan, ini ada kesamaan dengan pemain Jepang yang memiliki ketahanan bermain dilapangan; seperti pemain Korea Selatan yang ulet; serta teknik yang mumpuni seperti pemain Induk Tiongkok.

Akhirnya, aku cuma berharap sih... Indonesia bisa melihat contioh nyata seperti ini, sehingga Ihsan Maulana Mustofa, Gregoria Mariska Tunjung, dan teman-temannya bisa termotivasi besar dan semakin semangat membawa harum nama Indonesia Raya dimata Internasional. Sudah sejak dulu, kan, bulutangkis selalu membawa nama baik Indonesia. Semoga saja. :)

Terima kasih teman-teman yang sudah menyempatkan waktunya mengunjungi diary yang sangat sederhana ini. Bukan maksud apa-apa, aku hanya ingin membagi pikiranku kepada semua yang membaca.

Ganxie nimen! :)


*****
Note:
Why I give you bonus a song within Popu Lady's song? It is suit for representative girls power, just like Taiwanese female badminton players.




And the SpeXial's, for the boys who are on fire :D


*****

Alika is saying thanks to: 

www.toiurnamentsoftware.com 
www.bwfbadminton.org
English Wikipedia 
www.google.com
www.facebook.com 
www.instagram.com 
www.weibo.com 
www.youtube.com 

Other post from this blog

Kepoin Figur Publik #4: Pebulutangkis Nasional Taiwan Part 2)

Haii, masih ingatkah dengan postinganku sebelumnya yang membahas para pria jago dilapangan bulutangkis ini? Tian Chen-Ge Zi Weii-...