October 25, 2011

FFS - Akhir Cerita Cinta (Chapter 3)


- CHAPTER 3 : U J I A N -

Keesokan paginya. Alarm dikamar Widy sudah berulang kali berbunyi. Namun, pemiliknya masih berkompromi dengan guling dan selimutnya. Justru yang mendengar alarm itu orang yang kamarnya disebelah kamar Widy, Ifan. Ifan mengetuk-ngetuk kamar adik bungsunya itu, namun belum ada jawaban. Ifan berjalan memasuki ruang makan untuk sarapan bersama. Disana sudah ada Raka dan Kevin, serta kedua orang tuanya. Mereka sudah balik dari Sulawesi.

“ Papa.. Mama.. Kapan kalian datang? Kok nggak bilang aku, biar aku yang jemput “ ujar Ifan menyambut mereka

“ Papa sama mama datang, tapi kalian semua udah tidur. Kecuali, Widy. Memang kemana dia, kenapa jam 11 malam baru pulang? “ tanya mama

“ Kemarin seharian aku nggak liat Widy, Ma.. Jadi nggak tau apa-apa. Raka mungkin tau? “ ucap Ifan sambil duduk dikursi meja makan

“ Kalian kan udah mama kasih kepercayaan. Jaga dan awasi selalu adik kalian itu. Jangan dibiarin terlalu bebas “ nasihat mama

“ Ma, udahlah. Jangan terlalu ketat sama anak-anak, terutama sama Widy. Nanti dia malah bisa berontak sama mama “ tambah papa sambil membaca koran harian pagi

“ Mama tenang aja.. Aku sama Kevin lagi menjalankan aksi untuk mendewasakan Widy. Iya kan, Vin?! “ ucap Raka sembari melirik Kevin yang sedang meneguk susu cokelatnya

“ Kalian punya rencana apa? Kenapa gue nggak dilibatin? “ protes Ifan

“ Lo sih, setiap hari diluar mulu.. Jadi ketinggalan berita kan.. “ ceplos Raka,

“ Aku udah selese sarapan. Aku berangkat duluan ya.. “ pamit Raka

“ Kamu nggak bareng Widy? “ tanya mama

“ Kan sekarang ada Kevin. Jadi dia aja yang jadi ‘sopir’nya Widy. “ sahut Raka

“ Gue?! Sejak kapan? Gue juga mau berangkat sekarang. Ada kuliah pagi. Widy dianter Ifan aja ya.. “ Kevin ikutan pamit.

Selepas Raka dan Kevin berangkat kuliah. Widy masih berada ditempat tidurnya. Matanya masih sangat begitu sulit dibuka. Memang semalam ia sampai rumah jam 11 malam. Namun, ia baru terlelap saat jam di dinding kamarnya menunjukkan jam 1 dini hari. Beberapa menit kemudian, tepatnya jam 8. Widy baru membuka matanya. Tak lama kemudian, ia keluar kamar. Ia mencari-cari Kevin, namun yang ia temukan hanya kakak pertamanya yang lagi sibuk dengan laptop-nya.

“ Kak Ifan, liat Kevin? “ tanya Widy. Ifan memperhatikan Widy dari atas sampe bawah secara detail. Widy heran dengan pandangan Ifan.

“ Kenapa sih? Ada yang salah sama aku?! “ tanyanya lagi sambil ngaca dicermin ruang keluarga

“ Kamu nggak kuliah? “ tanya Ifan

“ Ada. Makanya aku nyari Kevin, soalnya mau berangkat bareng “ ucap Widy santai. Mendengar jawaban Widy yang polos, Ifan justru menertawakannya. Membuat Widy bingung.

“ Bukannya jawab, malah ngetawain.. “ gerutu Widy sambil cemberut. Disela-sela kebingungannya, sang mama datang dari arah pintu.

“ Kevin udah berangkat dari tadi bareng Raka, Wid. “ sahut mama

“ Mamaa!! “ pekik Widy sambil berlari ke arah sang mama dan memeluk sang mama manja

“ Kapan datang, Ma? “ tanya Widy masih bergelayut manja

“ Tadi malam. Semalam kemana kamu? Kenapa jam sebelas baru pulang? Jangan kira, nggak ada mama sama papa, kamu bisa seenaknya ya.. Seenggaknya kamu izin dulu ke kakak-kakak kamu.. “ omel mama. Widy hanya cengengesan saat diomel seketika.

Bel rumah berbunyi. Ifan beranjak membukakan pintu. Bani datang menghampiri Ifan. Sebelum berangkat ke kampus, mereka akan rapat dulu mengenai acara pentas seni dikampusnya. Keduanya terlibat dalam kepanitiaan tersebut. Tak lama setelah Bani datang, Rangga datang. Saat berpapasan dengan Rangga dipintu masuk, Bani meliriknya dengan tatapan penasaran. Rangga yang sadar akan lirikan itu, hanya membalasnya dengan senyum. Widy muncul dipintu dan mempersilahkan Rangga masuk. Hati kecil Rangga masih sangat penasaran dengan tatapan Bani ke dirinya. Karena selama ia ada disana, Bani terus-menerus melihat dengan rasa penasaran yang tinggi. 20 menit kemudian, Widy dan Rangga berangkat. Sebenarnya kuliah Widy hanya pagi tadi. Kini ia keluar hanya ingin jalan dengan cowo yang telah resmi menjadi kekasihnya itu. Hatinya begitu bahagia hari itu. Sementara itu, Bani masih berusaha mengorek informasi tentang Rangga melalui Ifan. Barangkali Ifan tau sesuatu. Ia lakukan itu bukan semata-mata karena ingin memuaskan rasa ingin tahunya. Tapi juga ingin, memastikan kalo Rangga bukanlah orang yang pernah mengisi hari-hari Angel dahulu.

“ Fan, lo tau orang yang barusan keluar bareng Widy? “ tanya Bani disela-sela diskusi mereka

“ Hmm.. Yang gue tau sih, mereka temenan deket banget. Oh iya, mereka juga pernah ketemu dibandara waktu pertama kali Widy sampe Jakarta ini “ terang Ifan,

“ Memang kenapa? Lo nggak jealous kan? “ tanya Ifan heran dengan pertanyaan Bani

“ Nggak lah “ sahut Bani,

“ Tapi, apa lo nggak curiga ada yang terjadi diantara mereka? “ tanya Bani. Ifan berpikir sesaat.

“ Maksud lo mereka pacaran? “ Ifan memastikan maksud Bani

“ Lo nggak ngerasa sikap mereka yang nggak canggung-canggungan tadi? “

Well, iya sih.. Tapi, ya udahlah, biar gue tanya ke orangnya nanti. Udah yuk, ke kampus sekarang. Gue ada janji dikampus “ ajak Ifan menyudahi pembicaraan itu

“ Iya deh.. Tau gue, janji sama Natly kan.. “ ledek Bani sembari membereskan kertas-kertas yang berceceran. Sesaat setelah itu, mereka berangkat dengan dua sepeda motor.

***

“ Apaa?? Mereka udah jadian? “ pekik Kevin dan Raka berbarengan saat mendapat laporan dari Morgan tentang Rangga dan Widy

“ Berarti yang gue pikirin semalem bener-bener kejadian. Tapi, masa secepat ini.. “ ucap Raka tak menyangka

“ Gue juga awalnya nggak percaya. Soalnya gue cuma denger dari Dicky, nggak langsung dari yang bersangkutan “ jawab Morgan, “ Kita telat bertindak “ sahutnya lagi setelah menghela nafas sejenak

“ Nggak “ ucap Kevin serius, “ Kita nggak telat. Rencana ini belum sepenuhnya gagal “ lanjutnya yakin

“ Gimana caranya? “ tanya Morgan ragu

“ Kita kembali ke rencana awal. Mendekatkan Reza ke Widy. Sekarang kita cari PJ dan Linzy “ ujar Kevin

Kemudian Kevin, Morgan, dan Raka mencari PJ dan Linzy untuk meminta bantuan dalam ide yang akan mereka laksanakan. Linzy yang sudah mendengar cerita permintaan mereka dari PJ merasa tak keberatan. Ia juga ingin tahu, masih adakah rasa Widy untuk Reza? Hanya saja, kendala datang dari Reza. Reza yang sudah menganggap Widy sebagai temen baiknya merasa nggak enak, walaupun tujuannya baik, untu mendewasakan Widy. Karena cuma ini cara untuk membuat Widy berubah. Dengan berbagai bujukan, akhirnya Reza bersedia. Rencana awalnya adalah Reza mendekati Widy dan membuat Rangga cemburu. Menurut Morgan, Rangga termasuk tipe pencemburu kalo cewe yang ia suka dekat dengan cowo lain. Reza bisa mulai kapanpun dia siap dan mau, sampai ada rambu-rambu rencana berikutnya.

Kencan pertama Rangga dan Widy ada di toko buku. Keduanya memang senang buku. Widy senang novel-novel terjemahan, sedangkan Rangga senang dengan buku tentang sejarah. Saat Rangga akan mengambil suatu buku dari rak yang diatas, ada seorang cewe juga akan mengambil buku itu. Secara tak sengaja, tangan mereka saling bersentuhan. Kedua kanget. Rangga menyadari kalo cewe itu nggak asing dimatanya. Namun ia tak ingat siapa cewe itu. Cewe itu adalah Angel. Angel yang kaget secara reflek, memanggilnya dengan nama Dewa. Rangga heran bagaimana cewe itu tau dengan nama kecilnya. Kemudian, Widy menghampiri mereka. Dan mengenali Angel. Setelah berbicara beberapa kata dengan Angel, Widy mengajak Rangga pergi, karena novel yang ia cari sudah didapatkannya. Dalam hatinya, ia merasa kalo Rangga adalah Dewa-nya yang dulu. Setali tiga uang dengan Angel, Rangga pun penasaran dengan cewe itu.

“ Angel.. “ panggil Bani dari belakang

“ Hah?! Iya? Kenapa? “ tanya Angel canggung

“ Kamu itu yang kenapa, sayang? Kenapa tiba-tiba jadi diem? Buku yang kamu cari udah dapat? “ tanya Bani. Mata Angel berair. Menahan airmatanya yang hampir jatuh. Tapi, ia tak mau menangis didepan Bani, karena Bani akan merasa curiga padanya.

“ Kita pulang yuk. Aku udah selese “ ajak Angel menggandeng Bani hendak pergi

“ Kamu kenapa? “ tanya Bani penasaran

“ Nggak apa-apa. Tiba-tiba aja aku inget ada janji sama GC “ bohong Angel. Kemudian mereka menuju parkiran dan pulang.

***

“ Widy! “ ucap mama saat Widy membuka pintu rumahnya. Mama udah berdiri didepannya

“ Mama?! Ada apa, Ma? “ tanya Widy sedikit merasa takut dengan wajah sang mama yang mungkin akan memarahinya

“ Kamu darimana? Kamu nggak kuliah? “ tanya mama. Widy kaget ketika sang mama menanyakan hal itu. Bagaimana mungkin sang mama bisa tau kalo dirinya memang nggak kuliah ato tepatnya bolos hari itu. Kecuali ada yang memberitahunya. Pikirannya pun langsung menuduh Kevin sebagai biang keladi ini semua.

“ Kenapa nggak jawab? Bingung mau kasih alasan bohong apa? “ omel mama

“ Ngg.. Hari ini aku nggak ada dosennya, Ma.. Terus nggak ke kampus deh “ ujar Widy

“ Oh begitu.. Kalo gitu, ngapain tadi Linzy nanyai kamu ke Raka? Apa kamu juga nggak ketemu sama Linzy atau PJ? “ tanya mama. Widy menunduk bingung akan menjawab apa. Ia memikirkan apakah ini saatnya menceritakan soal Rangga kepada keluarganya, terutama sang mama.

“ Tadi mama liat, kamu dianter cowo ya.. Siapa dia? Kenapa nggak diajak masuk dulu? “ tanya mama seolah mengintogerasi anaknya.

“ Ngg... Ituu.. “ ucap Widy gugup bercampur takut harus mengatakan apa

“ Tante, itu temen deket aku waktu masih di Jogja dulu. Kebetulan, sekarang juga deket sama Widy “ sahut Kevin muncul dari dalam

“ Bener, Vin? Apa bukan pacarnya Widy? Kamu jangan belain Widy!! “ celoteh mama – Tante Risa kepada Kevin

“ Bener kok, Tante. Aku kan nggak berani bohong “ jawab Kevin. Mendengar itu, Tante Risa berpaling pada Widy sebentar lalu masuk kerumah. Widy terlihat lega selepas intogerasi mamanya. Dan sangat berterimakasih pada Kevin telah membelanya didepan sang mama. Saat sedang merayu sepupunya untuk selalu membantunya, HP-nya berdering. Ia tak mengenali nomor yang meneleponnya. Tapi, tetap diangkatnya. Orang yang berada diseberang sana baru mengucapkan satu kata, namun Widy sudah tau siapa orangnya. Reza. Kevin tersenyum penuh arti, lalu meninggalkan Widy sendiri didepan pintu menuju kebelakang rumah.

“ Lo kemana tadi, Wid? Kenapa nggak ke kampus? “ tanya Reza

“ Hmm.. Tadi gue bangun kesiangan. Terus ditinggal deh. Hehehe “ cerita Widy

“ Oh iya, kenapa lo bisa telepon gue? “ tanya Widy

“ Bukan apa-apa sih.. Gue disuruh PJ hubungi lo. Katanya, lo susah sekali dia hubungi. Lo nggak ada apa-apa kan?! “ terang Reza

“ Gue nggak ada apa-apa kok “ jawab Widy, “ PJ mana? Lagi bareng nggak? “

“ PJ lagi dilapangan. Kan tim lagi latihan “ jawab Reza

“ Lo nggak latihan? “ tanya Widy

“ Gue udah pulang. Kaki gue terkilir pas latihan kemarin “ ucap Reza

“ Hah?! Yang bener? Sekarang gimana keadaan lo? “ suara Widy kedengaran panik

“ Udah mendingan sih, tapi masih sedikit terasa sakit. Udahlah, jangan panik gitu. Ini udah biasa kok “ ucap Reza menenangkan

“ Mana mungkin gue nggak panik.. Lo kan orang yang pernah gue suka, sekarangpun gue masih sedikit punya rasa sama lo. Lo masih spesial buat gue “ ucap Widy dalam hati,

“ Kalo gitu, gue jenguk lo sekarang juga!! Lo jangan kemana-mana!! “ ujar Widy mantap

“ Eh, nggak usah ... “ Reza tak sempat mencegahnya, pembicaraannya sudah diputus Widy begitu saja. Reza memandangi HP-nya, sambil tersenyum. Rencana pertama yang diamanatkan padanya sudah hampir berjalan lancar. Kevin mengintip dari balik korden jendela. Ia melihat Widy secara terburu-buru mengambil sepeda motornya di garasi samping, dan pergi secara tergesa-gesa juga. Ia sudah mengira rencana awalnya pasti akan berhasil.

“ Kevin “ panggil Tante Risa dari arah belakang Kevin. Kontan Kevin merasa terkejut.

“ Tante?! Panggil aku? Ada apa? “ tanya Kevin

“ Tadi sewaktu sarapan, Raka bilang kalian sedang merencanakan sesuatu untuk Widy. Boleh Tante tau apa rencana kalian? “ tanya Tante Risa.

“ Maaf, Tante. Bukan aku nggak mau kasih tau. Tapi, Tante bisa tanya ke Raka aja “ usul Kevin. Kevin permisi masuk kamarnya.

***

“ Ehem “ dehem Morgan ketika Rangga baru pulang sambil membaca buku diruang tamu,

“ Katanya hari ini giliranmu yang antar-jemput Dicky. Tapi, kenapa justru keduanya jadi aku yang ngelakuin “ sambung Morgan. Mendengar tuntutan Morgan, Rangga mematung di dekat pintu

“ Kalo kamu keberatan, aku akan meminta uang ke papa buat beliin Dicky motor. Biar Dicky bisa pergi sendiri “ jawab Rangga enteng

“ Bukan masalah itu. Tapi masalah, tanggung jawab dan janji “ ucap Morgan

“ Hmm,, well.. I’m so sorry “ ujar Rangga sedikit merasa bersalah pada Morgan

“ Biarinlah. Namanya juga orang baru kasmaran. Kan maunya berduaan mulu “ ledek Dicky ketika baru keluar dari kamar mandi

“ Dicky!! Ssstt.. “ ucap Rangga malu-malu mengakuinya

“ Kenapa masih pake malu segala.. Dicky udah cerita kok ke aku. Jadi aku udah tau “ ujar Morgan

“ Jadi kamu udah tau soal itu? “ tanya Rangga. Morgan mengangguk.

“ Tapi, aku dukung kok. Aku bakal bantu biar kalian selalu bersama “ lanjut Morgan berjanji. Rangga tersenyum mendengar kata-kata Morgan.

Raka menceritakan semua rencananya bersama Kevin ke sang mama. Tante Risa meminta mereka agar memberitahunya. Raka pun berpikir, tak ada salahnya menceritakan semua ke sang mama. Tante Risa mengerti maksud baik mereka, sehingga mengizinkan keduanya melakukan aksi itu. Dan dari situlah Tante Risa mengetahui bahwa putrinya sedang menjalani hubungan asmara dengan seorang cowo. Tante Risa meminta Raka agar bisa membawa Rangga untuk menemuinya. Walaupun hal itu masih jauh dari rencananya, ia tetap berjanji akan membawa Rangga kepada sang mama,

Angel pulang ke rumah dengan perasaan kacau. Sebenarnya, ia terbiasa terbuka untuk menceritakan semua yang ia alami ke Bani, tapi entah kenapa untuk perasaan yang kali ini, Angel tak bisa menceritakannya kepada Bani. Ia sangat takut Bani merasa cemburu dan tersaingi. Karena ia sudah terlanjur sayang sama Bani.

“ Kamu kenapa? “ tanya kakaknya – Vanilla, saat melihat adiknya nangis sesenggukan dikamar ketika pulang. Angel tak menjawab langsung, ia memeluk Vanilla masih sambil menangis.

“ Kalo kamu nangis, nangislah dulu. Kalo udah tenang, kamu bisa cerita ke kakak kapan aja “ ucap Vanilla menenangkan adiknya. Angel mengusap airmatanya, kemudian mencoba bicara ke kakaknya

“ Aku ketemu Dewa, Kak.. “ ucap Angel sambil terisak-isak. Ia berhanti sejenak menenangkan dirinya. Ia menarik nafas panjang, sebelum ia melanjutkan ceritanya.

“ Tapi, dia sepertinya nggak ngenalin aku. Tapi, aku yakin kalo dia itu Dewa.. “ lanjut Angel

“ Kamu ketemu dimana? Darimana kamu yakin kalo itu dia? “ tanya Vanilla

“ Pertamanya, aku liat dia di rumah temen Bani, Kak.. Waktu itu aku merasa, bukan dia. Tapi, dia punya kesukaan buku yang persis sama seperti aku. Cuma satu orang yang punya kesamaan minat kayak aku, dan orang itu Dewa “ terang Angel dengan yakin. Vanilla membelai rambut adiknya.

“ Ngel, jangan terlalu yakin dulu hanya dengan hal sepele seperti itu. Di dunia ini, mungkin ada banyak orang yang punya kesukaan seperti kalian. “ nasihat Vanilla. Angel tak menjawab lagi. Namun, ia yakin kalo Rangga dan Dewa adalah orang yang sama. Ia pun juga yakin, kalo Rangga juga masih mengingatnya dan kenangan mereka dahulu.

Rangga sedang menonton TV di rumahnya. Namun, pikirannya tak ada di program TV yang ditontonnya. Dengan kata lain, pikiran dan saluran TV itu, tak menyatu. Pikirannya melayang ke seorang cewe yang ditemuinya di toko buku siang tadi. Ia seperti pernah mengenal cewe itu, tapi dia tak dapat mengingat Angel. Lama-lama ia mulai mengingat semua kenangan bersama seorang cewe, tapi wajah gadis itu dalam pikirannya tak begitu jelas, hanya samar-samar. Telepon rumah yang ada didekatnya berbunyi. Ketika ia mengangkatnya, ia mengenali suara dari seberang sana. Dialah sang ayahanda – Om Romi. Om Romi kini berada di Bali. Sudah sangat lama Rangga, Morgan, dan Dicky tak berjumpa dengan sang ayah. Terakhir mereka bertemu saat mereka masih tinggal bersama di Bali, sebelum memutuskan untuk menimba ilmu di Sydney. Om Romi menelpon untuk memberitahu bahwa Beliau akan ke Jakarta, karena urusan pekerjaan dan melihat anak-anaknya. Semenjak ibu mereka meninggal, Rangga dan Morgan memilih untuk tinggal bersama tante mereka yang ada di Australia. Karena Dicky masih terlalu kecil untuk hidup sendiri, maka diputuskan untuk sementara waktu Dicky dalam pengawasan kedua kakaknya.

“ Jadi, papa kapan akan ke Jakarta? “ tanya Rangga setelah berbasa-basi sejenak

“ Besok siang “ jawab Om Romi

“ Maaf, pa. Besok aku nggak bisa jemput dibandara, aku ada kuliah. Tapi, nanti diusahain Morgan yang jemput “ ujar Rangga sambil melihat Morgan yang baru masuk ruang tengah

“ Nggak apa-apa. Kalo kalian nggak bisa, nggak apa-apa. Papa bisa naik taksi aja. Jalanan Jakarta belum berubah kan?! “ canda Om Romi

“ Hmm.. Papa sebentar lagi ada meeting, udah dulu ya “ tutup Om Romi.

***

“ Papa? “ tanya Morgan setelah Rangga menaruh gagang telepon ditempatnya

“ Iya. Besok siang papa kesini. Kamu bisa jemput dibandara? Besok aku ada kuliah siang “ ucap Rangga

“ Bisa. Kebetulan besok setelah jemput Dicky aku nggak ada kegiatan, nanti biar langsung ke bandara “ jawab Morgan. Ia mendengar Rangga bersenandung bahagia. Rasa penasaran melingkupi relung hatinya.

“ Kenapa? “ tanyanya pada Rangga sambil mengerutkan alisnya

“ Kalo papa kesini, berarti bisa semakin cepet ngenalin Widy ke papa “ ujar Rangga seneng

“ Secepat ini? Kalian kan baru jadian? “ tanya Morgan

“ Nggak masalah kan?! Yang penting, kita sama-sama yakin jalani yang lebih serius “ ujar Rangga. Morgan terkejut dengan jawaban Rangga.

“ Tapi, bisa kan nunggu sampe beberapa bulan berlalu “ ujar Morgan

“ Memang kenapa? Katamu, mau dukung aku terus. Tapi, kenapa sekarang nentang.. “ ucap Rangga sedikit kecewa

“ Aku memang dukung yang terbaik buat kalian. Tapi buat yang ini, aku rasa masih terlalu cepet “ ucap Morgan

“ Terserah kamu mau bilang apa. Yang jelas, aku akan segera ngenalin Widy ke papa “ ujar Rangga keras kepala sambil bangkit dari sofa yang didudukinya

“ Morgan, kamu harus inget, kita disini cowo semua. Kita butuh sosok perempuan sebagai ganti mama. Dan aku yakin, Widy-lah orangnya“ ujar Rangga. Setelah berkata demikian, Rangga berlalu pergi entah kemana.

Sementara itu Widy sedang ada dirumah Reza. Menjenguk Reza yang sebenarnya hanya berpura-pura untuk menjalankan misi bersama. Reza bener-bener bisa diandalkan dalam hal berpura-pura. Ia pandai sekali membuat Widy salting saat lagi bersamanya. Beberapa kali Widy mencoba menatapnya diam-diam, namun, Reza tiba-tiba berbalik memandangnya, akibatnya Widy terburu-buru mengalihkan pandangannya ke tempat lain. Reza membaca gelagat aneh itu. Beberapa kali juga, Reza menangkap wajah Widy yang memerah.

Beberapa jam kemudian Widy pamit pulang, karena sudah larut malam. Reza mengantar Widy kedepan rumahnya, untuk mencari taksi. Sebenarnya, Reza menawarkan diri mengantar Widy pulang. Tapi, Widy menolak dengan alasan cedera pada diri Reza. Taksi yang ditunggu-tunggu lama. Saat sedang menunggu, mobil Bani lewat dan melihat Widy dipinggir jalan. Ia berhenti dan menawari Widy pulang bareng. Widy tak menolak. Karena memang ia sudah lelah seharian belum dirumah. Tak ada rasa canggung dalam dirinya, karena Bani merupakan teman baik kakaknya. Selepas Widy pulang bersama Bani, Reza menelepon Raka dan memberitahunya bahwa Widy dalam perjalanan pulang bersama Bani. Raka tak menduga, bagaimana cara Widy bisa bertemu dengan Bani.

***

“ Wid, kalo boleh tau, cowo yang waktu itu kerumah kamu, apa pacar kamu? “ tanya Bani membuka obrolan sepanjang perjalanan

“ Hmm.. Maksudnya Rangga? “ Widy memastikan terlebih dahulu,

“ Ngg.. Cuma temen aja kok.. “ jawab Widy malu-malu

“ Kok jawabnya nggak meyakinkan sih.. Temen ato temen.. “ sindir Bani yang mengetahui kalo Widy berbohong soal statusnya

“ Iihh.. Temen kok.. “ ucap Widy memaksa dengan wajah merah padam

“ Kalo temen, kenapa muka kamu merah gitu? “ tanya Bani mneyindir lagi. Lama-lama Widy nggak bisa menutupinya lagi, akhirnya ia terbuka pada Bani. Sebenarnya ia merasa takut untuk bercerita pada Bani, karena takut kalo Bani akan membukanya semua ke Ifan. Padahal, ia belum mau memperkenalkan Rangga sebagai pacarnya kepada keluarganya. Selama ini kedua orangtuanya terlalu selektif dalam hal mencari pasangan hidup untuk anak-anaknya. Raka dan Mezty yang sudah berpacaran selama kurang lebih setahun, belum bener-bener mendapat lampu hijau dari orangtuanya. Berbeda dengan Natly, yang lagi deket sama Ifan, justru udah diterima sama keluarga. Widy pun lebih deket kepada Natly dibandingkan sama Ifan, kakaknya sendiri. Tapi, ia juga takut. Kalo Rangga nggak bisa diterima keluarganya.

“ Jadi, karena ketakutan itu kamu belum bilang semua? “ tanya Bani pada Widy yang tiba-tiba diam melamun

“ Aku pasti akan bilang ke semua, kalo saatnya udah tepat. Mungkin kalo uda berjalan sebulanan “ ucap Widy

“ Sebelum sebulan, cepat ato lama semua pasti akan tau. Entah dari kamu atau siapapun “ ujar Bani

“ Tapi, Kak Bani jangan cerita dulu ya sama Kak Ifan. Biar aku yang cerita “ pinta Widy

“ Baik. Aku nggak akan bilang-bilang.. Tapi, bisa kamu ceritain ke aku soal cowo itu “ ucap Bani ingin tahu mengenai Rangga

“ Rangga?! Memang kenapa? “ tanya Widy juga penasaran dengan maksud pertanyaan permintaan Bani. Bani berpikir sejenak. Berpikir untuk memberitahu Widy atau tidak mengenai kemungkinan Rangga adalah Dewa, orang yang sempat spesial bagi Angel. Tetapi, Bani tidak mengatakan yang sebenarnya pada Widy. Namun, biarpun status sudah berpacaran dengan Rangga, Widy masih belum terlalu mengenal masa lalu Rangga. Sehingga belum banyak infomarsi yang didapat Bani saat itu. Sesampainya dirumah, Widy mengucapkan terima kasih ke Bani dan segera masuk ke rumah. Widy pulang bersamaan dengan mobil Ifan sampai dirumah juga.

“ Widy “ panggil Ifan menyetop langkah Widy yang mau masuk rumah

“ Tadi kamu pulang bareng Bani? Dimana kamu ketemu dia? “ tanya Ifan sambil mengunci mobilnya

“ Tadi pas aku lagi nunggu taksi, kebetulan Kak Bani lewat, terus aku diajak bareng “ jawab Widy. Widy mencium hal yang tidak biasa dari sang kakak. Penampilan Ifan yang tiba-tiba rapi dan beraroma parfum. Widy curiga.

“ Kak Ifan abis darimana? Kok tumben masih rapi dan wangi gini?! “ tanya Widy sambil berjalan disamping Ifan

“ Maksud pertanyaan kamu apa? Berarti selama ini aku nggak rapi dan wangi ya?! “ ucap Ifan melirik Widy dengan pandangan tersindir

“ Bukan gitu.. Aneh aja.. Oh, aku tau.. Pasti abis nembak Natly.. “ tebak Widy menggoda Ifan. Tebakan Widy memang benar, namun Ifan tak mau mengakuinya, walaupun wajahnya memerah. Ia berkelit mencari jawaban lain. Tapi, Widy tetap saja menyindir-nyindir. Akhirnya Ifan mempercepat langkahnya masuk kerumah. Tante Risa mengira Ifan dan Widy pergi bersama, hasilnya Tante Risa memarahi Ifan karena membawa Widy pulang terlalu malam. Melihat itu Widy menjulurkan lidahnya mengejek Ifan dan berlalu masuk kamar. Widy merasa sangat kelelahan hari ini, maka dari itu ia ingin cepat-cepat bertemu dengan bantalnya. Namun, saat ia keluar dari kamar mandi, Kevin sudah ada dipintu kamarnya yang nggak ditutup dengan memasang wajah penuh taktik. Kevin ingin memastikan soal Widy dan Rangga, walaupun ia sudah tau soal itu. Tapi dibalik itu semua, Kevin lebih ingin bilang kalo Tante Risa sudah mengetahui semua. Widy kaget mendengar ucapan Kevin itu.

“ Mana mungkin mama bisa tau, aku kan belum cerita kesiapa-siapa “ elak Widy tak percaya

“ Kamu belum cerita aja, udah banyak yang tau.. “ ujar Kevin santai

“ Heh, pasti lo juga kan yang nyebarin.. Embeerr!! “ umpat Widy kesal

“ Jangan asal nuduh dulu.. Harusnya kamu liat-liat orang yang ada disekitar dia “ ucap Kevin sambil berlalu meninggalkan kamar Widy. Widy menutup pintu kamarnya dengan kesal. Ia memikirkan siapa orang yang sudah membeberkan semua. Ia teringat kata-kata Kevin yang terakhir, dan ia tau siapa yang pertama kali mengawali persoalan yang masih ingin ia rahasiakan ini. Pikiran Widy tentang siapa yang pertama kali mengabari dunia tentang asmaranya. Dugaannya tak jauh dari kekasih hatinya sendiri, Rangga, yang mungkin berbagi cerita ke adiknya, Morgan.

- To Be Continued -

October 7, 2011

FFS - Akhir Cerita Cinta (Chapter 2)


- CHAPTER 2: IDE KEVIN -

Bani mengantar Angel pulang. Angel meminta masuk sebentar. Karena orang tuanya ingin kenal dekat dengan Bani. Saat melewati depan kamar Angel, ada meja kecil yang terdapat foto-foto Angel dan beberapa temannya. Ada satu foto yang langsung dilirik Bani, karena penasaran. Foto Angel dengan seorang cowo yang sangat terlihat akrab. Cowo di foto itu mirip dengan Rangga.

“ Ini siapa? “ tanya Bani saat Angel keluar dari kamarnya. Angel speechless saat Bani melihat fotonya yang satu itu.

“ Itu temen baik aku “ jawab Angel gugup, karena tak mungkin ia bilang ke Bani kalo itu adalah mantannya, mengingat ia juga tau kalo orang yang ia sempet ia sayangi itu mirip dengan temen dari adik sahabat baik Bani

“ Tapi, dia mirip temen Widy yang tadi dirumahnya. Apa jangan-jangan... “ tebak Bani sedikit curiga

“ Ah, bukan kok, sayang. Memang awalnya aku kira itu dia, tapi bukan. Biarpun mirip tapi mereka orang yang berbeda “ ujar Angel mengambil foto itu dari tangan Bani dan menaruhnya dimeja semula

“ Memang meja ini khusus untuk menyimpan semua kenangan masa lalu aku. Kalo untuk yang saat ini, aku pajang dikamar “ terang Angel sambil menata ulang meja itu, “ Udah yuk, ke meja makan. Orang tua aku udah nunggu “ ajak Angel menggandeng Bani menuju ruang makan. Tapi, bagi Bani tetap ada yang mengganjal di hatinya. Mengenai sosok cowo yang di foto itu. Dan sikap aneh Angel saat dirinya melihat foto itu. Namun, demi menjaga perasaan kekasih hatinya itu, ia tak bertanya lebih banyak lagi. Orang tua Angel menanyakan keseriusan Bani pada Angel. Maklum, sebagai orang tua ingin anaknya bahagia bersama orang yang disukanya. Sebenarnya mereka udah menjodohkan Angel dengan cowo lain. Tapi, melihat hubungan asmara anaknya dengan Bani mereka memikirkan ulang rencana perjodohan itu. Karena mereka melihat Angel banyak berubah menjadi anak yang lebih baik sejak kenal sama Bani.

Kamar Widy penuh dengan buku-buku kuliah miliknya. Niat awalnya adalah belajar untuk kuis esok harinya. Tapi, yang terjadi adalah buku-bukunya penuh dengan puisi jatuh cinta yang pada sisi kertas terdapat ikon-ikon hati. Saat lagi asyik dengan puisi-puisinya, HP-nya berdering. Nada telepon masuk. Widy membaca nama di layar HP-nya. Dari posisi tengkurap, langsung berubah menjadi posisi duduk di tepi tempat tidurnya saat tau yang menelponnya adalah Rangga.

“ Hai “ sapa Widy sopan saat mengangkat panggilan itu

“ Hai juga “ balas Rangga, “ Hmm.. Lagi apa? Maaf ya, kalo ganggu “ ujarnya lagi

“ Nggak ganggu kalii.. Lagi mikirin kamu juga “ batin Widy sambil cengengesan sendiri ,

“ Ah, nggak apa-apa kok. Aku lagi nyiapin materi kuis buat besok. Anyway, ada apa? “ ujar Widy

“ Oh iya, kamu besok ada kuliah jam berapa? “ tanya Rangga to the point

“ Besok yaa?! Ada kuliah pagi. Jam 8. Kenapa? “ tanya Widy seusai melihat jadwal kuliahnya

“ Jam 8 ya?! Gimana kalo aku yang nganter kamu besok ke kampus?! “ ucap Rangga

“ Ngg.. Boleh.. Kalo gitu mau jemput jam berapa? “ tanya Widy bahagia sambil bangkit dari duduknya dan berjalan ke balkon kamarnya

I’ll pick up you at 7.00 a.m. Agree? “ tanya Rangga

Okay “ ucap Widy

“ Well, see ya “ ujar Rangga sebelum menutup panggilannya

See ya too “ jawab Widy. Kemudian panggilan itu saling disudahi. Widy makin nggak bisa berhenti tersenyum sendiri. Ia menatap bintang di langit masih dengan senyumannnya. Rangga pun juga begitu. Ia manjatuhkan diri di tempat tidur dengan rasa bahagia juga.

Keesokan harinya. Widy udah standby di teras rumah menunggu jemputan Rangga. Sudah dari jam setengah 6 Widy siap menuju kampusnya. Biasanya pagi hari ini, Widy merengek minta bareng sang kakak, Raka, yang satu kampus dengannya. Namun kini, jangankan ia yang meminta, Raka yang menawarinya pun, ditolaknya demi jemputan orang yang ia sukai. Tepat jam 7, Rangga sampai di rumah Widy. Setelah pamit dengan semua orang rumah, Widy berangkat. Hari ini merupakan hari pertama lagi bagi Widy kembali ke kampusnya, setelah selama setahun mendapatkan beasiswa melanjutkan study-nya di Sydney, Australia. Tak ada rasa canggung lagi dalam dirinya. Tak berubah selama ia meninggalkan kampus tercinta kurang lebih setahun. Ia tetap dekat dengan dua sahabatnya, Linzy dan PJ. Yang berubah hanyalah, perasaannya. Kalo dulu ia berat meninggalkan kampus, karena gebetannya yang sekelas dengannya. Kini, ia kembali kesana dengan perasaan yang bukan lagi untuk Reza – teman plus gebetan Widy dulu. Saat tiba dikampus, Widy terkejut melihat Reza berbaur dengan PJ dan Linzy. Dan juga bersama seorang atlet basket kampusnya, Rafael. Ternyata Rafael adalah teman dekat Reza. Telah lama Rafael menjadi incaran Linzy. Namun, Widy belum mengetahuinya.

“ Haaii semua “ sapa Widy ketika menghampiri teman-temannya

“ Ceria banget, Wid?! Jangan-jangan, ... “ Linzy asal nebak sembari ngasi isyarat menunjuk ke Reza yang ada disebelahnya

“ Apaan sih, Zi.. Bukan itu kalii.. Ada yang lebih bikin gue bahagia!! “ ujar Widy sumringah. Linzy dan PJ saling berpandangan heran satu sama lain mendengar pengakuan Widy.

“ Kalian bingung ya.. Nanti gue ceritain deh.. “ janji Widy,

Anyway, kenapa kalian berdua bisa ada disini? “ tanya Widy ke Reza dan Rafael

“ Kita lagi bujuk PJ, biar dia mau jadi manajer tim basket kampus. Karena kalo gue perhatiin, minatnya di basket cukup bagus. Tapi, dia terlalu lama mikir. “ terang Rafael

“ Oh, lo nggak salah pilih.. PJ emang jago banget basketnya.. Jangankan manajernya, pemain inti pun, dia siap.. “ cerocos Widy.

“ Tuh kan, gue juga bilang gitu. PJ-nya aja tetep nggak mau.. “ sambung Vicky

“ Zi, lo nyuruh gue ikut, biar enak di elo kan.. I know your mean.. Wid, gue udah bilang nggak minat, ya nggak mau. Don’t force me anymore! “ ujar PJ

“ Sssttt.. Don’t talk it too loud!! “ Linzy memperingati sambil membungkam mulut PJ

“ Apa sih yang kalian bicarain? Gue sama sekali nggak bisa ngikutin tau!! Ada yang kalian sembunyiin dari gue? “ tanya Widy pada dua sahabatnya itu. Kevin bersama Raka dan Morgan melewati sekitar Widy. Dalam benak Widy terbesit untuk menyapa mereka. Maksudnya mendekati Morgan demi mendapatkan kakaknya. Widy pamit pergi ke teman-temannya, dan segera mengejar sang kakak dan dua orang lainnya yang udah berjalan cukup jauh. Saat Widy menyapa mereka, Kevin sudah tau apa maunya Widy mendekati mereka. Otak jahil Kevin mulai beraksi. Ia memanfaatkan niat sepupunya itu untuk mengerjainnya. Kevin mengajak Morgan segera menuju kelas dan menjauhi Widy dengan begitu taktiknya akan berjalan sempurna. Rencananya itu dibisikkan kepada Raka. Raka menyetujuinya.

“ Eh, udah jam segini kan.. Yuk, masuk. Kita kan baru, jadi jangan telat “ ajak Kevin pada Morgan

“ Kevin! Lo rese banget sih!! Urusan gue sama dia kan belom selese, lo main ngajak dia cabut aja.. “ ucap Widy sebel

“ Tunggu, emang lo nggak ada kuliah? Temen-temen lo aja udah masuk tuh.. “ ujar Raka ikut-ikutan ngerjain Widy

“ Udah ya.. Kapan-kapan lagi dilanjutinnya. Bye. Yuk, masuk, Vin.. “ ajak Morgan. Kevin dan Morgan berjalan masuk kelas mereka. Tersisa Widy dan Raka di tempat itu. Sebelum Raka gabung bersama teman-temannya, ia mengusili adiknya terlebih dahulu.

“ Ehem. Makanya baikin orang, jangan cuma karena ada maunya. Sekarang kalo lo butuh, nggak ada yang bantu kan?! “ ledek Raka

“ Apaan sih, Kak Raka.. Bukannya adiknya dibantu malah diledekkin.. Huh! Nyebelin! “ umpat Widy kesal. Raka hanya menanggapai dengan tawa jahil sambil tertawa mengejek. Widy tambah kesal. Raka berjalan menjauh dari Widy. Namun, Widy menyetopnya sebelum jauh.

“ Kak Raka! Tunggu!! “ panggil Widy dari belakang

“ Apa? Kalo ada perlu, nanti aja deh dirumah. Sekarang gw mau masuk dulu “ ucap Raka tanpa membalikkan badannya menghadap Widy

“ Ya terserahlah. Aku cuma mau tanya aja kok. Kakak kenal sama temennya Kevin yang tadi itu? “ tanya Widy terus terang

“ Ya iyalah. Dulu kalo gue ke Jogja, temen main Kevin, ya temen main gue juga “ jawab Raka sambil tertawa kecil, “ Memang kenapa? Kamu suka sama dia? “ tebak Raka menggoda Widy

“ Ah, nggak kok.. Cuma mau tau aja.. “ sahut Widy salah tingkah,

“ Udah ya, aku mau ke kelas dulu. Bye “ ujarnya sambil berlari menuju kelasnya.

***

( Backsound : Gadisku, by: SM*SH )

Rangga bersenandung lagu yang bertemakan jatuh cinta dengan senyam-seyum sendiri. Ini semakin menguatkan kesimpulan Bisma dan Tryan kalo Rangga sedang jatuh cinta. Begitu juga dengan teman-temannya yang lain. Bukan seperti temen mereka yang biasa. Yang biasanya selalu bersikap cuek.

“ Hei “ sapa Bisma saat menemui Rangga di depan kelas mereka. Rangga tak membalas sapaan itu, justru sibuk dengan HP-nya.

“ Ehem. Lagi jatuh cinta sih jatuh cinta, tapi temen sendiri bisa kali kalo nggak dikacangin “ sahut Tryan

“ Kalian tau yang gue rasain sekarang? “ tanya Rangga yang baru sadar akan kehadiran Bisma dan Tryan

“ Ternyata dugaan kita bener “ ucap Bisma saling berpandangan dengan Tryan

“ Nggak usah heran gitu. Semua juga tau kalo lo baru fallin’ in love. Sikap lo udah bicara “ terangnya lagi

“ Siapa sih emangnya yang bisa bikin jadi kayak gini? “ tanya Tryan penasaran

“ Kalian penasaran?! Kalo gitu, tunggu sampe gue bisa dapetin dia. Pasti gue kenalin sama kalian “ ujar Rangga

“ Wah, lama nih “ bisik Bisma ke Tryan

“ Apa lo bilang? Gw denger yang lo bisikkin. Tenang aja, ini nggak bakal lama. Dia udah ngasih lampu hijau buat gw “ ucap Rangga santai

“ Ciee.. Lampu hijau.. Awass kita diseruduk.. “ canda Bisma disambut tawa kecil Tryan. Rangga hanya diam mendengar ledekkan teman-temannya.

“ Oh iya, jangan lupa. Jam 2 siang ini, kita ada latihan buat pertandingan persahabatan sama kampus tetangga. “ ingat Tryan

“ Hah?! Kok gw nggak dibilangin dari kemarin?!! Kalo dadakan gini, gue .... “ ujar Rangga terkejut dan bingung harus memberi alasan apa

“ Gue udah SMS lo semalem. Apa lo nggak baca? “ tanya Bisma. Rangga mengecek inbox di HP-nya. Dan bener aja, ada 1 unread message. Dari Bisma.

“ Jelas aja nggak kebaca, semalem kemaren kan gue sms-an sama Widy terus.. “ batin Rangga

“ Hei, kenapa bengong? Bisa kan? Kita nggak punya banyak waktu lagi buat mikir “ desak Tryan

“ Oh iya.. Gue usahain nanti gue bisa. Tenang “ jawab Rangga ragu-ragu

“ Harus “ paksa Bisma. Rangga terdiam seribu bahasa lagi.

***

“ Jadi, intinya kita bikin Widy dilemma sama perasaannya. Kalo udah gitu kan, dia pasti berpikir mana yang terbaik buat dia. Dan mungkin hal itu bisa bikin dia sedikit lebih dewasa. Gimana ide gue? “ ujar Kevin saat membicarakan rencananya untuk Widy bersama Morgan dan Raka

“ Caranya gimana? Berarti kita harus nyiapin dua hati buat dia dong?! “ tanya Raka memastikan. Kevin mengangguk, sebelum melanjutkan idenya.

“ Pastinya. Yang satu, udah jelas orangnya “ ujar Kevin sembari melirik Morgan yang ada disebelahnya

“ Kenapa liat gue? Bukan gue kan orangnya itu? “ tanya Morgan

“ Yaa, bukanlah.. Tapi, kakak lo “ jawab Kevin santai sambil senyum

“ Rangga?! “ pekik Morgan,

“ Kenapa bisa dia? “ tanya Morgan

“ Karena Widy suka Rangga. Dia sendiri yang ngakuinnya ke gue. Pas kemaren kalian pulang dari rumah. Malah minta bantuan gue buat nyombalangin “

“ Tapi masalahnya, gue bingung siapa orang keduanya.. “ gumam Kevin kemudian sambil menunjukkan mimik berpikir.

“ Hmm.. Gimana kalo Andi. Emang sih, mereka udah putus, tapi kalo cuma untuk ngerjain Widy, gue kira nggak apa-apa “ usul Raka

“ Kalo menurut gue, orangnya harus yang pernah disuka Widy sebelum ada Rangga. Tentunya selain Andi “ Morgan memberi ide.

Disaat yang bersamaan. PJ dan Rafael berjalan melewati ketiganya menuju lapangan basket. PJ yang sudah setuju menjadi manajer tim basket kampus akan diperkenalkan ke seluruh pemain oleh Rafael selaku kapten tim. Back to Kevin’s idea. Raka memanggil PJ agar mendekat ke mereka sebentar.

“ Ada apa? “ tanya PJ ketika menghampiri tiga cowo itu

“ Nggak apa-apa sih. Lo deket kan sama Widy. Jadi harusnya lo tau dong, siapa yang lagi disukai Widy? “ tanya Raka to the point dengan maksudnya ke PJ

“ Lho, kamu kan kakaknya. Harusnya lebih tau dong soal adik sendiri “ ucap PJ heran

“ Emang seorang kakak harus selalu tau soal adiknya?!! Kan nggak harus tau privasinya. Apalagi Widy nggak pernah cerita soal pribadi kalo dirumah. Mana gw ngerti “ terang Raka,

“ Udah. Sekarang jawab aja pertanyaan Raka tadi “ suruh Kevin

“ Aku tau sih. Tapi, Widy nyuruh tutup mulut. Jangan sampe bocor kemana-mana “ jawab PJ

“ Lo dibayar berapa sama Widy?! Sampe nggak mau ngasih tau.. “ sahut Kevin terlihat nggak sabaran. Morgan menenangkan Kevin.

“ Emang kenapa kalian mau tau? “ tanya PJ. Sebelum menjawab pertanyaan PJ, Raka berbisik sesuatu ke Kevin dan Morgan

“ Oke. Kita kasih tau. Tapi, lo harus bantuin kita ya “ ujar Kevin.

Kemudian PJ mendengarkan rencana ketiganya. Setelah mendengarkan keseluruhan, PJ mengatakan tentang perubahan sikap Widy akhir-akhir ini yang tiba-tiba menjadi ceria, seperti seolah-olah tingkah orang yang lagi jatuh cinta. Itu semakin menguatkan kesimpulan Kevin, Morgan, dan Raka tentang tebakan kalo Widy sedang jatuh cinta lagi.

“ Oh, ternyata ada lagi yang dia suka. Pantes aja waktu ada Reza sikapnya biasa aja, padahal biasanya dia suka salting didepan Reza “ ucap PJ mengerti akan perubahan sikap sahabatnya sekarang

“ Reza?!! “ pekik Raka dan Rafael kaget secara bersamaan dan langsung menatap PJ dengan pandangan penasaran akan kelanjutannya

“ Reza yang penerima beasiswa itu?! Kalo nggak salah dia tim basket juga kan?! “ tanya Raka memastikan.

“ Iya ... “ jawab PJ

Sorry gue motong pembicaraan kalian “ potong Rafael sebelum PJ melanjutkan kata-katanya sambil melihat jam tangannya

“ Je, kayaknya kita harus cepet ke lapangan deh. Anak-anak udah nunggu “ ujar Rafael. PJ mengangguk mengerti. PJ dan Rafael permisi dari depan tiga cowo itu. Selepas kepergian PJ dan Rafael, mereka melanjutkan rencananya dan berbagi tugas. Kevin bertindak sebagai leader, karena dia yang memiliki ide ini. Morgan bertugas membuat Rangga lebih agressif untuk mendekati Widy dan juga memantau agar Rangga tidak meyatakan cinta ke Widy dalam waktu dekat ini. Raka kebagian tugas mendekatkan Reza ke Widy.

Siang harinya. Rangga menghubungi Widy, memberitau kalo siang itu ia tidak jadi menjemput Widy karena ia harus latihan bersama tim basketnya. Yang secara otomatis, membatalkan acara jalan-jalan siang mereka. Tapi, Rangga berjanji akan mengganti janji yang gagal terwujud itu dilain hari. Awalnya, Widy sempet merasa kecewa, namun ia dapat memakluminya setelah dijelaskan alasannya. Widy pun terpaksa memohon-mohon pulang bareng Kevin. Karena teman-temannya udah punya acara sendiri, ditambah Raka masih jalan sama pacarnya, Mezty.

***

“ Kak Angel, udah tau belum berita baru? “ tanya sang adik pada Angel sampe dirumahnya

“ Berita baru apa? “ tanya Angel berdiri di samping sofa yang diduduki Grace-adik semata wayangnya, yang biasa dipanggil GC

“ Tadi aku denger, mami telepon-teleponan sama tantenya Kak Dewa. Katanya Kak Dewa udah ada di Jakarta “ ujar GC menceritakan tentang cowo yang sudah dianggap Angel sebagai mantan pacar itu

“ Oh ya?? “ tanya Angel cuek sambil berjalan mengambil air minum di lemari es

“ Iihh, kakak kok nggak tertarik gitu.. Bukannya dulu kakak berat ngelepasin Kak Dewa waktu dia pindah ke Bali?!! “ tanya GC

“ Itu kan udah masa lalu.. “ ucap Angel kembali menuju sofa

“ Aku udah nggak perduli lagi sama dia sekarang. Dia udah lupa sama aku juga. Buat apa diinget-inget “ ujar Angel sambil menyalakan tv dengan remote

“ Kak, apa itu sebabnya foto-foto Kak Dewa kakak taruh dimeja luar kamar kakak? “ tanya GC mau tau

“ Iya “ jawab Angel santai

Dulu Dewa adalah teman masa kecil Angel, dan sempat selama beberapa bulan menjadi pacarnya sewaktu Angel berusia 18. Kemudian Dewa harus mengikuti ayahnya pindah ke Bali sepeninggal ibunya. Selama setahun mereka menjalani pacaran jarak jauh, antara Jakarta dan Bali. Memasuki tahun kedua, Dewa udah jarang memberi kabar ke Angel, bahkan sampai tidak pernah mengabarinya sedikitpun. Angel sempet merasa sedih, dan menganggap hubungannya dengan Dewa sudah berakhir 2 tahun yang lalu. Yang terlebih parah, saking patah hatinya, Angel sempet menutup hati untuk semua cowo yang mendekatinya. Namun, kehadiran Bani mampu mengubah semuanya. Bani menunjukkan itikad baik mendekati Angel dengan sayang dan tulus, pintu hati Angel terketuk dan akhirnya terbuka untuk Bani. Kini, ia merasakan ada keanehan disekelilingnya. Ia bertemu dengan Rangga, yang sangat mirip dengan Dewa. Disaat yang hampir bersamaan, ia mendapatkan kabar Dewa telah balik lagi ke Jakarta. Ia sempat berpikir bahwa Rangga dan Dewa adalah orang yang sama. Namun, baginya siapapun itu tak akan mengubah apapun untuk saat ini. Hatinya untuk Dewa sudah benar-benar tertutup, yang ada hanya untuk Bani.

Malam harinya, Rangga menuju ke rumah Widy. Sengaja ia tak memberi pemberitahuan ke Widy. Karena ia ingin mengejutkan Widy. Sepanjang perjalanannya, ia menelpon beberapa restoran untuk reservasi. Namun, selalu penuh. Akhirnya ia mendapatkan restoran itu. Restoran mewah dipinggiran kota Jakarta. Selanjutnya, ia menjemput Widy dirumahnya.

“ Non Widy, ada yang nyari didepan? “ ucap pembantu dirumahnya saat Widy sedang menonton TV bersama Raka

“ Siapa, Bi? “ tanya Widy

“ Cowo, non. Dia nggak mau menyebutkan nama “ jawab pembantu itu, dari balik majalah yang dibacanya, Raka ikut penasaran siapa cowo yang mencari Widy itu.

“ Hah? Cowo? Dimana dia? “ tanya Widy kaget

“ Diteras “ jawabnya lagi.

***

“ Hei “ sapa Rangga saat Widy muncul dari dalam

“ Ada apa malam-malam gini? “ tanya Widy halus

“ Ngg.. Aku mau ganti rencana kita yang gagal tadi siang. Ikut aku yuk “ ajak Rangga

“ Sekarang? “ tanya Widy

“ Iya “

“ Dadakan gini?! Aku belum siap “

“ Akan kutunggu “

Widy masuk ke kamarnya. Ia membuka lemarinya, mencari pakaian yang terbagus yang ia miliki. Diambilnya rok mini hitam dan baju berwarna ungu dari lemarinya. Segeralah ia berganti, selesai ganti ia duduk dikursi depan meja riasnya. Nggak sampai 15 menit, ia sudah keluar kamar dengan penampilan terbaiknya, dengan rambut panjangnya yang tergerai indah. Raka melihat penampilan Widy rapi. Ia pun menjadi penasaran. Ia mengintip dari jendela, ternyata benar dugaannya. Ia pergi bersama Rangga. Raka langsung menemui Kevin diruang komputer keluarga. Dan menceritakan yang dilihatnya. Kevin segera menghubungi Morgan untuk menanyakan barangkali Morgan tau kemana tujuan Rangga malam itu. Namun, Morgan hanya mengatakan bahwa Rangga pamit untuk menepati janji dengan seseorang, tanpa menyebutkan nama orang itu dan lokasinya.

“ Sepertinya, kita harus bertindak. Kalo kita telat bertindak sedikit aja, rencana kita bisa berantakan “ ucap Raka seusai Kevin menutup teleponnya

“ Iya. Kita harus mulai aksi ini. Kalo gitu, besok mulai kontak Reza. Buat supaya dia ketemuan terus sama Widy “ ujar Kevin. Raka menyetujuinya.

Sementara itu di restoran Sweet Sweet. Restoran tempat dimana Rangga memutuskan menembak Widy untuk jadi pacarnya. Ia memutuskan tak akan menunda-nunda lagi untuk mengutarakan isi hatinya. Baginya Widy adalah sosok cewe yang ia cari selama ini. Rangga naik ke panggung dan menyanyikan sebuah lagu untuk Widy sebagai ungkapan isi hatinya. Widy mendengarkan suara merdu Rangga dengan penuh arti. Ia tak dapat sedetikpun mengalihkan pandangan dari cowo yang sedang menyanyikan sebuah lagu untuknya itu.

( Rangga sings a song : Hey Gadis, by: Evolet )

“ Suara kamu bagus juga “ puji Widy seusai Rangga turun dari panggung dan berdiri dihadapan kursinya

“ Itu lagu buat kamu “ ucap Rangga perlahan

“ Kamu udah bilang itu tadi dipanggung. Aku udah ngerti “ ujar Widy

“ Wid, dimalam ini dan ditempat ini aku jujur sama kamu “ ucap Rangga sambil memegang kedua tangan Widy erat. Widy merasakan jantungnya berdetak dengan cepat.

“ Sejak pertama kali kita ketemu dibandara itu, aku nggak bisa berhenti mikirin kamu. Aku nggak bisa nahan perasaan ini lagi. Aku suka sama kamu. Kamu mau jadi pacarku? “ jelas Rangga menatap mata Widy dalam, membuat Widy tak dapat berkata-kata.

“ Mungkin yang kita rasain sama. Aku juga nggak pernah bisa melepas bayanganmu “ ucap Widy, “ Aku mau jadi pacar kamu, Rangga “ lanjutnya

“ Aku janji, aku akan jadiin kamu yang pertama dan utama selamanya “ ujar Rangga berjanji

“ Aku percaya kata-kata itu. Asal kamu bisa nepatin janji itu “ jawab Widy

( Rangga sings a song à Dirimu Satu, by: Ungu )

- To Be Continued -

Other post from this blog

#IGrewUpWiThese - Part 1

Dajia hao! Aku kembali! Hehehe… Aku kembali membawa sebuah tema yang akan kubagi menjadi beberapa bagian. Karena tema ini luas bange...