Read into your languange

Monday, May 29, 2023

3 Pasangan Beda Usia Paling Favorit - Opini #blogsocialdiary

 Aku mau sedikit saja mencurahkan opini, pendapat, perasaanku disini, oke? Karena hal ini sedikit banyak (sekali) mengganggu otakku bekerja secara normal, bahkan sampai kebawa mimpi. Bukan bermaksud lebay, tapi, ya begitulah.


Keuntungan menikah dengan pria lebih muda


Selanjutnya, biar T2 yang menjelaskan inti postingan berikut lewat salah satu lagu mereka, Bronis:

Sebelumnya aku sekalian mau menyapa Para Penikmat musik C-pop (Chinese-pop) di Indonesia nih.

Teman-teman Pecinta C-pop pasti kenal dong ya, sama boysgroup asal Tiongkok beranggotakan tiga  cowok muda dan super duper manis, TF Boys? Pasti pernah dengar dong, masa nggak? Hehehe. Iya, yang salah seorang personelnya, Yang Yi Qianxi atau Jackson Yee pernah datang ke Jakarta. Tepatnya saat penutupan event Asian Games 2018. Sayangnya, dua rekan Yi Qianxi itu, Wang Junkai dan Wang Yuan tidak ikut hadir karena kabarnya saat itu nasib grup TF Boys memang sedang terombang-ambing dan ditepi jurang perpisahan. 

Eits, kali ini bukan soal Group TF Boys yang mau kutulis dihalaman ini. Tapi, ketertarikan dengan grupmusik dengan personel lucu dan menggemaskan bagai bayi ini akhirnya lumayan sering membuatku mulai perhatiin cowok-cowok daun muda disekitarku. Jadi, rasa ingin tahu-ku memasuki laman Google dan mengetikkan artis dan pasangan beda usia-nya. Dari beberapa artikel itu, aku mendapati sebuah kesimpulan jika usia dalam sebuah hubungan (percintaan) bisa jadi hanyalah sebuah angka. Usia yang banyak, tidak menjamin akan kedewasaan mental seseorang, pun sebaliknya, pasangan yang lebih muda dari kita belum tentu tidak bisa membimbing pasangannya menjadi lebih baik. Kemudian akupun teringat akan sesuatu, atau mungkin seseorang yaah... Sudah, sudah ahh... 


Tapi boleh deh, kukasih bonus video musik TF Boys - Cong Ai: 



Mari kita masuk ke pembahasan intinya... 

Dari sebuah artikel tirto.id, yang tidak sengaja kutemukan dilaman Pinterest waktu itu, ada beberapa hal baik seorang laki-laki menikahi wanita yang lebih tua (secara usia) dari mereka. Disini aku juga akan akan menaruh pendapatku sendiri tentang masing-masing poin tersebut. Silakan teman-teman tambahi dikolom komentar akan pendapat teman-teman juga ya? 

keuntungan menikahi wanita yang lebih tua



Poin pertama: Kedewasaan dalam hubungan. Kata didalam artikel tersebut, tidak terlalu banyak bertengkar untuk hal yang sepele. 
Well, ada benar ya? Karena kata orang-orang juga wanita merupakan mahluk hidup yang paling tinggi gengsinya apalagi kalau berhubungan dengan pasangan maupun lawan jenisnya. Yang ada laki-laki harus menjadi lebih peka dan kalau bisa mereka duluanlah yang meminta maaf (jika memiliki salah kepada wanitanya). Tetapi, wanita dewasa yang menjalin hubungan dengan laki-laki lebih muda darinya menyadari kalau bisa jadi kedewasaan berpikir belum sepenuhnya dimiliki oleh pasangannya sehingga dia-lah yang ambil peran untuk mengingatkan akan kebajikan kepada si pria. Pria muda yang mau belajar akan menerima pesan dan nasihat ditujukan kepadanya dengan kebesaran hatinya. 

Poin kedua: Karir yang lebih bagus. Kata-kata didalam artikel menyebutkan hal ini akan meningkatkan peluang si wanita menyumbangkan lebih banyak pemasukan untuk keluarga, 
Aku pribadi punya sudut pandang sedikit berbeda mengenai artikel ini. Bisa dibilang lebih menambahkan sub dipoin kedua ini. Jadi, dengan banyak pengalaman dan tinggi jam terbang pekerjaan sang wanita, akan lebih banyak hal yang bisa dibagikan dengan sang pria sehingga pria muda itu bisa lebih seletif dan tepat melangkah untuk menentukan karir berikutnya karena kelak dimasa depan pria harus bisa mempertanggungjawabkan pilihannya, kan? 




Poin ketiga: Kompabilitas kesehatan. Wanita hidup dengan rerata 5% hidup lebih lama daripada pria. Untuk menyamakan fisiologisnya, seorang pria idealnya ketika menikahi perempuan lima tahun lebih tua darinya. 

Poin keempat: Kompabilitas seksual. Hormon seksual pria mencapai puncaknya pada usia 18 tahun, sementara wanita diawal 30 tahun. 


Dibawah ini adalah contoh para selebrita dimana mereka tidak mempermasalahkan menjalin komitmen serus dengan wanita yang berusia lebih tua daripada mereka.
Ada siapa saja? Yuk mari, disimak… 

Andhika Pratama – Ussy Sulistiawati 
Siapa yang tidak kenal dengan presenter pria kondang nan ganteng puooll se-Indonesia Raya ini? Hehehe (maafkan, sedikit berlebihan, tapi memang kenyataannya, kan?). Kita bisa melihat wajah ganteng-nya Andhika diberbagai program TV pada waktu itu bahkan sampai saat ini doi masih eksis membintangi sebuah program sitkom Lapor Pak! Dichannel Trans7. Ditahun 2012, Andhika yang berusia 26 tahun mengambil keputusan cukup berani dan lumayan menggemparkan media infotainment tanah air ditahun itu karena doi memilih menikahi seorang model dan aktris yang baru bercerai beberapa waktu, Ussy Sulistiawati yang saat itu berusia 32 tahun dan sudah memiliki dua orang anak. Akan tetapi, sepertinya cinta Andhika terhadap Ussy lebih besar dibandingkan dengan status Ussy pada waktu itu. HIngga saat inipun, tidak ada berita buruk terderngar tentang pernikahan Andhika dan Ussy. Keduanya hidup bahagia bersama kelima anak mereka. 

Ussy Sulistiawati, Andhika Pratama, dan keluarga - opini #blogsocialdiary
Image captured from IG @ussypratama




Darius Sinarthriya – Donna Agnesia 
Dulu Darius Sinarthriya dikenal luas oleh masyarakat Indoensia sebagai prsesenter program TV olahraga meskipun awalnya Darius memulai karir sebagai model dan aktor. Namun disalah satu program TV olahraga menuju Piala Dunia 2006 ditahun 2005 akhirnya Darius yang kala itu berusia 21 tahun dipertemukan dengan rekan kerja bernama Donna Agnesia yang berusia 27 tahun. Darius dan Donna semakin dekat sejak menjadi rekan kerja diacara tersebut dan kedua menikah pada 30 Desember 2006. Kekuatan cinta dan ketulisan hati Darius meminang Donna Agnesia berbuah manis dan mendapat restu dari keluarga, khususnya orang tua Donna karena sebelumnya orang tua Donna memikirkan rentang perbedaan usia keduanya yang berselisih enam tahun. Sama seperti pasangan sebelumnya, Darius dan Donna hingga kini hidup bersama dengan bahagia bersama Lionel Nathan Sinathrya, Diego Andres Sinathrya, dan Quinesha Sabrina Sinathrya,  serta kehidupan rumah tangga keduanya jauh dari gosip tidak mengenakkan. 

Donna Agenesia, Darius Sinarthriya diacara pernikahan Jessica Mila - Yakup Hasibuan
Image captured from IG @dagnesia 



Reshwara Argya Ardinal – Nabila Syakieb 
Nabila Syakieb merupakan aktris Indonesia yang mengawali karir diindustri hiburan tanah air setelah mengikuti kompetisi Gadis Sampul. Kemudian, ia membintangi Sinetron Cinta SMU diusianya yang masih remaja. Setelah proyek Cinta SMU, Kasih, Cinta dan Anugerah, Anugerah, dan masih banyak sinetron-sinetron yang dibintangi oleh Nabila Syakieb sebagai tokoh protagonist maupun karakter pendukung. Namun, beberapa tahun kebelakang Nabila sempat tidak lagi terlihat membintangi sinetron-sinetron. Ternyata, saat itu Nabila tengah menekuni hobi berkuda. Hobi inilah yang membawa takdir bertemu dengan Reshwara Argya Ardinal—seorang atlet berkuda. Dari artikel yang sempat kubaca, Nabila dan Reshwara bertemu dipertandingan pacuan kuda. Nabila datang menonton dan Reshswara turut bertanding diturnamen tersebut. 

Nabila dan Reshawara menikah ditahun 2015, saat itu Nabila Syakieb berusia 30 tahun dan Reshawara Argya Ardinal berusia kurang lebih 6 tahun lebih muda daripada Nabila. Menikah dengan pria yang lebih muda, juga tidak mudah. Ada artikel yang menyatakan kalau orang-orang disekitar Nabila bahkan masyrakat awam sekalupun mempertanyakan keputusannya menerima lamaran pria yang jauh lebih muda daripadanya. Akan tetapi, Nabila menanggapi dengan mantap kalau Reshawara memiliki pemikiran lebih dewasa dan Reshwara juga bisa menyeimbangi sifat buruh didiri Nabila. Setelah Nabila dan Reshwara menikah, kini mereka dianugrahkan sepasang putra-putri dan memiliki kehidupan bahagia serta jauh dari kabar miring. 

Nabila Syakieb, Reshawara Ardinal, dan keluarga kecilnya
Image captured from IG @nsyakieb85

Ini tambahan deh yaa, soalnya pasangan ini termasuk dalam kategori "menikah dengan wanita lebih tua" juga, meskipun bukan selebruita Indonesia. 


Nick Jonas – Priyanka Chopra 
Awalnya aku hanya berniat menuliskan tiga pasangan dari Indonesia saja, tapi ternyata saat aku men-searching keyword pembahasan ini, muncuul satu peristiwa pernikahan yang cukup menghebohkan dunia pada waktu itu. Dikatakan heboh karena usia mempelai wanita jauh lebih tua dibandingkan mempelai prianya. Kalau tiga pasangan sebelumnya memiliki rentang perbedaan enam sampai tujuh tahun, berbeda dengan pasangan satu ini. Ketika Nick Jonas menikahi Priyanka Chopra ditahun 2018, ia berusia 26 tahun dan Chopra berusia 36 tahun. Yes, Nick dan Chopra memiliki perbedaan usia hingga sepuluh tahun! Oh iya, ketika aku mengkonfirmasi berita ini kepada temanku yang notabene penggemar berat dan pacar halu (hahaha) Nick Jonas, dia sampai bilang kalau Nick dan istri juga berduet dalam bisnis menciptakan brand bersama. 

Tiga tahun mengarungi kehidupan rumah tangga berdua, Priyanka Chopra melahirkan anak pertama mereka ditahun 2022 lalu, dan Januari 2023 merupakan kali pertama Malti Marie Chopra Jonas dikenalkan ke publik. 

Priyanka Chopra, Nick Jonas



Itu diaa akhir postingan kali ini. Jadi, mungkin bisa kusimpulkan kalau menikah dan memiliki pasangan (laki-laki) lebih muda dibandingkan kita (para perempuan) tidak buruk juga. Perempuan juga tidak harus selalu mengalah karena mereka-lah yang lebih dewasa, menurutku ya karena masing-masing pihak seharusnya sudah mengerti tanggung jawab dan hak masing-masing, kan? Komunikasi dan kerja sama yang baik didalam sebuah hubungan akan sangat membantu pasangan untuk mematahkan opini serta asumsi asal orang diluar sana. Itu sih yang aku bisa lihat dari kehidupan berumahtangga tiga, eh, salah, maksudnya empat selebriti diatas. 


Okay, guys, see you in another title of #blogsocialdiary. 


Credits: 





Thursday, May 18, 2023

My Favorite Badminton Team - Chinese Taipei 2022 [Part 2]

 Hai, aku kembali masih dengan postingan yang sama dengan sebelumnya. It is still about my badminton team country, Chinese Taipei part 2! Here we go! 


My Favorite Badminton Team - Chinese Taipei (part 2)

My Favorite Badminton team Chinese Taipei (part 1) - baca disini


Awal tahun 2023 ini Tim Bulutangkis Taiwan sedikit banyak membuat kejutan buat para Badminton Lovers (BL) dimanapun. Banyak sekali nama-nama pemain baru bermunculan diturnamen BWF World Tour. Buatku pribadi sih, nama-nama baru itu sudah tidak asing lagi. Tahun lalu mereka masih berjuang dilevel International Challenge, International Series, hingga Future Series demi bisa mendongkrak pengalaman, poin, dan ranking dunia mereka. Alhasil, tahun ini sebagian dari mereka itu seperti sudah layak mendapat "promosi" ke level turnamen yang lebih tinggi. Misalnya, disektor tunggal putri paling jelas menunjukan kemajuan tim mereka. Tai Tzu Ying tidak lama lagi bisa mendapat teman bertanding di-World Tour setelah Hsu Wen Chi menunjukkan perkembangan bagus tahun lalu. Terus, seperti yang kuesebut dipostingan sebelumnya Hsu Ya Ching dan Hu Ling Fang mulai dipisah dan dapat partner baru masing-masing. Hsu Ya Ching bersama Lin Wan Ching juga menunjukkan kemajuan berarti. Bolehlah Ya Ching/Wan Ching mulai bermain diturnamen level atas bersama Lee Chia Hsin/Teng Chun Hsun. 

Kata pengantarnya segini dulu ya? Mari masuk kedalam pembahasan inti. Check this out!

Lin Wan Ching, Hu Ling Fang, Hsu Wen Chi Australian tour 2022
(holding the camera: Lin Wan Ching; standing: Hu Ling Fang; sit: Hsu Wen Chi and their official team)
source: IG @wanchingwa

Sektor ganda putri bulutangkis Taiwan bisa dikatakan sektor paling lemah diantara empat sektor yang lain. Bisa jadi karena itulah federasi disana tengah fokus menggembleng pemain-pemain disektor itu. Mulai dari pertukaran partner hingga diturunkan dibanyak turnamen Future Series hingga International Challenge sehingga tim pelatih dan federasi mendapat kombinasi yang pas untuk dipatenkan dalam beberapa kurun waktu. Ada dua pasang ganda putri Taiwan yang cukup mendominasi diturnamen level dasar. Ada Lee Chia Hsin yang satu setengah tahun lalu masih belum menemukan pasangan tepat untuknya. Ditahun 2022 lalu Lee Chia Hsin bersama Teng Chun Hsun (22 tahun) berhasil menjuarai Slovak Open (Future Series), Austria Open (International Series), Bendigo International Challenge; menjadi Runner-up di Polish International Challenge. Chia Hsin/Chun Hsun juga mencapai babak Semifinal Australia Open (Super 300) setelah dikalahkan wakil China, Zheng Yu/Zhang Shu Xian dalam dua gim langsung, juga mencapai babak semifinal turnamen North Habour International Challenge, serta Bonn International Future Series. Hasil positif tahun lalu membuat Lee Chia Hsin/Teng Chun Hsun mulai turun di-World Tour Series BWF tahun 2023 ini.   

Teng Chun Hsun sendiri sampai dengan Kejuaraan Dunia Junior 2018 masih berpasangan dengan Li Zi Qing disektor ganda putri, dan pernah bermain dengan Ye Hong Wei dan Wu Guan Xun disektor ganda campuran. Dari informasi yang pernah kubaca lewat postingan Federasi Bulutangkis China Taipei dimedia Facebook, Li Zi Qing/Teng Chun Hsun menjuarai kompetisi nasional ditahun 2019

Masih dari sektor ganda putri. Hsu Ya Ching dengan notional point bersama Lin Wan Ching (27 tahun) bisa mengikuti beberapa turnamen World Tour Series, seperti Thailand Open Super 500 (sayangnya mereka hanya sampai dibabak awal), Malaysia Master Super 500, Singapore Open Super 500, di-Taipei Open Super 300 mencapai babak delapan besar, kemudian di Hylo Open Super 300 juga mencapai perempatfinal. Namun, diturnamen diluar World Tour Series, Hsu Ya Ching/Lin Wan Ching berhasil menjuarai Italian International Challenge dan Bonn International Future Series, serta menjadi Runner-up Nantes International Challenge. 


Sektor ganda berikutnya yang menunjukan tren positif tahun lalu adalah sektor ganda campuran. Ada dua pasang Mixed Double cukup bersinar di-layer menengah tim bulutangkis Taiwan: Ye Hong Wei/Lee Chia Hsin; dan Chang Ko Chi/Lee Chih Chen. 

Ye Hong Wei (23 tahun) merupakan pemain ganda putra. Disektor ganda campuran Ye Hong Wei hanya baru bermain dengan Teng Chun Hsun (2018) dan Lee Chia Hsin (2022). Tahun lalu, bersama Lee Chia Hsin, Ye Hong Wei menjuarai Austria Open International Series dan Polish Open International Challenge. Ye Hong Wei/Lee Chia Hsin juga tiga kali mencapai babak Semifinal: Nantes International Challenge, Bendigo International Challenge, dan North Habour International Challenge. Keduanya bermain bagus pada gelaran Taipei Open namun harus terhenti babak delapan besar setelah dikalahkan wakil Hong Kong China, Lee C H R/Ng Tsz Yau dalam tiga gim. 

Selanjutnya disektor ganda campuran ada Chang Ko-Chi dan Lee Chih Chen yang lumayan prospektif kedepannya (semoga saja mereka dipasangkan dalam waktu lama yaaa...). Ditahun 2022 Chang Ko-Chi/Lee Chih Chen menjuarai turnamen Bendigo Intercnational Challenge dan North Habour International Challenge. Kemudian mencapai babak Semifinal Sydney International Series dan Taipei Open Super 300. Chang Ko-Chi (27 tahun) dan Lee Chih Chen (24 tahun) mencapai babak delapan besar diturnamen Australia Open Super 300. 


Baca juga: Tim Bulutangkis China Taipei Uber Cup 2022


Menurutku, sektor ganda putra China Taipei tidak ada habisnya. Disetiap level turnamen seperti ada saja pemain yang menonjol. Sepertinya tahun 2022 lalu menjadi tahun-nya Ye Hong Wei dimana dia memiliki progres sangat bagus baik disektor ganda campuran maupun diganda putra bersama Su Ching Heng.

Su Ching Wei merupakan pemain senior berusia 30 tahun. Sebelumnya Su Ching Heng berpasangan dengan Liao Min Chun dan sempat menduduki peringkat 10 dunia sekaligus menjadikan pasangan ini sebagai MD2 setelah Lee Yang/Wang Chi-Lin. 

Tahun lalu Ching Heng/Hong Wei sudah konsisten mencapai (setidaknya) babak delapan besar hingga semifinal diturnamen Slovak Open dan Bonn International Future Series, Slovenia Open dan Austria Open International Series, North Habour International Challenge, bahkan diturnamen Polish International Challenge dan Italian International Challenge Su Ching Heng/Ye HongWei berhasil melaju kebabak final namun harus puas menjadi runner-up dikedua turnamen tersebut. 

Oh iya, selain Ye Hong Wei, ada satu lagi pemain putra Taiwan yang sama-sama cukup sukses menorehkan prestasi terbaiknya di-dua sektor, baik diganda putra maupun campuran. Dia adalah Chang Ko-Chi. 

Chang Ko-Chi dan Po Li Wei sudah cukup lama dipasangkan namun baru-baru ini nama keduanya mulai terdengar luas, atau aku bisa bilang setelah Federasi Bulutangkis China Taipei mengalami perubahan kepengurusan sehingga banyak nama-nama baru keluar ke kancah turnamen internasional.Ayo, kita lihat kilas balik hasil pertandingan Chang Ko-Chi/Po Li Wei ditahun 2022. 

 

Chinese Taipei European Belgian badminton tour 2022
Belgian International Challenge 2022 (Source: Wang Chi-Lin FB)


Chang Ko-Chi/Po Li Wei merupakan juara pertama turnamen Bendigo International Challenge, North Habour International Challenge, dan Belgia International Challenge. Ko-Chi/Li Wei juga mencapai babak empat besar diturnamen Sydney International Challenge. Namun, tidak ada hasil baik yang didapat Ko-Chi/Li Wei di-World Tour tournament tahun lalu. Aku juga masih sangat berrharap Chang Ko-Chi/Po Li Wei tetap dipasangkan ditahun ini. 

Tahun 2019 merupakan tahun pertama Chang Ko-Chi dipasangkan dengan Po Li Wei, dan keduanya berhasil memenangkan pertandingan final 54 Portuguese International Championship 2019 (International Series) setelah mengalahkan Christopher Grimley/Matthew Grimley dari Skotlandia dalam tiga set. Juga memenangkan titel disektor ganda campuran bersama Lee Chih Chen diturnamen yang sama setelah menyudahi perlawanan wakil Bulgaria, Alex Vlaar/Mariya Mitsova. 

Ditahun 2018 Chang Ko-Chi pernah dipasangkan dengan Lu Chia Pin sebagai ganda putra, dan dengan Cheng Chi-Ya disektor ganda campuran. Chang Ko-Chi/Lu Chia Pin bahkan mencapai babak Semifinal Macau Open 2018 Super 300 setelah mereka harus mengakui kehebatan ganda wakil Korea, Ko Sung Hyun/Shin Baek Cheol dalam tiga gim. Sementara disektor ganda campuran bersama Cheng Chi-Ya, Chang Ko-Chi juga sempat mencapai babak Semifinal Akita Master Super 100 setelah dikalahkan ganda campuran asal Indonesia, Alfian Eko Prasetya/Angelica Wiratama, mencapai babak Semifinal Bangka Belitung Indonesia Master Super 100 setelah ditaklukan oleh wakil tuan rumah, Rinov Rivaldy/Pitha Haningtyas Mentari. Masih digelaran Bangka Belitung Indonesia Master Super 100, disektor ganda putra Chang Ko-Chi/Lu Chia Pin menjadi merebut titel juara setelah mengalahkan Ko Sung Hyun/Shin Baek Cheol dengan straight set. 


Baca dan nyanyikan: English translation a song from Rossa (OST. Susi Susanti: Love All)


Selain sektor ganda campuran diatas, satu sektor lagi yang paling terlihat progres perkembangan didunia bulutangkis Taiwan adalah sektor tunggal putri. Seperti yang pernah kusebut dibeberapa postingan tentang Chinese Taipei Badminton Team sebelumnya, tidak lama lagi Tai Tzu Ying bakal punya teman berjuang diturnamen level Super 300 keatas. Dilayer tengah ini sepertinya Federaasi Chinese Taipei Badminton Association tengah menaikkan tiga pemain tunggal putri kelevel turnamen lebih tinggi dari sebelumnya. Mereka adalah Hsu Wen Chi, Sung Shuo Yun, dan Lin Hsiang Ti. 

Melihat tren postif Hsu Wen Chi sejak pertengahan hingga akhir tahun 2021, tahun lalu Hsu Wen Chi diikutkan beberapa turnamen World Tour Series. Sayang, tampaknya Wen Chi belum bisa melaju jauh diturnamen level elit tahun lalu. Pencapaian tertingginya tahun lalu adalah menjadi Semifinalis dirumah sendiri, Taipei Open Super 300 setelah masih harus mengakui keunggulan seniornya, Tai Tzu Ying dalam pertandingan dua set langsung. Sementara itu, Wen Chi juga mencapai babak delapan besar Hylo Open 2022. Ia dikalahkan oleh wakil Jepang, Nozomi Okuhara dalam pertandingan tiga set. Kemudian menjadi juara di Italian International Challenge, Ducth Open (International Challenge), juga menciptakan All Chinese Taipei Final diturnamen Nantes International Challenge dan Austria Open (International Series) bersama Sung Shuo Yun, pemain tunggal putri Taiwan lainnya yang sama-sama sedang dikenalkan kepada dunia luar oleh federasi. Oh iya, dikedua turnamen ini, Hsu Wen Chi keluar sebagai juara.

Sementara, prestasi Sung Shuo Yun belum bisa banyak berbicara dilevel BWF Word Tour. Sempat dikirim ke turnamen Singapore Open Super 500, Taipei Open Super 300, dan Australia Open Super 300, kenyataannya Sung Shuo Yun belum bisa menembus babak delapan besar. Akan tetapi, Sung Shuo Yun merupakan juara pertama Bendigo International Challenge dan Sydney International Series. Sung Shuo Yun juga berhasil mendarat sebagai runner-up diturnamen Austria Open International Series dan Bonn International (Future Series). 

Selain Hsu Wen Chi dan Sung Shuo Yun, satu lagi pemain putri Taiwan yang tengah dalam tren positif adalah Lin Hsiang Ti. Pemain tunggal putri kelahiran 20 November 1998 ini tahun lalu menjuarai Slovenia International Series. Dibabak Semifinal sebelumnya, Hsiang Ti menghentikan wakil pemain Indonesia, Ester Nurumi Tri Wardayo dalam tiga gim. Lin Hsiang Ti juga sampai bermain hingga babak final turnamen Croatia International (Future Series) namun harus puas menjadi runner-up setelah menciptakan All Chinese Taipei Final bersama Huang Ching Ping. Hsiang Ti juga mencapai babak Semifinal Austria Open namun dikalahkan oleh teman satu timnya sendiri, Sung Shuo Yun dalam dua gim langsung. Selain itu ia juga merupakan Semifinalis Denmark Master setelah dijegal oleh wakil Thailand, Pitchamon Optaniputh sebelum melaju ke babak final, serta Semifinalis Vietnam Series. Hasil ini diakhir tahun 2022 membawa Lin Hsiang Ti memasuki ranking dunia ke-79 sekaligus menjadikannya sebagai WS5 China Taipei. 

Tulisan lain tentang Hsu Wen Chi bisa dibaca disini 


Hsu Ya Ching, Lin Wan Ching Italian International Championship 2022
Hsu Ya Ching/Lin Wan Ching -  (IG @wanchingwa)

Mari beralih menelusuri calon-calon penerus Chou Tien Chen disektor tunggal putra nih. 

Wang Tzu Wei, Melvin Hsia event sportainment Taiwan
Wang Tzu Wei (FB: Wang Tzu Wei)


Disektor ini, khususnya pas gelaran World Junior Championship 2022, dunia per-BL-an cukup dikagetkan dengan menangnya wakil China Taipei dinomor tunggal putra setelah mengalahkan wakil junior India-S.Sankar Muthusamy Subramanian difinal, wakil Korea-Byung Jae Kim dibabak semifinal, hingga the future raising player of France, Alex Lanier dibabak perdelapan besar. Weeiittss, tapi agaknya kejauhan yaa kalau kita langsung bahas nama Kuo Kuan Lin di-layer atau part ini, sementara diatas Kuo Kuan Lin masih banyak pemain potensial melengserkan pemain MS2 Taiwan saat ini. 


Tampaknya Federasi Chinese Taipei Badminton Associarion sedang semangat-semangat-nya menerbitkan pemain yang satu ini. Sejak awal tahun lalu nama Lee Chia Hao sudah terdengar di Tur Eropa turnamen level International Challenge maupun International Series. Lee Chia Hao kini berusia 24 tahun dan menduduki peringkat MS4 China Taipei (WR54) dengan torehan prestasi menyabet juara perrtama Hungaria International Series setelah menciptakan All Chinese Taipei Final; menjadi Runner-up Norwegia International Series juga setelah melalui pertandingan sesama China Taipei melawan Lin Chun Yi. Lee Chia Hao juga menjadi Semifinalis diturnamen Slovenia International Series dan Austrian Open International Ssries, Indonesia Master Super 100 di Malang setelah dikalahkan oleh pemain Malaysia, Cheam June Wei dalam dua set langsung. Oh iya, dibabak Quarter Final sebelumnya Lee Chia Hao mengalahkan wakil tuan rumah, Christian Adinata dalam tiga set. Dalam gelaran turnamen Super 100 lainnya, di Orleans Master Lee Chiao Hao harus mengakui keunggulan tuan rumah, Christo Popov dalam pertandingan tiga gim dan penuh duece-point set dibabak delapan besar. Kemudian, di Vietnam Open, Lee Chiao Hao harus kalah dari Cheam June Wei dibabak Quarter Final. 

Selanjutnya, disektor tunggal putra Taiwan yang akhir tahun lalu sudah menduduki peringkat MS3 China Taipei (WR38) sekaligus kandidat paling mungkin dan dekat untuk menikung Wang Tzu Wei sebagai MS2 Taiwan. Sama seperti Lee Chia Hao, dibulan Oktober nanti Lin Chun Yi menginjak 24 tahun. Bersama Lee Chia Hao pula, keduanya menciptakan final sesama pemain China Taipei di-dua turnamen berturu-turut, 47th Victor FZ Forza Hungaria International Championship 2022 (International Series) dan FZ Forza Norwegian International 2022 (International Series) dimana dipertandingan yang kedua ini gantian Lin Chun Yi yang mengalahkan Lee Chia Hao. Ditahun 2022, Lin Chun Yi keluar sebagai juara diturnamen International Challenge lainnya: Monnis Mongolia International 2022 mengalahkan wakil Taiwan lainnya, Su Li Yang;  Yonex Bendigo International 2022 setelah mengulang pertandingan final sebelumnya dengan Su Li Yang juga dengan straight set; dan Yonex Belgian International 2022 mengelahkan wakil Denmark, Kim Bruun dalam dua gim langsung. Lin Chun Yi juga menambah kemenangan di Tur Australia dengan memenangi pertandingan Yonex Sydney International 2022 setelah mengalahkan wakil Singapura, Jia Wei Joel Koh dalam tiga set. Lin Chun Yi berhasil memasuki babak semifinal diturnamen rumahnya sendiri, Taipei Open, namun sayangnya disini ia harus mengakui kehebatan pemain muda wakil Jepang, Kodai Naraoka dalam dua set langsung. Dimana sebelumnya dibabak Quarter Final Taipei Open, Wang Tzu Wei harus mengakui keunggulan juniornya setelah bertanding dalam tiga set. 


Baca juga: Karakter sepupu yang mungkin kalian temui dikeluarga kalian 


Lin Chun Yi Denmark Master International Series 2022
Lin ChunYi (IG: @lin_chun-yi_88)

Lin Chun Yi, Lee Chia Hao Denmark Master International Series 2022
Lin Chun Yi, Lee Chia Hao (IG: @lin_chun_yi_88)

Lee Chia Hao in 2022
Lee Chia Hao (IG: @lee_chiahao604)


Naaahh, itu dia ringkasan turnamen-turnamen yang diikuti beberapa wakil China Taipei ditahun 2022 lalu. Mereka-yang kusebut diatas itu tahun lalu masih bermain dilevel Internatinal Challenge hingga International Series, namun beberapa dari mereka kini, ditahun 2023, mulai kita lihat permainannya dilevel World Tour Series. Semoga akhir tahun nanti aku bisa konsisten update progres performance pemain-pemain yang kini mulai mendekati layer utama bulutangkis Taiwan yaaa... 

Okay, see you in another blog post! ☺


Oh iya, hampir ketinggalan. Pemain Taiwan yang disebut diatas rata-rata sukses menjuarai kompetisi event nasional Taipei. Berikutnya foto-foto para juara: 

Chinese Taipei National Badminton 2022
(Men Doubles)

Chinese Taipei National Badminton 2022
(Mixed Doubles) 

Chinese Taipei National Badminton 2022
(Women Doubles)

Chinese Taipei National Badminton 2022
(Women Singles)



Credits: 

Photos: 

New baked post

Surat Terbuka Untuk Seseorang Pernah Kupanggil Kakak Disana

  Yogyakarta, Indonesia, 5 November 2025 H ai, Kak….     Apa boleh aku memanggil nama lengkapmu? Aku masih hafal lho, Kak. Sangat hafal....