November 22, 2016

Secret #4 (Based On True Story Fanfiction)

Untuk me-refresh part sebelumnya, silahkan baca Secret #3-nya dulu yes~ klik ini :)

***

Secret #4 

Shanghao Ge,
apa kau tahu, aku sempat menyesali kenapa waktu itu aku nggak melanjutkan percakapan kita lewat sosial media itu? Kalau dulu aku melakukannya—memanjangkan obrolan diluar urusan tugas akhirku, hmm, mungkin saat ini ceritanya akan berbeda. Kau tahu, rasa sesal itu hanya muncul sesaat. Jika aku tak berusaha keras mengikhlaskan bayanganmu pergi, cerita ini tidak mungkin pernah terlintas dikepalaku.
Ini ceritaku mengenang tentangmu. Terjadi sekitar Bulan musim semi 2014.
Sore itu aku meminta teman kuliahku selepas kelas terakhir kita pada hari itu. Dia memiliki nama sama dengan Qiu Zixie, tapi berbeda namanya Qiu Caiqin. Biar kuceritakan sedikit tentang dia. Qiu Caiqin merupakan teman satu perjuangan denganku. Aku dan dia sudah sering berada dikelas yang sama. Kemana saja kita usahakan bersama. Caiqin paling tahu perjuanganku demi mendapatkan materi tugas akhirku namun dia masih bukan orang pertama tahu cerita tentangmu.
*                                                                                                                        
“Yanxi, setelah urusanmu di Kampus NTU selesai, selanjutnya jadi menemaniku ke butik dekat sana ya? Aku perlu rok untuk acara graduation.” Caiqin mengulangi rencana kita usai keluar dari area kampus. Rencananya kita akan transit sebentar dirumahnya. Aku menitipkan sepeda dirumah Cai Qin dan nanti kita akan pergi dengan bus.
“Iya pasti jadi dong. Sekalian jalan, kan.” Ujarku mengiyakan. “Buruan jalannya yuk. Nanti keburu hujan.”
Cuaca sore itu sedikit kurang bersahabat. Langit berubah gelap. Semoga hujan belum turun hingga urusan kita selesai sempurna. Kita yang berjalan santai menuju halte bus akan merubah rencana jika tiba-tiba kita berlari dalam rintik hujan yang mulai turun karena ini bukan proses pengambilan gambar drama romantis, mungkin bisa menjadi demikian jika pemeran itu adalah kau dan aku.
Benar saja. Hujan langsung turun dari mulai rintik gerimis hingga deras melanda saat kita sudah berada dalam bus menuju Kampus NTU. Aku dan Caiqin mengamati setiap bulir air jatuh mengenai kaca bus sembati mengobrol, entah apa, aku lupa apa yang kita perbincangkan saat itu. Dan bukan tentangmu. Jangan gede rasa dulu.
Aku membuka ponsel sejenak. Melihat kiriman denah Kampus NTU yang sempat kau kirimkan padaku beberapa hari lalu. Sebagai ganti dirimu yang tidak bisa menemaniku memasuki perpustakaan kampus itu, katamu. Kalau kau tidak ingat, saat musim semi 2014 kau masih mengikuti exchange student program dengan universitas di Singapura.

Ge, apa rasanya bisa mencicipi belajar dinegara orang? Apa rasanya berjalan-jalan menikmati setiap pengalaman dinegara orang?  Membayangkan aku dan kau berjalan-jalan menyusuri setiap objek wisata negara destinasi liburan bersama merupakan lamunan paling gila yang kubayangkan. Bagaimana mungkin kau yang pasti lupa denganku bisa mengajakku mendatangi Negara-Negara Skandinavia—kawasan negara di Benua Eropa? Mustahil dan menggelikan.

Oh iya. Hujan sempat berhenti sebentar ketika aku dan Caiqin turun dihalte terdekat dengan Kampus NTU. Langit Taipei masih bergemuruh meskipun hujan sudah berhenti. Kita mempercepat langkah kita agar segera sampai area kampus sebelum hujan turun kembali nantinya. Salah kita sama-sama melupakan benda bernama payung dan raincoat sebelum berangkat tadi.
*
Seperti yang kulaporkan padamu malam harinya, jika kau mengingatnya, lewat message di facebook, materi yang kucari dalam sebuah buku atas saranmu belum seluruhnya terpenuhi. Pasalnya, eksemplar judul buku yang dimaksud sedang dipinjam orang lain, begitu kata petugas perpustakaan. Rasa sedikit kecewa karena aku menempuh perjalanan cukup panjang namun akhirnya yang menjadi tujuanku belum kudapatkan. Aku berpikir mungkin aku harus kembali suatu hari nanti. Materi yang kudapatkan pada hari itu sungguh belum lengkap. Dalam hati aku ingin kembali kesana saat kamu sudah kembali ke Taiwan, tetapi sangat tidak mungkin menunggu saat itu mengingat waktu kepulanganmu dari Singapore adalah akhir musim panas nanti.
*
“Caiqin, xiexie. Sudah menemani ke Kampus NTU hingga terperangkap hujan dibutik kemarin, tapi malah kamu nggak dapat rok yang kamu mau.” Ujarku berterima kasih sekaligus meminta maaf sudah merepotkannya pada hari berikutnya dikelas sebelum dosen pengajar selanjutnya tiba.
“Ah, iya. Santai saja... aku juga senang bisa jalan-jalan kekampus orang. Kalau soal rok itu, biasalah… aku memang sedikit pemilih barang yang kumau mungkin karena masih pengen mencoba lihat-lihat sana-sini dulu.” Ujar Caiqin seraya tertawa kecil. Tawa kecil yang seolah menandakan sama sekali tidak keberatan meskipun begitu tetap saja aku merasa tidak enak hati. Caiqin  bisa menenangkanku kala sedang tidak enak hati seperti biasanya.
Shanghao Ge, aku rasa persahabatanku dengan Qiu Caiqin sama seperti persahabatan dengan anggota Super Girls yang pernah kuceritakan sebelumnya. Pertemanan intim yang tidak berlandaskan apapun kecuali rasa saling melindungi dan saling melengkapi sama lain. Kalau sudah begitu boleh aku menyebutnya teman sejati?
*

Dimusim panas 2016, Caiqin sudah menikah setelah merasakan dunia kantoran selama hampir lima belas bulan terhitung sejak saat wisudanya. Kabar terakhir yang kudengar, dia sedang mengandung. 

To be continued to Secret #5

November 17, 2016

Taiwanese Drama Review: Back To 1989

Drama. Drama. Drama..
Tahun ini hidupku penuh dengan drama tapi cukup dengan nontonin drama fiksi aja deh jangan ada pelik-pelik drama dalam kehidupan sesungguhnya hahahahaha..
Kali ini aku mau berbagi ceritain sebuah Drama Taiwan apik banget. Ini ceritanya tentang seseorang yang gak sengaja melakukan perjalanan waktu demi mencari tahu asal usul keluarganya namun akhirnya dia mendapati hasil diluar prakiraannya.
Drama ini dibintangi aktor yang level ganteng-nya sudah mencapai level akut /ganteng banget kuadrat hahahaha/ dan gosip denger gosip si aktor itu akhirnya mengalami cinta lokasi dengan lawan main sendiri. Setelah nonton lebih dari delapan episode aku pun gak heran sih kalo kedua pemeran utama itu terlibat cinta lokasi. Chemistry yang dibangun Marcus Chang dan Ivy Shao memang harus diacungi empat jempol.




Opening song of the drama: A Friend / 我们是朋友, sung by: Gary Chaw 



Closing song of the drama: Two People / 两个人 , sung by: Alien Huang 



Ceritanya Chen Che (diperankan oleh Marcus Chang) ditahun 2016 adalah seorang Financial Analyst sebuah stock company di Taiwan. Sukses. Iya, doi memang diceritain sebagai tokoh yang rupawan, cerdas, mapan, dan semua sosok lelaki impian ada sama dia.

Ketika Chen Che menjenguk kakeknya dirumah sakit, dia mendengar kakek yang menderita sakit dementia dan mamanya menyebut satu nama lelaki tidak pernah didengar selama 26 tahun dia hidup didunia ini. Chen Che pun menanyakan pada sang mama, Chen Ya Juan, jika benar nama Li Jin Qin yang disebut kakek adalah ayah kandungnya. Chen Ya Juan selalu menyembunyikan identitas ayah kandung Chen Che dan tidak sekalipun membicarakannya. Chen Ya Juan justru mengancam Chen Che tidak akan mengakui sebagai anak kalau dia masih mempertanyakan hal itu lagi.

Sebuah kecelakaan diterowongan membawa Chen Che memasuki era lain. Saat dia bertemu dengan Ye Zhen Zhen (diperankan Ivy Shao), yang ternyata sahabat Chen Ya Juan muda, dia berada ditahun 1989--satu tahun sebelum hari kelahirannya.

Chen Che dibantu Ye Zhen Zhen menjalani hari-hari ditahun 1989 sambil mengawasi setiap langkah yang ditempuh Chen Ya Juan. Chen Ya Juan (diperankan oleh Mini Tsai) merupakan sahabat baik Ye Zhen Zhen sehingga sedikit mudah baginya mengkepoin kehidupan Chen Ya Juan, termasuk mengawasi laki-laki disekitarnya. Dari situ dimulailah hubungan pertemanannya dengan Li Jin Qin (diperankan Yorke Sun), Wang Zhong En, Lin Xiao Long, mereka tergabung dalam Genk Five Golden Treasure bersama Ye Zhen Zhen dan Chen Ya Juan.

Bisa dibilang Chen Che menjadi saksi bahkan dia hampir merubah sejarah keluarganya dengan membantu Chen Ya Juan dan Li Jin Qin bersatu mempertahankan cinta mereka ditengah penolakan neneknya terhadap Li Jin Qin yang dianggap belum mapan untuk menghidupi puterinya.
Kedatangan Chen Che dari tahun 2016, awalnya hanya sang kakek sekaligus ayah Chen Yan Juan, Chen Guo Zhang karena dia berharap lewat kakeknya yang seorang professor bisa membantunya kembali ke tahun 2016. Siapa sangka kehidupan Chen Che ditahun 1989, justru membuat dia jatuh cinta pada gadis lintas era. Chen Che dan Ye Zhen Zhen saling jatuh cinta karena keseringan keduanya bertemu, terlebih sejak awal Chen Che menumpang dirumah Keluarga Ye. Bahkan ketika Chen Guo Zhang memintanya pindah kerumahnya untuk memudahkan membicarakan kemungkinannya kembali, seperti ada suatu hal yang membuat Chen Che tidak bisa mengabulkannya.

Jawaban akan pertanyaan yang selalu dicari Chen Che, siapakah ayahnya sebenarnya mulai menemui titik terang ketika pesta dansa di perayaan Hari Natal, 25 Desember 1989 yang diadakan oleh Xiao Long. Meskipun awalnya dia dan Zhen Zhen mencoba menaruh mata pada Ya Juan pada malam itu, namun akhirnya mereka sempat kehilangan Ya Juan beberapa saat sehingga sebuah kenyataan pahit harus Chen Che ketahui mengenai siapa dirinya.

Wait.. Disini yang kuceritain dari versi Chen Che. Tapi drama ini bisa diceritain dari sudut pandang Zhen Zhen, Ya Juan, bahkan dari sudut pandang Jin Qin sekalipun akan tetap menarik pada satu benang merah cerita seperti yang ditunjukin episode 22.

Oh iya. Bagaimana Chen Che akhirnya kembali ketahun 2016? Dia kembali bersamaan dengan Ya Juan melahirkan Little Chen Che dan memori setiap orang akan dirinya perlahan hilang seiring Little Chen Che tumbuh dewasa. Kecuali bagi Zhen Zhen dan sang kakek.
“Pada akhirnya kau tidak bisa mengubah sejarah, tapi setidaknya kau bisa membuat keluarga ini tetap baik-baik. Terima kasih sudah datang” - Chen Guo Zhang ketika Little Chen Che lahir.

Kalau kataku dan beberapa komentar yang termasuk dikolom komentaer tersedia, drama ini masih mempunyai teka-teki banget pas scene Little Chen Che berusia tiga tahun hampir mendapat kecelakaan namun berhasil diselamatkan Aunty Zhen Zhen. Anehnya, setelah mobil itu menabrak Zhen Zhen hingga jatuh, raga Zhen Zhen benar-benar hilang tak ada sisanya. Little Chen Che menangis dipinggir jalan mencari Zhen Zhen. Kemudian ada yang berkomentar juga, kalau sebenarnya Zhen Zhen sudah meninggal dunia sejak tahun 1989 namun karena dia ditolong Chen Che dan diharuskan menemani Chen Che dilintas eranya, barulah Zhen Zhen hilang dari dunia tahun 1993. Tapi, katanya Zhen Zhen gak meninggal, dia hanya melakukan time travelling seperti yang dilakukan Chen Che ke tahun 1989. Zhen Zhen melakukan perjalanan waktu mengikuti terowongan dengan maksud bisa menemui kembali Chen Che ditahun 2016. Dan katanya Back To 1989 punya drama sekuelnya lhoo berjudul Inggris: My Future Boyfriend. Sepertinya My Future Boyfriend bakal mulai produksi sekitar awal hingga pertengahan 2017, mengingat Marcus Chang saat ini baru disibukkan drama baru lagi (Behind Your Smile). Dan Yorke Sun juga baru terlibat drama baru (V-Focus) bersama Melvin Xia.

ASD Rating for 'Back To 1989': 10 of 10


Anyway, terima kasih sudah menjenguk blog sederhana ini. Semoga review yang aku tulis disini bisa menjadi alternatif kala teman-teman pembaca pengen menonton drama Taiwan. Ganxie! :)

November 15, 2016

Secret #3 (Based on True Story Fanfiction)

Baca ini seri Secret #2 

Secret #3 


2014 Xinnian Kuaile…
Shanghao Ge, xinnian kuaile…  

Seperti pergantian tahun seperti biasa, aku menghabiskan waktu bersama dengan teman-temanku. Tidak ada perayaan khusus, kali ini aku bersama teman perempuanku yang lain, kita menamai kelompok ini dengan nama Super Girls. Jadwal anggota Super Girls tergolong sulit disatukan karena terbentur keperluan masing-masing. Namun selalu ada celah untuk saling berjumpa satu sama lain. Entah siapa yang berinisiasi duluan diantara kita berdelapan. Sebenarnya selain dengan Qiu Zixie, mereka inilah tempatku ingin berbagai cerita apapun. Tapi seperti ada yang menghalangi untuk tidak menceritakannya tentangmu kepada siapapun, termasuk pada Sung Yunhua dan Hong Yuqing—dua orang yang cukup sering mendengarkan ceritaku. Waktu itu Hong Yuqing adalah orang yang pertama kali tahu ketika aku memutuskan hubunganku dengan seorang bernama Zhao Zhiwei.
Baoqian, aku tidak ingin menuliskan apapun tentang Zhao Zhiwei sebelumnya. Bagiku, orang itu tidak seberapa berarti dibandingkan cerita manisku menunggumu, Shanghao Ge kembali.
*
Aku bersama Super Girls paling tidak bisa melewatkan suasana bersama didalam ruang karaoke. inilah waktu kebersamaan kita yang tiada duanya. Aku sangat menikmati pertemuan kita yang sudah mulai jarang terjadi.
Shanghao Ge, izinkan aku mengenalkan anggota Super Girls yang ketika bersama mereka membuatku melupakan penantian akan dirimu. Aku harap kelak kau mengenal mereka, kau ikut mengerti kalau mereka adalah bukti anggapan persahabatan “tidak perduli siapapun kamu yang dimusuhi dunia, selama kita mengakui dalam diri masing-masing, kita tetap jadi sahabat” menjadi benar. Dan aku punya bakal cerita kedua terinspirasi dari persahabatan Super Girls.
Pertama. Aku kenalkan, Ren Rongxuan. Dia merupakan kakak tertua diantara kita semua. Rongxuan Jie juga merupakan seniorku diuniversitas. Karena dia yang kita tuakan, otomatis dia sering menjadi tempat kita mengadu, mengandalkan curahan kita tumpah pada dirinya. Ya Rongxuan Jie memang sudah pas sebagai kakak kita.
Sung Yunhua sama sepertiku. Maksudnya aku dan dia hanya berbeda bulan kelahiran saja. Waktu itu Yunhua paling mudah diajak keluar kala aku sedang ingin main entah kemana. Dia juga orang pertama yang kutemui diantara anggota Super Girls lainnya.
Berbeda seperti Yunhua yang merupakan kenalan pertamaku, Lai Xiaoyi adalah kebalikannya. Aku tahu dia belakangan ketika Rongxuan Jie yang mengajaknya ke perkumpulan kita. Diantara Super Girls lain, Lai Xiao Yi kubilang orang yang paling berani nomer dua.
Kemudian, anggota selanjutnya adalah Liu Yushan. Shanghao Ge, seandainya kamu kenal dia, sekelilingmu tidak akan pernah sepi saat ada Shan Shan—begitu terkadang kita memanggilnya. Shan Shan bisa menciptakan suasana lebih hidup sekalipun dalam keadaan mati. Kau harus kenalan dengannya suatu saat, Ge! Tapi jangan sampai jatuh hati padanya. Karena kau bukan idamannya.
Cai Yizhen merupakan orang paling berani nomer satu. Mungkin karena dia memiliki sifat boyish yang kadarnya hampir mendekati 85% jadi dia berani menempuh resiko yang sudah menjadi pilihannya. Terkadang aku pun iri dengan keberanian level akutnya.
Yang satu ini seorang talent. Namanya Hongshih. Tentu aku tidak akan mngenalkannya padamu. Karena aku takut kau tidak akan kuat melihat pesonanya. Hongshih-lah yang paling semangat dengan agenda berkumpul kita. Kalau aku butuh partner menentukan saat pertemuan kita, aku pasti akan mencarinya.
Terakhir adalah Hong Yuqing. Anggota nomer dua yang mudah kuajak kemanapun setelah Yunhua. Itulah kenapa aku lebih sering berbagi kepada mereka.
*
“Yanxi Jie, apa kabar si dia?” Tiba-tiba Hongshih membuka obrolan denganku ketika aku mengambil microphone didepannya dan siap bernyanyi.  Setelah ini adalah lagu pilihanku.
“Huh? Ta? Shui?” Tanyaku. Sungguh aku tidak mengerti yang dimaksud Hongshih saat itu. Jantungku berdegup kencang karena lagu yang kupilih menceritakan tentang kerinduan dan aku teringat padamu. Aku beium menyiapkan jawabannya apabila mereka akan mengetahui cerita tentangmu.
“Kamu pernah ceritakan, kau bertemua dengannya saat  summer camp tahun lalu.” Jawab Hongshih sembari melipat kaki kanan diatas kaki kirinya. Musim panas tahun lalu aku menjadi pembina adik-adik kecil di summer camp untuk mengisi waktu dan berniat semakin melupakanmu dan membiarkan kamu pergi meraih yang kamu inginkan diluar sana.
Aku mulai bernyanyi. Berduet dengan Lai Xiaoyi.
“Chen Yanxi sama siapa?” Kudengar Rongxuan Jie juga ingin tahu dengan hal itu.
“Siapa, Jie?” Cai Yizhen menimpali.
Meishi la. Hanya orang yang salah mampir.” Jawabku cepat menjauhkan microphone dari ujung bibirku. 
“Salah mampir? Tega sekali.” Yunhua menambahi sembari memasukkan fried fries kemulutnya. Aku masih tetap bernyanyi dan kali ini aku mulai merasa bersalah ketika memikirkan Zhao Zhiwei—orang yang sedari tadi diperbincangkan. Bersalah karena waktu itu perasaanku yang tidak tulus terhadapnya. Aku tersadar, aku hanya menjadikan Zhao Zhiwei sebagai pelampiasan karena aku tidak bisa mendapatkanmu.

Maafkan aku, Zhiwei. Saat itu perasaanku masih tertahan untuk  Wang Ge. 

~ To be continued to the #4 ~


November 10, 2016

Taiwanese Drama Review: School Beauty's Personal Bodyguard (2016)

Nimen hao~

Kali ini aku mau review drama yang baru saja kelar kutonton. Sebenernya drama ini sudah tayang sejak Mei-Juli 2016 lalu sih dan aku pernah baca weibo Li Chung Lin, salah satu aktor drama ini saat dia posting satu scene drama ini. Yaa gitu tapi aku belum ngeh waktu itu hahaha.. Aku ngeh beberapa bulan kemudian ketika lagi lihat-lihat judul di viki.com, eh ada nama Li Chung Lin (dia adalah supporting actor Drama Be With You) dan Huang Wei Jin dideretan main actor. Langsung saja kubuka episode pertamanya. Dan aku tambah terkejut ketika mendapati opening soundtrack-nya adalaahh.........


Waah, sudah kedapatan dua lelaki rupawan dalam satu drama ditambah opening soundtracknya gak asing lagi. Yep! That song had sung by SpeXial - 貼身 Love Guardian, yang terdapat dialbum Dangerous (2015). Kurang senang gimana lagi akunya?! Hahahaha. Dan aku punya ekspetasi bagus awalnya sama drama ini.

Yang ini adalah lagu ending drama satu ini. Dibawakan oleh 'Girlband' besutan Comic Entertainment *juga* berjudul Inggris: I am Lonely


**

School Beauty Personal Bodyguard



*Tonton disini ya :D

And, this is the story....

Lin Yi adalah seorang master wushu yang sering disewa pengusaha melindungi aset berharga mereka. Kemampuan bela diri Lin Yi yang didapat dari seorang guru ahli pun tidak diragukan lagi.
Hingga suatu hari asisten pengusaha Chu Peng Zhao mendatanginya dan meminta Lin Yi menjadi personal bodyguard untuk puteri semata wayang bosnya. Gadis yang dimaksud ini memang sesuatu sekali. Ayahnya sudah sering hire bodyguard karena khawatir akan keselamatan puterinya tapi tidak ada yang berhasil bertahan lebih dari tiga bulan, bahkan yang terakhir hanya bekerja selama satu bulan. Chu Meng Yao merasa aman tanpa bodyguard, alhasil dia dan Chen Yu Shu--teman baiknya pun selalu bikin rencana ngerjain Lin Yi. Beruntung Lin Yi sangatlah peka terhadap titik-titik kejahatan (kalau ada yang nggak beres dia bisa langsung tahu dan bertindak).

Misi pertama melindungi Chu Meng Yao paling kelihatan jelas ketika ada peristiwa perampokan di Bank Songshan. Menurut Lin Yi, itu bukan perampokan biasa. Maksudnya perampokan itu hanya modus saja. Dibalika itu mereka ada rencana sendiri, yaitu menyandera Chu Meng Yao. Dan kala itu Lin Yi yang turut dibawa dalam penyekapan berhasil membebaskan diri mereka. Kepada Chu Peng Zhao, Lin Yi melaporkan kecurigaannya dan juga kepada teman lamanya yang bekerja dikepolisian Songshan untuk membantu memberinya informasi dalam penyelidikan, namanya Yang Tou. Karena Lin Yi mencurigai semua itu karena ada yang ingin menjatuhkan perusahaan ayahnya Chu Meng Yao.

Selain Lin Yi dihadapkan dengan musuh-musuh perusahaan saingan ayah Ah Meng, dia juga dipertemukan dengan teman kampusnya yang sedikit aneh. Lin Yi merasa kekuatan yang dimiliki Han Bin sangat besar namun entah kenapa ketika Han Bin dikerjai dia tidak bisa melawan. Lin Yi semakin merasa aneh dengan Han Bin.

Semua jalan cerita kupikir masih masuk akal sampai sebelum Feng Xiao Xiao dan Si Tu Jiong muncul. Memang sih dari awal mereka sudah dimunculin diam-diam dikampus Ah Meng, Xiao Shu, dan Lin Yi tapi belum banyak berdialog (baru sekedar mengamati bodyguard barunya Ah Meng). Nah, menjelang dua episode terakhir jatah scene Feng Xiao Xiao bisa hampir utama seperti Ah Meng, yang tahu-tahu Lin Yi terlibat penyelamatan salah seorang anak partner bisnis Chu Peng Zhao setelah misinya dalam melindungi Ah Meng dinyataka usai. Bahkan dicerita terakhirnya Ah Meng, Xiao Shu, dan Tang Yun--cewek yang diceritain mulai dicemburuin Ah Meng karena dekat dengan Lin Yi, Dan point of view berganti jadi Xiao Xiao dan Han Bin. Sebenarnya, menurutku pribadi, begitu permasalahan Han Bin yang ditonjolin diakhir sih gak jadi pertanyaan besar karena dari awal tokoh Han Bin udah di-set minta diselesaikan oleh Lin Yi. Tapii, gak buat Xiao Xiao yang langsung muncul dengan penyakit dan mulai dekat akhir umur (honestly, aku jadi gak paham sama ceritanya di-empat episode terakhir). Begitu pun diepisode terakhir ditutup dengan Han Bin yang ditangkap dan akan coba direcovery, kemudian....... End. :o

Oh iya. Ngomong-ngomong Tang Yun. Dia ini mahasiswi cantik, kelihatannya juga pinta, sayang keluarganya bukan dari yang berada. Biar begitu Tang Yun sukses bikin Ah Meng cemburu ketika Lin Yi mulai memperhatikan, bahkan membantunya dalam setiap kesulitan. Lin Yi juga yang meminta Ah Meng agar membantu ayah Tang Yun yang mendapat kecelakaan kerja diperusahaan terdahulunya untuk menjalani pengobatan diluar negeri. Ah Meng sadar Tang Yun berarti buat Lin Yi yang sudah banyak membantu dan mendewasakan pikirannya, Ah Meng pun meminta ayahnya untuk membantu Tang Yun dengan catatan ayah Tang Yun akan bekerja diperusahaan ayah Ah Meng begitu beliau sembuh. Tentu, Tang Yun sangat berterimakasih pada Ah Meng dan juga Lin Yi.

Hmm.. Postingan drama review kali ini kosong dulu ya untuk cuplikan-cuplikan fotonya. Akan segera disusulkan pada hari berikutnya. Sekaligus mengakhiri postingan review diatas karena aku sudah bingung mau nulis apa lagi *masih awkward banget dengan endingnya itu tuh -_-

"Saat kamu berusaha melindungi mati-matian orang yang kamu sayangi karena bukan hanya sekedar kewajiban tetapi karena kamu merasa itu adalah keharusan yang kamu lakukan untuk dia" - drama quote had taken from School Beauty's Personal Bodyguard's Lin Yi
.
.
.
P.S.: Nantikan Taiwanese drama review: Back to 1989 dan Swimming Battle :)

Ganxie ^^

November 8, 2016

Secret #2 (Baesd On True Story Fanfiction)

Klik ini untuk baca #Secret 1

**

Secret #2 

Akhir musim dingin 2013
Wang Shanghao, 
entah kenapa pada tahun itu aku kembali teringat akan namamu. Ya, nama yang seharusnya sudah lama punah sejak kamu memutuskan keluar negeri demi cita-citamu--well, setidaknya itulah yang terakhir kudengar dari Xinling Jie. Apa kau ingat pula nama itu? Dia pernah menjadi teman dekatmu, bahkan kalian pun berteman dimedia sosial. Apa perlu kusebut media sosial yang mana? Namun, biarlah kamu mereka-rekanya sendiri dulu. 
*
Hari itu tanggal 25 Februari 2013. Pada siang hari memasuki akhir musim dingin yang tetap pada suhu terendah ada panggilan masuk dalam handphoneku. Seseorang menghubungiku namun nomornya tak kukenal. Aku tidak memiliki feeling apapun saat itu. Aku pun belum tahu akan terjadi pembicaraan yang seperti apa. Kuingat-ingat sebentar, barangkali aku pernah mendaftar untuk parttime disebuah toko. Sekitar bulan lalu aku pernah mencoba mengirimkan draft tulisanku (aku berharap dapat menjadi novel secepatnya) untuk suatu pendaftaran short course writing class. Shanghao Ge, kau harus tahu sebenarnya dunia inilah yang selalu kucari. Tentang ilmu kepenulisan yang terus kucari dan ingin kupelajari hingga kini. Panggilan tadi mengabarkan akan pengumuman itu. Aku--Chen Yanxi yang kualitas menulisku rasanya masih dibawah rata-rata saat itu terpilih masuk dalam short course writing class. Kira-kira jika kau ada diposisiku saat itu, bisakah kau membayangkan cerita apa yang kau kirimkan kemarin? 

Musim semi  2013
Aku tidak ingat hari apa itu. Sebentar, kucek kalender elektronik.. 
Hari itu jatuh pada Hari Jumat. Merupakan pertemuan pertama kelas menulis. Sejujurnya pada hari pertama tidak kupersiapkan dengan maksimal karena aku masih sedikit tidak percaya dengan durian runtuh itu. Berawal ketika aku semua hanya ingin menulis cerita sederhana dengan membayangkan teman-teman terdekatku menjadi imajinatif karakter yang kuciptakan. Paragraf pertama cerita itu kutulis pertama kali saat pergantian tahun 2012 menuju tahun 2013. Kalau dihitung hingga kini, tahun 2016, harusnya tulisan itu sudah berumur tiga tahun dan masih saja seperti itu karena rasa pasang surut perasaanku kepadamu. Tapi aku semakin berusaha menuntaskan tulisan itu. Biar pada suatu saat kau dan Wu Dongyan tahu adanya cerita yang tercipta dibalik pertemuan-pertemuan dengan kalian pada tahun itu. 

Tahun ini aku rasa keberuntungan mampir dihidupku, selain aku beruntung dipertemukan (meskipun dipisahkan lagi) dengan seorang bernama Wang Shanghao. Tahun 2013 merupakan tahunku bertemu dengan teman-teman calon pengarang sukses dengan bukunya. Tidak pernah terpikirkan aku akan mengenal mereka, bahkan sempat berjuang bersama--jalanku sedikit lebih tertatih dibandingkan mereka: Wei Man, Lai Dongxuan, Chen Yingyan, Lai Huiru, Zhong Nanzheng, Cao Xiyue, Ye Qianyu. Bisa kukatakan, tepatnya kita saling menjadi saksi lahirnya tokoh-tokoh fiksi yang baru
Bukan hanya dapat teman baru, aku  harusnya menyebutnya wo de xin jiejie gege, tapi aku dapat banyak ilmu kepenulisan yang berharga sekali. Kau tahu, seperti emas yang kudapatkan, aku tidak ingin menyia-nyiakan setiap kelas waktu itu. Kalau kau lihat sewaktu itu, kau boleh menganggap aku bodoh karena aku sempat menelantarkan salah satu tugas kuliahku demi cita-cita menulis. Aku benar-benar dibutakan oleh itu. Aku pikir, aku harus tetap dan tetap menulis apapun yang terjadi. Waktu itu kuliahku menginjak semester kelima dan harusnya aku bisa memfokuskan diri belajar pada mata kuliah penting yang akan kubawa saat tugas akhir pada semester depan. 
Shanghao Ge, seandainya kamu tahu semua itu karena ada dirimu dalam naskah ceritaku. Dirimu yang kusamarkan dengan nama Inggris, Romeo. Sebenarnya bukan nama Romeo yang muncul terlebih dulu, melainkan nama Steve yang kemudian kuubah menjadi Charly--kau tahu siapakah yang menginspirasi tokoh Charly? Ya, dia adalah Wu Dong Yan, orang yang sempat kusukai pada masa awal kuliah.
Sesungguhnya kejadian diawal hingga pertengahan 2013 tidak bisa kulupakan ketika lahirnya tokoh Romeo dalam writing class short course dimana aku berusaha mati-matian tidak mau merusak tokoh itu karena ada seseorang istimewa dibaliknya. 
Sekarang aku berharap kita bertiga: Chen Yanxi, Wang Shanghao, dan Wu Dongyan bisa saling bertemu kembali. Mungkin saja suatu saat kita berkesempatan menjadi klien bagi perusahaan masing-masing. 

Wang Shanghao yang Chen Yanxi rindukan, tolong doakan agar cerita itu cepat selesai dan aku  bisa segera persembahkan untukmu. 

To be continue #3

November 1, 2016

[FANFICTION] Secret #1 (Based On True Story)

Secret #1

Hari itu tanggal 29 Mei 2012. Kalau aku tidak salah mengingat, hari itu adalah Selasa. Hari itu aku memulai hari pertamaku mengikuti kursus bahasa asing diinstitusi itu. Ya, di institusi itu yang telah mempertemukan aku dan kau—orang yang selama ini kusebut “kakak imajiner-ku”. Sejak saat itu entah kenapa bayangmu masih selalu hidup dalam benakku meskipun aku berulang kali mencoba membunuhnya.
Oh iya, kalau kau tidak bisa mengingat saat itu, kini biarlah aku yang kembali membuka memori itu. Aku tidak berharap setelah ini kamu kembali untukku. Bukan itu. Aku hanya ingin bilang, waktu itu aku bertemu seseorang yang telah membelokkan pikiranku sehingga aku bisa melihat dunia ini lebih luas lagi. Tapi, kalau setelah kau baca ini, kamu ingin menemuiku, aku masih bisa kamu temui disana. Ditempat kita pertama kali bertemu untuk belajar bareng.

Hari itu jam enam sore, sudah lewat sepuluh menit—jarum panjang diangka dua lebih sedikit, pintu kelas diketuk dari luar. Beberapa saat pengajar kelas waktu itu menyuruh orang yang masih diluar pintu untuk masuk.
Ni zhidao ma?
Saat kau pertama melangkahkan kaki kananmu memasuki kusen pintu terbuka, sejak saat itulah aku mulai terhipnotis. Hingga kini kalau memikirkan alasanmu itu bisa selalu membuatku terpukau bahkan bayang-bayangmu tidak mudah dilupakan, aku sendiri tidak tahu jawabannya namun satu yang pasti, sejak langkahmu dari pintu kelas hingga kamu memilih satu kursi kosong disebelahku—tepat disebelahku, aku menyukai dirimu. Mungkin juga karena waktu itu ada dua kursi tersisa dan kau datang bersamaan dengan temanmu, jika kalian sudah berteman tingkat sebelum ini, mungkin.
Seperti kelas-kelas pertemuan pertama lainnya. Selalu diawali dengan perkenalan. Sebelum kamu datang, beberapa teman sudah melakukan perkenalan, termasuk aku. Jadi, aku tidak akan heran jika kamu tidak semudah itu mengingatku. Karena kamu sempat terlewatkan momen perkenalanku.
Aku, Chen Yanxi, gadis yang ditahun itu mengambil posisi disebelah kiri kursimu, Wang Shanghao. Begitulah kamu memperkenalkan dirimu. Namamu Wang Shanghao. Saat itu kau berada ditingkat tiga perkuliahan, sedangkan aku masih satu tingkat dibawahmu. Bedanya kau belajar di universitas negeri terfavorit, sementara aku berada di universitas swasta yang katanya masih terbaik dan terfavorit juga versi kampus-kampus PTS. It was really nice to meet you, Shanghao Ge.
Ni bu zhidao?
Hari-hari kebersamaan kita—aku senang menyebutnya dengan kata kebersamaan, membuat aku ingat kembali memiliki semangat mengejar apa yang kumau. Aku menikmati setiap permainan kecil yang dirancang oleh dua tutor kita dikelas. Hanya saat itu aku bisa puas melihatmu meskipun kita berdua berada pada arah berseberangan. Terkadang aku melakukan hal bodoh dan aku tidak bisa memikirkan lagi hal itu sekarang karena terlalu konyol kalau diingat hari ini. Aku tidak bisa menahan rasa grogiku dan mengacaukan segalanya ketika kita berdua dijadikan dalam satu grup kecil pada suatu hari. Dan, apa yang kamu lakukan? Kau hanya tertawa kecil atau mungkin kamu sebenarnya menahan tawa gelak melihat tingkah bodohku kala itu. Entahlah. Aku sudah tidak memperhatikan diri sendiri, aku sibuk menahan malu didepanmu pada waktu itu.
Ah, Shanghao Ge. Seandainya kamu tahu, saat aku menuliskan ini, wajahku sedikit memerah lagi. Aku teringat dirimu kembali.
Kamu ingat? Seharusnya kita bisa bersama dikelas itu selama satu bulan penuh, kan? Kalau bukan karena kamu memutuskan meninggalkan kursus itu karena alasan yang aku belum mengerti. Yang aku tahu saat itu, perasaanku hilang seperti aku kehilangan semangat belajarku ditempat itu.
*
Jiejiemen, hari ini apa ada yang izin ya?” Dulu aku pernah secara tidak langsung menanyakan tentang keberadaanmu kepada hampir seluruh teman-teman kita. Aku hanya ingin tahu saja apa yang kamu lakukan diluar sana, melalui teman-teman kita usai aku menghitung jumlah peserta yang hadir saat menjelang ujian akhir.
“Hmm…” mereka berpikir sejenak sembari saling memperhatikan teman-teman lainnya. Ada aku disitu dan aku ikut mengawasi pandangan mereka—tiga teman perempuan sekelas kita. Ingat Wang Xinling, Yang Chenglin, dan Wang Leiyan? Terserah kalau kamu nggak ingat.
“Wang Shanghao. Tapi sepertinya ada lagi yang lain, cuma memang dari kelas tidak aktif hadir. Cuma Shang Hao yang aktif sampai kehadiran terakhirnya kemarin.” Ujar Xinling Jie menjawab.
“Kehadiran terakhir? Berarti dia nggak ikut ujian ini atau mungkin susulan nanti ya?” Tanyaku dengan nada yang sengaja kubuat ringan seolah aku tidak ingin teman-teman tahu kalau sangat ingin tahu lebih tentangmu.
Wo bu zhidao.” Itu yang terucap dari Leiyan Jie seraya melanjutkan membaca modul pembelajaran. Aku tidak mau menganggu konsentrasi ujianku dengan hal-hal tentangmu. Aku takut semua itu akan menghancurkan mood ujianku. Aku mencoba melalaikan yang kuingin ketahui tentang kemanakah gerangan dirimu.
Hao la, suan le ba.
*
Kupikir sejak pertemuan pertama kita diwaktu musim panas itu. Aku tidak bisa berhenti membayangkanmu. Aku masih sangat ingin tahu kemanakah dirimu berlalu. Kenapa kau bisa secepat itu menghilang dari sekitarku? Aku ingin tahu kenapa Tuhan benar menjadikan pepatah “dipertemukan untuk dipisahkan” sungguh nyata buatku? Aku bukannya merindu. Aku hanya ingin tahu saja.
“Chen Yanxi.. kamu mikir apa?” Tanya Qiu Zixie, teman baikku semasa kuliah. Kita dekat sejak awal masa perkuliahan dan hingga kini—kita sudah lulus kuliah pun masih tetap berhubungan baik. “Wah, kamu segitu terpesona-nya dengan dia ya..” Qiu Zixie menyenggolku ditangga kampus.
Oh, aku baru tersadar. Ketika Wu Dongyan—orang yang sempat kutaksir lewat dihadapan kita.

Shanghao Ge, biar kuceritakan sedikit tentang Wu Dongyan yang bayangannya langsung lenyap seketika aku memikirkanmu. Dahulu sekali, bermula dia mirip dengan seseorang yang kukenal baik ketika disekolah menengah karena itu aku mulai memperhatikan Dongyan dan mencari tahu tentang dia. Hingga kutahu dia bukanlah orang lama itu, aku masih tidak bisa melepaskan pandanganku dari dia. Hanya dari dan untuk dia. Dan hanya Zixie mengetahui isi hatiku pada Dongyan. Tentu saja aku tidak berbohong pada Zixie saat itu. Aku bilang kalau aku tidak melihat Dongyan lewat depanku. Kau tahu? Terhitung sejak musim panas 2012, seluruh perhatianku sudah tidak lagi pada Wu Dongyan. Memori kepalaku lebih sering terisi oleh bayanganmu.

Shanghao Ge, seandainya kamu baca tulisan ini, aku hanya ingin bilang: ini adalah awal, pembuka dari semua ceritaku tentang kamu. Tidak ada lagi Wu Dongyan maupun Zhao Zhiwei—siapa-lah nama terakhir yang kusebut itu. 


To Be Continued to Secret #2

Other post from this blog

Kepoin Pemain Bulutangkis: Ruselli Hartawan

Dajia hao! Kali ini aku datang kembali dengan membawa hasil kepo setelah menjelajahi dunia maya, karena sudah lama aku nggak memb...